Keterbatasan anggaran tak menyurutkan langkah Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk memulihkan kehidupan warga terdampak bencana pergerakan tanah di Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu.
Melalui konsep bernama "Lelang Kebaikan", Bupati Sukabumi Asep Japar yang akrab disapa Asjap itu berhasil menggalang bantuan kolektif untuk membangun hunian tetap (Huntap) di Kampung Mubarokah.
Dalam kegiatan peletakan batu pertama yang digelar di kompleks perkampungan baru yang dinamai Kampung Mubarokah untuk warga penyintas bencana pergerakan tanah Kampung Gempol, Rabu (1/4/2026), Bupati Asjap menegaskan bahwa pembangunan permukiman baru bagi warga eks Kampung Gempol ini merupakan wujud nyata kepedulian bersama antara pemerintah, aparat penegak hukum, hingga sektor swasta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inovasi 'Sedekah Rumah'
Bupati Sukabumi Asep Japar menjelaskan bahwa Kampung Mubarokah lahir dari semangat gotong royong yang ia istilahkan sebagai "sedekah rumah". Nama Kampung "Mubarokah" sendiri diambil dari visi-misi Kabupaten Sukabumi dengan harapan kampung ini membawa keberkahan bagi penghuninya.
"Barusan kita laksanakan peletakan batu pertama. Alhamdulillah ini berkat dukungan semua pihak, mulai dari Pak Kapolres, Pak Dandim, Pemda, hingga para pengusaha di Kabupaten Sukabumi. Ada yang menyumbang lima rumah, tiga, hingga satu rumah," ujar Bupati Asjap di lokasi kegiatan.
Konsep "Lelang Kebaikan" ini terbukti efektif menutupi kekurangan unit yang dibutuhkan secara instan. Bupati menceritakan bagaimana sisa unit yang belum dibiayai langsung ditawarkan kepada para donatur di lokasi.
"Seperti halnya perencanaan kita bangun 100 rumah, terkumpul 83, sisa 17. Nah, tadi di-lelang kebaikan dan alhamdulillah terkumpul dari orang-orang yang ingin istilahnya sedekah rumah. Harapannya konsep ini terus berkembang karena masih ada beberapa kampung lain yang butuh bantuan serupa," tambahnya.
"Meskipun begitu, kami juga pemerintah daerah tidak lepas tangan begitu saja. Contohnya di warga korban pergerakan tanah Kampung Gempol ada dari kami sebanyak 20 unit rumah. Sisanya itu kita genjot melalui lelang kebaikan melibatkan Forum CSR dari perusahaan yang berada di Kabupaten Sukabumi," beber Asjap.
Strategi "Lelang Kebaikan" ini ternyata tidak hanya di Cikadu. Bupati Asjap memberikan sinyal kuat bahwa model kolaborasi non-APBD ini juga mulai diterapkan di beberapa titik bencana lainnya di wilayah Kabupaten Sukabumi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
"Mudah-mudahan ini lah kita berkembang terus, bahkan kita juga masih ada beberapa kampung (di wilayah lain) yang perlu pemerintah bantu," tegas Bupati.
Hal ini dilakukan mengingat luasnya dampak bencana pergerakan tanah dan longsor yang tersebar di beberapa kecamatan di Sukabumi sepanjang dua tahun terakhir.
Senada dengan Bupati, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini sangat krusial mengingat skala bencana di Sukabumi yang masif sepanjang 2024-2025.
"Kebencanaan itu memang tanggung jawab pemerintah, tapi tidak selalu harus menjadi beban pemerintah sepenuhnya. Hasil validasi kami, ada sekitar 3.000 rumah yang harus diintervensi karena rusak parah atau hilang. Jika hanya mengandalkan dana pemerintah, tentu tidak akan cukup," jelas Sendi.
Sendi merinci, dari target awal 20 unit rumah di tahap pertama, komitmen bantuan kini sudah melesat mencapai 48 unit berkat skema CSR dan bantuan instansi vertikal (Forkopimda). Pihaknya pun optimistis permukiman baru di atas lahan seluas 3,5 hektare ini bisa segera ditempati.
"Besar kemungkinan ini akan selesai sekitar bulan September, bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi. Syarat lahan sudah clean and clear, tinggal percepatan pembangunan fisiknya saja," pungkas Sendi.
(iqk/iqk)