Kisah Masinis Erlan, Belasan Tahun Tak Lebaran demi Pemudik

Serba-serbi Warga

Kisah Masinis Erlan, Belasan Tahun Tak Lebaran demi Pemudik

Wisma Putra - detikJabar
Sabtu, 21 Mar 2026 17:00 WIB
Erlan, masinis kereta.
Erlan, masinis kereta. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Namanya Erlan Wimawan. Pria berusia 49 tahun yang lahir dan besar di Jakarta ini memiliki kisah pengabdian penuh haru yang jarang dirasakan orang lain. Sebagai masinis, ia harus merelakan momen Lebaran tanpa keluarga di sisi.

Bukan setahun atau dua tahun ia melewatkan Lebaran tanpa keluarga, melainkan sudah belasan tahun. Hal itu ia lakoni demi mengantar ribuan pemudik sampai ke kampung halaman dengan selamat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

detikJabar berkesempatan berbincang dengan Erlan. Meski lahir dan besar di Jakarta, kedua orang tuanya merupakan keturunan Sunda asal Subang dan Garut.

Erlan menjadi karyawan PT KAI sejak 1996 dan kariernya sebagai masinis dimulai pada 2003. Namun, sebelum mengemban tanggung jawab sebagai masinis, Erlan bekerja sebagai pegawai sarana di Dipo Lokomotif Jatinegara, Jakarta.

ADVERTISEMENT

Erlan mengaku tidak pernah berencana menjadi masinis sejak awal bergabung dengan PT KAI.

"Itu saya juga nggak tahu. Tiba-tiba saya langsung jadi masinis. Padahal niat saya ngelamar itu nggak ada kepikiran buat jadi masinis. Ternyata formasi saya itu untuk jadi masinis. Udah, saya lanjut jalanin aja," kata Erlan kepada detikJabar belum lama ini.

Meski demikian, ada proses panjang sebelum ia resmi menjadi masinis, salah satunya dengan bertugas sebagai asisten masinis.

"Sampai sekarang masih menjadi masinis," ujarnya.

Erlan, masinis kereta.Erlan, masinis kereta. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)

Kepada detikJabar, Erlan mengisahkan pengalamannya yang setiap tahun harus berlebaran dengan penumpang. Bahkan, ia kerap termenung saat mendengar gema takbir berkumandang dari pengeras suara kereta api.

"Jadi kalau misalkan dalam perjalanan mudik lebaran ini kadang kalau kita lagi dinas terdengar sayup-sayup takbir gitu, saya langsung terenyuh gitu. Langsung ada rasa sedih gitu kan kita harus ngorbanin anak sama istri dulu gitu kan untuk pemudik yang memang mengantarkan pemudik terlebih dahulu untuk menuju ke kampung kalamannya. Memang ada perasaan yang sedih," ungkap Erlan.

Erlan menyebutkan, jauh sebelum berkarier di Daop 2 Bandung, ia pernah bertugas di Sumatra, sementara istri dan anaknya tinggal di Cianjur.

"Lebaran sama keluarga nggak dan kalau saya mudik untuk lebaran ke orang tua saya jadi nggak bisa nginep gitu, PP dan kembali lagi besoknya. Datang pagi, pergi lagi malam. Kadang datang pagi, pergi lagi pagi, karena besoknya harus dinas lagi," ujarnya.

Erlan merupakan masinis dengan rute kereta Bandung-Jakarta dan Jakarta-Cirebon. Meski tidak berlebaran dengan keluarga, ia tetap menjalin silaturahmi dengan para penumpang, salah satunya melalui tradisi bersalam-salaman di stasiun.

Melepas Rindu Melalui Video Call

Untuk mengobati rasa rindu kepada anak, istri, orang tua, maupun saudara, Erlan memanfaatkan layanan video call melalui ponselnya. Hal itu dilakukan untuk sedikit mengobati rasa rindu yang membuncah.

"Belum ketemu sama orang tua, belum sama keluarga, video call pakai HP, kurang sih tapi mengobati sedikit rasa rindu," ucapnya.

Saat disinggung apakah anak dan istrinya pernah protes, Erlan menyebut hal itu tidak pernah terjadi karena mereka sudah sangat mengerti profesinya.

"Waktu itu saya sebelum menikah itu udah jadi masinis kalau memang jadi istri masinis itu untuk siap untuk tinggal-tinggal seperti itu dan istri saya udah siap dengan segala kepedihan, keprihatinannya saya jelaskan, jadi Alhamdulillah istri saya mengerti, mengerti dengan keadaan," jelasnya.

"Anak juga dikasih pengertian, selain itu juga istri suka memberikan penjelasan ke anak," tambahnya.

(wip/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads