menempuh perjalanan panjang seorang diri demi pulang ke kampung halaman. Tanpa ongkos lanjutan dan dengan kondisi fisik yang rentan, harapannya nyaris terhenti di Stasiun Tasikmalaya hingga bantuan datang dari arah yang tak terduga.
Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tasikmalaya kembali menunjukkan respons cepat dalam membantu warga. Kali ini, mereka mengantarkan seorang perempuan hamil bernama Norita Lestari mudik ke rumahnya di wilayah Urug, Kecamatan Kawalu.
Norita diketahui tiba di Stasiun Tasikmalaya dari Yogyakarta tanpa memiliki biaya untuk melanjutkan perjalanan. Kondisi tersebut membuat sang suami menghubungi layanan darurat Damkar untuk meminta bantuan penjemputan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi laporan tersebut, petugas Damkar langsung bergerak menuju lokasi dan menjemput Norita di stasiun, sebelum akhirnya mengantarkannya pulang.
Koordinator Lapangan Damkar Kota Tasikmalaya, Hendrik Setiana, menjelaskan peristiwa itu terjadi pada Selasa (31/3/2026), bermula dari laporan yang masuk melalui call center Damkar.
"Yang menghubungi itu suaminya. Ia memberangkatkan istrinya dari Jawa, tapi ongkosnya hanya cukup untuk tiket kereta api sampai Stasiun Tasikmalaya. Lalu menghubungi call center kami dan langsung kami respons," ujar Hendrik, Rabu (1/4/2026).
Ia menambahkan, petugas kemudian mengantarkan Norita ke rumah ibunya di kawasan Urug, Kecamatan Kawalu.
Diketahui, Norita memaksakan diri pulang ke Tasikmalaya meski tidak memiliki cukup biaya, setelah mendapat kabar ibunya sedang sakit.
Norita tak kuasa menahan kekhawatiran akan kondisi ibunya, terlebih ia juga menanggung rindu karena sudah dua tahun tidak pulang kampung.
"Ibunya sedang sakit, menurut informasi sudah lama tidak bertemu, sekitar dua tahun," kata Hendrik.
Dengan keterbatasan yang ada, Norita akhirnya memutuskan pulang sendiri dari Yogyakarta ke Tasikmalaya menggunakan kereta api.
Sang suami sempat menghubungi saudara dan kerabat Norita di Tasikmalaya untuk meminta bantuan penjemputan di stasiun. Namun, tidak ada yang dapat membantu dan sebagian tidak bisa dihubungi. Hingga akhirnya, Damkar menjadi satu-satunya harapan.
"Akhirnya suaminya memberanikan diri meminta bantuan ke kami, dan Alhamdulillah bisa kami bantu sampai tujuan dengan selamat, kami gunakan mobil operasional," kata Hendrik.
Setibanya di rumah sederhana orang tuanya di Kawalu, Norita tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Senyum haru mengembang di wajahnya, seolah menjadi penutup perjalanan panjang yang penuh kecemasan.
"Tentu kami ikut gembira melihat senyum ibu hamil itu. Sepanjang kami bisa, Insyaallah kami akan selalu siap untuk masyarakat Tasikmalaya," kata Hendrik.
(yum/yum)