Berbagai peristiwa terjadi di wilayah Sukabumi dan Cianjur dalam sepekan terakhir, beberapa diantaranya memantik perhatian pembaca setia detikJabar.
Mulai dari riuh soal jembatan gantung melintir hingga putusnya tali sling baja di Kabupaten Sukabumi, Maling di hajar massa hingga 2 Pemotor hanyut di jalur Puncak Cianjur.
Berikut ringkasan artikel yang dihimpun dalam Sukabumi - Cianjur Sepekan :
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Riuh Jembatan Gantung di Sukabumi
Kondisi jembatan gantung di Kabupaten Sukabumi jadi sorotan setelah dikeluhkan warga bahkan gegara minimnya perhatian, salah satu jembatan di wilayah Kecamatan Tegalbuleud putus, lima orang warga jadi korban.
Di Kecamatan Cibadak, jembatan yang menjadi akses utama warga ditemukan dengan kondisi memprihatinkan karena hanya bertumpu pada dua batang bambu darurat agar tidak ambruk sepenuhnya ke dasar sungai.
Pantauan di lokasi, jembatan yang menghubungkan Kampung Karang Lodaya Hilir dengan Kampung Kamandoran di Desa Karangtengah ini tampak compang-camping.
Rangka besinya sudah mengalami deformasi, membuat posisi alas jembatan tidak lagi rata. Dua batang bambu atau yang oleh warga setempat disebut "tunjel", dipasang menyangga bagian bawah jembatan yang paling miring.
Kondisi ini memaksa warga yang melintas, termasuk anak-anak sekolah dan petani, untuk bertaruh nyawa. Mereka harus berjalan ekstra hati-hati sambil berpegangan kuat pada sling baja agar tidak tergelincir.
Atin Supriatin (50), warga Kamandoran yang setiap hari melintasi jembatan tersebut, tak menampik rasa was-was yang menghantuinya. Meski nyawa menjadi taruhan, ia mengaku tidak punya pilihan karena jalur alternatif yang ada sangat jauh.
"Takut sih takut gitu, cuman gimana lagi gitu ya satu-satunya jalan ini gitu melintasnya," ujar Atin kepada detikJabar saat ditemui di lokasi, Selasa (31/3/2026).
Atin menjelaskan bahwa jika tidak lewat jembatan "melintir" ini, warga harus memutar melalui Jalan Lodaya.
"Ada sih ada (jalan lain), cuman jauh. Satu satu kilometer. Kalau mau pulang ke rumah gitu. Yang deket ya jembatan ini, umum ini," tambahnya.
Saking horornya kondisi jembatan tersebut, istri Atin bahkan tidak berani melintas dan memilih mengeluarkan biaya ekstra untuk transportasi lain.
"Iya (akses utama). Malahan istri saya juga kalau lewat jalan sini takut katanya. Jadi pesen ojek online kalau istri mah. Kalau saya sih, paksain aja di jalan sini. Walaupun ini kalinya besar ya Pak," ungkap Atin dengan nada pasrah.
Sementara itu di Kecamatan Tegalbuleud, sebuah jembatan gantung putus. Lima orang warga yang saat kejadian sedang melintas jatuh ke sungai yang saat itu dalam kondisi pasang. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Insiden ini terjadi saat jembatan tengah dipadati warga yang hendak menyalurkan hak suara dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) Pergantian Antar Waktu (PAW) Desa Sumberjaya.
Peristiwa mencekam tersebut terjadi sekitar pukul 07.00 WIB. Akibat tali jembatan yang putus secara tiba-tiba, tiga warga yang sedang melintas dilaporkan sempat terjatuh ke aliran sungai di bawahnya. Beruntung, informasi terakhir menyebutkan ketiga korban tersebut berhasil diselamatkan.
"Tadi jam 7 kurang pagi kejadiannya. Kan hari ini di Desa Sumberjaya ada pemilihan kepala desa, PAW itu. Kebanyakan korbannya itu mau ke desa, masyarakat yang di seberang mau ikut hadir pemilihan," kata Hari, salah seorang warga saat dikonfirmasi detikJabar.
Selain warga yang hendak menuju lokasi pemilihan, jembatan ini juga merupakan akses vital bagi para pelajar tingkat SD hingga SMK.
Beberapa siswa dilaporkan sempat terjebak dan panik saat akses utama mereka terputus.
Saat ini, warga dan pelajar mulai dialihkan menggunakan jasa perahu untuk menyeberangi sungai agar aktivitas tidak lumpuh total.
2. Maling Motor Dihajar Massa Usai Gagal Gondol Motor Kurir
Aksi pencurian sepeda motor milik kurir paket di Kabupaten Sukabumi berujung apes bagi pelaku. Seorang pria berinisial AA (30) tertangkap basah oleh warga saat hendak membawa kabur motor curiannya.
Diketahui peristiwa itu terjadi tepatnya di Kampung Cigadog, Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jumat (3/4/2026). Dalam peristiwa itu, pelaku sempat diamuk massa.
AA diamankan warga sebelum akhirnya diserahkan ke jajaran Polsek Sukaraja, Polres Sukabumi Kota. Sementara satu pelaku lainnya berinisial S berhasil melarikan diri dan kini masih dalam pengejaran polisi.
Aksi curanmor tersebut dilakukan AA bersama rekannya, S. Keduanya diduga mencuri motor dengan cara merusak kunci kontak menggunakan kunci letter T sebelum mencoba kabur dari lokasi.
Aksi itu sempat menggegerkan warga sekitar. Kecurigaan warga muncul saat melihat gerak-gerik pelaku, hingga akhirnya dilakukan pengejaran dan AA berhasil diamankan. Sedangkan S lolos dari kepungan warga.
Kapolsek Sukaraja, Kompol Aguk Khusaini membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan pihaknya langsung menindaklanjuti laporan warga dengan mengamankan terduga pelaku berikut barang bukti.
"Benar, korban kurir paket. Kami telah mengamankan satu orang terduga pelaku curanmor berinisial AA yang sebelumnya diamankan warga. Saat ini yang bersangkutan sudah kami amankan di Polsek Sukaraja untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut," ujar Aguk.
Polisi saat ini masih memburu satu pelaku lainnya yang kabur. Pihak kepolisian juga mengimbau agar pelaku segera menyerahkan diri.
"Satu pelaku lainnya masih dalam pengejaran petugas. Kami mengimbau kepada yang bersangkutan untuk segera menyerahkan diri. Kami juga mengapresiasi peran aktif masyarakat, namun tetap kami ingatkan agar tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan," tambahnya.
3. Pemotor Hanyut - Tewas Usai Terperosok di Drainase Kawasan Puncak
Dua orang yang berboncengan sepeda motor terperosok dan hanyut terbawa arus deras saluran drainase di Jalan Raya Puncak, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Cianjur, Minggu (29/3/2026) petang. Tim gabungan diterjunkan untuk mencari korban yang saat ini hilang.
Informasi yang dihimpun detikJabar, sepeda motor berpelat nomor Bandung, yakni D 2613 KL tersebut melaju dari arah Cianjur menuju Puncak.
Sekitar pukul 17.07 WIB, pemotor tersebut berusaha menerjang banjir akibat luapan air saluran drainase. Namun, sepeda motor yang melaju di dekat saluran drainase itu justru terperosok.
Pengendara dan penumpang seketika jatuh ke dalam saluran drainase yang berarus deras dan meluap usai diguyur hujan deras.
"Sepeda motor beserta pengemudi dan penumpang terperosok ke saluran drainase. Kemudian hanyut terbawa arus deras," ujar Kapolsek Pacet AKP Amir Said, Minggu (29/3/2026).
Belakang dua korban yang diketahui merupakan suami istri ditemukan dalam kondisi meninggal dunia usai hanyut sejauh puluhan kilometer.
Informasi yang dihimpun detikJabar, korban bernama Tubagus Suharyana (57) ditemukan pada Minggu (29/3/2026) malam. Jasadnya ditemukan tersangkut di aliran sungai di Desa Majalaya, Kecamatan Cikalongkulon.
Drainase tanpa penutup renggut korban jiwa di Puncak Cianjur. Foto: Ikbal Selamet |
"Untuk korban laki-laki, ditemukan tadi malam sekitar pukul 20.30. Namun saat itu kami perlu lakukan identifikasi terlebih dulu untuk memastikannya. Setelah tim inafis melakukan identifikasi, terkonfirmasi jika itu merupakan pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan tunggal terseret luapan air drainase Cipandawa," ujar Kapolres Cianjur AKBP A Alexander Yurikho Hadi, Senin (30/3/2026).
4. Lansia ditemukan Tewas di Kontrakan
Suara teriakan 'Allahu Akbar' sempat memecah keheningan Selasa (31/3/2026) siang di sebuah rumah kontrakan di wilayah Kelurahan Jayaraksa, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi. Tak lama setelah itu, seorang pria lanjut usia ditemukan dalam kondisi terlungkup dan tak bernyawa.
Korban diketahui bernama Rully P Ahmadsyah (68), warga Jakarta Selatan yang selama bertahun-tahun ini tinggal seorang diri di kontrakan tersebut. Ketua RW 03 Kelurahan Jayaraksa, Yusuf Sopian mengatakan, warga sebelumnya sempat mendengar kondisi korban yang sedang sakit.
"Informasi dari tetangga, tadi malam korban mengeluh sakit dan sempat minta tolong dibelikan obat. Warga akhirnya membantu membelikan obat," kata Yusuf saat ditemui detikJabar di lokasi.
Menurut Yusuf, korban dikenal sebagai pribadi tertutup dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Bahkan, selama tinggal di sana, ia tidak pernah terbuka soal identitas keluarga.
"Dia hidup sebatang kara di sini. Tidak pernah cerita soal keluarga, anak, atau saudara. Bahkan saat diminta KTP oleh RT juga tidak diberikan," ujarnya.
Menjelang siang, sekitar pukul 12.00 WIB, warga kembali mendengar suara dari dalam kontrakan korban. Namun, karena hubungan yang tidak terlalu dekat, warga tidak berani masuk.
"Sekitar jam 12 siang ada suara seperti orang kesakitan. Lalu terdengar teriakan 'Allahu Akbar'. Tidak lama kemudian, warga coba buka pintu kamarnya dan melihat korban sudah dalam posisi terlungkup," ungkap Yusuf.
(sya/dir)

