Libur Lebaran 1447 Hijriah tak hanya menghadirkan suasana kebersamaan, tetapi juga menyisakan persoalan lingkungan di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung. Di berbagai titik, tumpukan sampah terlihat menggunung dan mengganggu kenyamanan warga, bahkan menimbulkan bau tidak sedap.
Berdasarkan pantauan detikJabar pada Kamis (26/3/2026), penumpukan sampah tampak di sejumlah ruas jalan utama. Di antaranya Jalan Raya Gading Tutuka, Jalan Cipeer di Desa Cingcin, Soreang, hingga Jalan Lingkar Baru Sadu. Kondisi serupa juga terlihat di Jalan Raya Kopo-Soreang, Katapang, serta Jalan Raya Banjaran.
Tumpukan sampah tersebut didominasi limbah rumah tangga, seperti plastik, styrofoam, batok kelapa, kulit jeruk, sisa sayuran, potongan buah, hingga bekas makanan cepat saji. Selain merusak pemandangan, bau yang ditimbulkan pun cukup menyengat dan mengganggu aktivitas warga yang melintas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy, menjelaskan bahwa sebagian besar tumpukan tersebut berasal dari tempat pembuangan sampah (TPS) liar. Pihaknya sebenarnya telah berupaya memasang spanduk imbauan agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.
"Tapi spanduk-spanduk itu lenyap. Tapi meski begitu, sesuai arahan Pak Bupati, selain yang reguler, kami turut mengangkut sampah dari TPS liar," ujar Wahid saat dikonfirmasi.
Meski pengangkutan dilakukan setiap hari, Wahid mengakui jumlah petugas tidak sebanding dengan banyaknya oknum yang masih membuang sampah sembarangan.
"Iya sebenarnya kami terus mengedukasi, juga mengangkut setiap hari. Namun, petugas kami (DLH) kalah banyak ketimbang oknum yang membuang sampah ke titik itu," katanya.
Ia menjelaskan, dalam sehari satu unit kendaraan pengangkut mampu mengangkut sekitar 4 hingga 6 ton sampah. Namun, keberadaan TPS liar membuat tumpukan sampah kembali muncul dalam waktu singkat, bahkan hanya dalam hitungan jam setelah dibersihkan.
"Tumpukan sampah di TPS liar timbul tak sampai satu hari setelah pengangkutan, hitungan jam saja. Jadi gini lah gambarannya, petugas mengangkut saat pagi, ada lagi tumpukan sampah di titik sama ketika siang," jelasnya.
Menurut Wahid, penanganan persoalan ini tidak bisa hanya mengandalkan DLH. Diperlukan keterlibatan lintas sektor, termasuk Satpol PP dan aparatur kewilayahan, untuk melakukan pengawasan dan penegakan aturan.
"Kami berharap, Satpol PP dan aparatur kewilayahan ikut memonitor, bahkan memberlakukan penegakan aturan bagi pihak yang membuang sampah ke TPS liar, seperti pinggir jalan," ucapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa volume sampah meningkat signifikan selama Ramadan hingga libur Lebaran. Aktivitas masyarakat seperti berburu takjil, buka puasa bersama, hingga wisata saat libur panjang menjadi faktor utama meningkatnya timbulan sampah.
"Iya kalau situasi setelah lebaran kondisinya luar biasa. Misalnya kan masyarakat berlomba-lomba mencari takjil, dan buka puasa bersama selama Ramadan. Timbulan sampah pun meningkat. Saat periode libur dan cuti bersama, warga berwisata, juga meningkatkan timbulan sampah," bebernya.
Peningkatan tersebut diperkirakan mencapai 30 hingga 40 persen per hari di wilayah Bandung Raya.
Untuk mengatasi lonjakan ini, pihaknya berharap adanya kebijakan tambahan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait kuota pengangkutan sampah ke TPPAS Regional Sementara Sarimukti.
"Kan kuota reguler pengangkutan sampah dari Kabupaten Bandung ke TPPAS Sarimukti, 280,37 ton per hari. Kami, juga daerah-daerah lain di Bandung Raya berharap, Pemprov memberi toleransi penambahan kuota pengangkutan sampah ke TPPAS Sarimukti selepas Lebaran ini," pungkasnya.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak hanya bergantung pada sistem pengangkutan, tetapi juga pada kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan tetap bersih, terutama di momen-momen dengan aktivitas tinggi seperti libur Lebaran.
(dir/dir)
