Peristiwa memilukan menimpa Rosi Adiputra Firdaus (34). Pria tersebut meninggal dunia setelah mengikuti ajang lari lintas alam bertajuk Lebarun di kawasan Sentul City, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Sabtu (28/3/2026).
Lantas bagaimana kronologinya? Berikut rangkuman faktanya:
1. Diduga Alami Kelelahan
Korban tercatat sebagai warga Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Ia diduga mengalami kelelahan saat melintasi jalur perlombaan dengan medan yang terjal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapolsek Babakan Madang Kompol Trias Karso Yuliantoro menjelaskan, korban sempat terjatuh di KM 5, Kampung Gunung Pipisan, Desa Bojong Koneng. Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh rekan korban yang berupaya memberikan pertolongan pertama.
"Korban tiba-tiba berhenti lalu terjatuh. Dari mulutnya keluar busa dan napasnya terdengar seperti mendengkur. Saat itu langsung ditangani oleh rekan dan panitia sebelum dievakuasi ke rumah sakit," ujar Trias saat dikonfirmasi detikJabar, Senin (30/3/2026).
2. Kondisi Melemah Hingga Meninggal Dunia
Trias menyebutkan, kondisi korban sudah melemah saat dalam perjalanan menuju Rumah Sakit EMC Sentul City. Tim medis sempat memberikan penanganan darurat, namun nyawa korban tidak tertolong.
"Denyut nadinya terus menurun. Setelah mendapatkan penanganan medis, korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 10.30 WIB," kata dia.
3. Pihak Keluarga Tak Tempuh Proses Hukum
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter rumah sakit, Trias menyatakan korban meninggal akibat kelelahan saat mengikuti lomba. Pihak keluarga telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak menghendaki proses hukum lebih lanjut.
"Dari hasil pengecekan sementara, penyebabnya karena kelelahan. Keluarga juga sudah menerima ini sebagai takdir," ujarnya.
4. Lomba dengan Jarak 28,7 KM
Ajang Lebarun merupakan lomba lari lintas alam (trail run) dengan jarak tempuh sekitar 28,7 kilometer. Perlombaan dimulai sejak pukul 03.00 WIB dengan rute Sentul Nirwana - Desa Karang Tengah - Desa Bojong Koneng, dan berakhir di garis finis di Sentul Nirwana sekitar pukul 16.30 WIB.
Menanggapi kejadian ini, kepolisian mengingatkan pentingnya kesiapan fisik sebelum mengikuti kegiatan olahraga ekstrem. Trias menekankan bahwa aspek kesehatan harus menjadi perhatian utama bagi setiap peserta maupun pihak penyelenggara.
"Kami selalu mengimbau kepada peserta dan panitia, kesiapan kesehatan itu harus benar-benar diperhatikan. Jangan dipaksakan jika kondisi tidak memungkinkan," tegasnya.
5. Minta Ada Evaluasi
Sementara itu, pihak penyelenggara melalui akun resmi media sosial @sentulultra menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya salah satu peserta. Panitia menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan guna meningkatkan standar keselamatan di masa mendatang.
6. Kormi Bogor Harap Ada Evaluasi Total
Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Kabupaten Bogor, Rike Iskandar atau yang akrab disapa Akew, menegaskan bahwa trail run bukan sekadar olahraga rekreasi, melainkan kategori ekstrem yang memiliki risiko tinggi.
"Trail run itu termasuk extreme sport, jadi risikonya memang lebih tinggi dibanding olahraga lain," kata Akew dalam keterangan tertulis yang diterima detikJabar.
Ia menekankan bahwa setiap peserta wajib memiliki kesiapan menyeluruh sebelum terjun ke kegiatan tersebut. Kesiapan yang dimaksud tidak hanya soal fisik, tetapi juga mental serta pemahaman mendalam terhadap risiko yang mungkin dihadapi selama berlari di medan alam terbuka.
"Peserta harus benar-benar mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental. Semua faktor risiko harus dipahami sejak awal, jangan hanya ikut-ikutan," ujarnya.
Simak Video "Berlari Menantang Diri Sendiri di ZINC TRAIL RUN 2025"
[Gambas:Video 20detik]
(sya/mso)