Farhan Ungkap Penyebab Kematian Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo

Farhan Ungkap Penyebab Kematian Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo

Rifat Alhamidi - detikJabar
Rabu, 25 Mar 2026 16:20 WIB
Anak harimau di Bandung Zoo, Senin (22/9/2025)
Anak harimau di Bandung Zoo. Foto: Bima Bagaskara/detikJabar
Bandung -

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkap penyebab kematian Hara, anak harimau yang mati di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo. Menurutnya, hewan tersebut mati karena terkena virus yang dibawa oleh induknya.

Ditemui di Terminal Leuwipanjang, Farhan memastikan sudah mendapat laporan soal kematian Hara di Bandung Zoo. Ternyata, Hara maupun saudaranya, Huru, mengalami virus sejak keduanya lahir pada 12 April 2025.

"Jadi begini, induknya menjadi carrier virus. Ini virus khas keluarga kucing besar, keduanya sudah terinfeksi sejak lahir. Yang satu tidak terselamatkan, yang satu sedang kita upayakan," katanya, Rabu (25/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Huru dan Hara saat ini diketahui berusia 8 bulan. Keduanya lahir dari pasangan induk Shah Rukh Khan (22 tahun) dan Jelita (4,5 tahun).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan informasi yang Farhan peroleh, virus yang menyerang Hara bernama panleukopenia. Virus itu kata dia memang kerap diderita kucing besar, termasuk indukannya, Jelita.

"Penyakit ini disebabkan oleh feline panleukopenia virus dan dapat menyebabkan penurunan sel darah putih. Virus ini memang khas pada kucing besar dan sulit diselamatkan jika sudah terinfeksi. Induknya sudah kebal, tetapi anaknya lemah. Detailnya akan saya tinjau langsung, kemungkinan hari Jumat," tuturnya.

Hingga pukul 14.19 WIB, Farhan memastikan kondisi saudara Hara, Huru, anak yang sempat terkena virus itu kini sudah membaik. Diarenya sudah tidak ada, dan perlahan sudah bisa mengkonsumsi pakan.

"Kondisi terbaru pukul 14.19 WIB, kondisi membaik dibanding kemarin. Diare sudah tidak ada, tidak muntah, dan lebih aktif. Pengobatan terus dilakukan secara intensif, meliputi antibiotik, antiemetik, larutan rehidrasi oral, suplemen imun, dan antivirus," ungkapnya.

"Menurut dokter, yang berjumlah lima orang dalam satu tim, hewan tersebut telah melewati fase kritis 72 jam. Biasanya setelah itu kondisi akan terus membaik, dengan pemantauan intensif. Makan sudah mulai masuk dengan bantuan keeper, dan secara bertahap ditingkatkan," tuturnya.

Sementara itu, setelah kejadian ini, Farhan menyatakan harus ada evaluasi supaya insiden tersebut tidak lagi terulang.

"Ini menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah pusat, provinsi, maupun kota. Kami memastikan hal ini tidak mengganggu kesejahteraan hewan lain," tuturnya.

Saat ini, Farhan memastikan telah memerintah sejumlah petugas bersiaga di Bandung Zoo. Ia mengaku prihatin dengan kejadian tersebut dan berharap tidak terulang kembali di masa mendatang.

"Semua informasi terpantau, tidak ada yang ditelantarkan. Saya sudah mengecek ke beberapa taman marga satwa, virus ini memang salah satu yang paling perlu diwaspadai jika ada kucing besar di kebun binatang. Saya sangat prihatin dan sedih, tetapi ini harus menjadi perhatian agar tidak terulang," pungkasnya.

(ral/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads