Italia Gagal ke Piala Dunia, Proposal Roberto Baggio Kembali Disorot

Italia Gagal ke Piala Dunia, Proposal Roberto Baggio Kembali Disorot

Adhi Prasetya - detikJabar
Jumat, 03 Apr 2026 16:00 WIB
ZENICA, BOSNIA AND HERZEGOVINA - MARCH 31:  Players of Italy reacts at the end of the FIFA World Cup 2026 European Qualifiers KO play-offs  match between Bosnia & Herzegovina and Italy at Stadion Bilino Polje on March 31, 2026 in Zenica, Bosnia and Herzegovina. (Photo by Claudio Villa - FIGC/FIGC via Getty Images)
Timnas Italia. Foto: FIGC via Getty Images/Claudio Villa - FIGC
Jakarta -

Kegagalan Timnas Italia lolos ke tiga edisi terakhir Piala Dunia FIFA kembali memicu sorotan terhadap arah pembinaan sepak bola Negeri Pizza. Publik pun mengingat kembali gagasan reformasi yang pernah diajukan Roberto Baggio lebih dari satu dekade lalu.

Sekitar dua bulan setelah Italia, yang saat itu berstatus juara bertahan, tersingkir di fase grup Piala Dunia 2010, Federasi Sepak Bola Italia menunjuk Baggio sebagai kepala sektor teknis. Ia kemudian membentuk tim berisi 50 orang yang terdiri dari pelatih, peneliti, pakar, dan konsultan untuk mengkaji pembenahan sepak bola Italia.

Hasil kerja tim tersebut melahirkan laporan setebal 900 halaman yang dirilis pada Desember 2011. Laporan itu mengusulkan perombakan menyeluruh dalam sistem pembinaan pemain muda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baggio mendorong perubahan cara pandang dalam seleksi di level akademi. Ia menekankan pentingnya aspek teknis, penguasaan bola, pengambilan keputusan, dan inteligensia permainan, bukan semata fisik. Ia juga meminta pelatih lebih fokus pada pengembangan teknik dibandingkan taktik.

ADVERTISEMENT

Selain itu, FIGC diminta meningkatkan kualitas pelatih usia muda dengan mewajibkan latar pendidikan yang baik, tidak hanya di bidang sepak bola. Baggio juga mengusulkan kolaborasi antara peneliti dari universitas dengan tim kepelatihan.

Dalam rencananya, Baggio menekankan pembangunan pusat latihan di 100 distrik berbeda di Italia. Setiap distrik akan diisi tiga pelatih dari FIGC guna meningkatkan jumlah pertandingan kelompok umur.

Ia juga menyoroti pentingnya sistem pendataan pemain muda yang rapi dan terstruktur. Dengan data yang lengkap, pemantauan bakat potensial dinilai akan lebih efektif.

Tak hanya aspek teknis, Baggio turut menekankan pendidikan moral, etika, dan tanggung jawab sosial. Ia ingin mencetak individu yang berkualitas, bukan sekadar atlet.

Namun, laporan tersebut tidak mendapat perhatian serius dari FIGC. Baggio akhirnya mengundurkan diri pada 2013 karena merasa gagasannya diabaikan.

"Saya bekerja untuk memperbarui tim dari nol, untuk menciptakan pemain-pemain dan orang-orang baik. Saya mempresentasikan proyek saya pada Desember 2011, setebal 900 halaman, dan itu tetap menjadi surat mati," ujar Baggio saat itu.

Gagasan tersebut kembali menjadi perbincangan setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Publik pun membandingkan hasil yang ada dengan potensi perubahan yang mungkin terjadi jika rekomendasi Baggio dijalankan.

Artikel ini telah tayang di detikSport. Baca selengkapnya di sini.

(adp/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads