Jejak Kejayaan Bioskop Dian di Bandung yang Kini Tinggal Kenangan

Jejak Kejayaan Bioskop Dian di Bandung yang Kini Tinggal Kenangan

Gheyna Sabila Z - detikJabar
Sabtu, 28 Mar 2026 14:00 WIB
Gedung eks Bioskop Dian di Bandung.
Gedung eks Bioskop Dian di Bandung. (Foto: Gheyna Sabila S/detikJabar)
Bandung -

Di tengah keramaian kawasan Alun-alun Kota Bandung, tepatnya di Jalan Dalem Kaum, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak panjang sejarah hiburan Kota Kembang. Bangunan itu adalah Bioskop Dian.

Gedung itu tampak tak berubah sejak pertama kali berdiri, seolah bergeming di tengah deru modernisasi kota. Tak banyak orang yang lalu-lalang menyadari bahwa bangunan tersebut pernah menjadi salah satu pusat hiburan paling ramai di Bandung pada masanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jejak sejarah bioskop ini bermula pada era kolonial Hindia Belanda saat gedung tersebut dikenal dengan nama Radiocity. Dibangun pada medio 1930-an, bioskop ini menjadi simbol hiburan modern yang berkembang pesat di Bandung kala itu.

Namun, pada masa awal, tempat ini lebih banyak dikunjungi oleh kalangan Belanda dan elite kolonial. Setelah Indonesia merdeka, gedung bioskop tersebut mengalami perubahan status. Pada dekade 1960-an, Radiocity dinasionalisasi dan kemudian berganti nama menjadi Bioskop Dian.

ADVERTISEMENT

Pergantian nama ini juga menandai perubahan akses hiburan bagi masyarakat. Jika sebelumnya hanya dinikmati kalangan tertentu, setelah nasionalisasi, masyarakat luas mulai dapat menikmati tayangan film di tempat ini.

Memasuki era 1970-an hingga 1990-an, Bioskop Dian menjadi salah satu bioskop paling populer di Bandung. Lokasinya yang strategis di pusat kota membuatnya mudah dijangkau dari berbagai penjuru. Berbagai genre film diputar di sini, mulai dari film Indonesia, film Barat, hingga film India yang kala itu memiliki basis penggemar fanatik.

Kenangan tentang masa kejayaan Bioskop Dian masih terekam jelas di ingatan sebagian warga Bandung. Rina (50), salah seorang warga, mengaku sudah mengenal bioskop tersebut sejak kecil. Ia kerap menghabiskan waktu menonton film bersama teman maupun keluarganya.

"Dari dulu suka nonton. Dari jaman kecil malah dulu nonton film India, nonton film-film Indonesia," ujarnya.

Bagi Rina, pengalaman menonton di Bioskop Dian bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari interaksi sosial pada masa itu. Ia bahkan teringat momen saat datang bersama rombongan sekolah ketika masih duduk di bangku SMP.

"Waktu SMP tuh malah dari sekolah kita satu sekolah nonton di Bioskop Dian. Waktu itu nonton film G30S/PKI," katanya mengenang.

Menurutnya, suasana bioskop pada masa itu selalu riuh karena belum banyak pilihan tempat menonton di Bandung. Antrean penonton yang mengular menjadi pemandangan lazim setiap kali film populer diputar.

"Rame banget karena belum banyak bioskop waktu itu," katanya.

Rina memperkirakan masa keemasan Bioskop Dian terjadi pada era 1980-an hingga awal 1990-an. Pada periode tersebut, gedung ini menjadi magnet bagi penonton dari berbagai lapisan masyarakat.

"Tahun 80-an sampai awal 90-an masih ramai karena belum banyak saingan. Semua film ditayangin di situ, dari film Indonesia, film India, sampai film Barat," ucapnya.

Selain film yang diputar, arsitektur Bioskop Dian juga menjadi daya tarik tersendiri. Gaya bangunan kolonial yang khas membuatnya terlihat mencolok dibandingkan bioskop-bioskop baru yang muncul kemudian.

"Bangunannya itu dari dulu memang khas banget. Kayak bangunan zaman Belanda. Dari saya kecil sampai SMA juga nggak banyak berubah," kata Rina.

Namun, kejayaan tersebut perlahan memudar seiring perubahan zaman. Memasuki akhir 1990-an, bioskop modern mulai menjamur di berbagai sudut Bandung. Kehadiran bioskop dengan banyak studio dan pilihan film yang variatif dalam satu waktu membuat Bioskop Dian mulai kehilangan taringnya.

"Mulainya semenjak di Bandung banyak bioskop yang lebih modern. Satu bioskop bisa menayangkan beberapa film sekaligus dalam jam yang sama karena studionya banyak," ujar Rina.

Sementara itu, Bioskop Dian hanya memiliki layar tunggal sehingga tidak mampu menawarkan variasi film sebanyak bioskop modern. Kondisi tersebut membuat jumlah penonton merosot tajam hingga akhirnya aktivitas pemutaran film resmi berhenti.

Kini, bangunan Bioskop Dian masih berdiri kokoh di pusat kota, meski tak lagi dipenuhi antrean penonton. Bentuk fisiknya tak berubah, namun atmosfernya kini jauh berbeda. Kesunyian yang menyelimuti gedung ini menjadi kontras dengan memori kejayaan yang pernah hidup di dalamnya.

Meski telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah daerah, kondisi gedung tersebut saat ini terlihat kurang terawat. Bagi Rina, keberadaan Bioskop Dian seharusnya tetap dijaga karena merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perfilman di Bandung.

"Ya pastinya itu kan salah satu bagian dari sejarah perfilman Indonesia juga. Saya sih berharap ada upaya untuk menghidupkan kembali, entah dijadikan kegiatan budaya atau kegiatan perfilman," katanya.

Ia berharap ada kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta untuk merevitalisasi bangunan tersebut agar tidak sekadar menjadi peninggalan sejarah yang terbengkalai. Menurutnya, Bioskop Dian dapat menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal sejarah hiburan di kota mereka.

"Supaya anak-anak muda terutama Gen Z itu tahu kalau di Bandung itu dulu ada bioskop yang bersejarah. Jadi bukan cuma sekadar bangunan tua, tapi ada ceritanya," ujarnya.

Kini, di tengah transformasi wajah kota dan menjamurnya pusat hiburan modern, Bioskop Dian berdiri sebagai pengingat tentang masa ketika layar lebar menjadi jendela utama bagi warga Bandung untuk melihat dunia.

Di balik dindingnya yang mulai menua, gedung itu tetap menyimpan memori tentang riuh rendah antrean tiket, sorak-sorai penonton, dan fragmen sejarah sebuah bioskop yang pernah menjadi jantung kehidupan kota.

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads