Diberi Rp100 Ribu, Preman Minta Lagi Rp500 Ribu hingga Pemilik Hajatan Tewas

Diberi Rp100 Ribu, Preman Minta Lagi Rp500 Ribu hingga Pemilik Hajatan Tewas

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 05 Apr 2026 15:46 WIB
Lokasi pemilik hajatan tewas dikeroyok preman di Purwakarta
Lokasi pemilik hajatan tewas dikeroyok preman di Purwakarta (Foto: Dian Frimansyah/detikJabar)
Purwakarta -

Preman yang diduga mengeroyok Dadang, pemilik hajatan di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, sempat diberi uang Rp100 ribu. Namun, mereka kembali datang dan meminta Rp500 ribu, yang kemudian ditolak korban hingga berujung pengeroyokan maut.

Pesta pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia itu pun berubah menjadi tragedi berdarah. Dadang tewas setelah diduga dikeroyok sekelompok pemuda yang dikenal sebagai preman kampung.

Peristiwa ini dipicu permintaan uang dari kelompok tersebut kepada pihak keluarga. Berdasarkan keterangan keluarga, pelaku sempat meminta uang dalam dua tahap dengan nominal berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adik korban, Wahyudin, mengungkapkan bahwa kelompok tersebut pertama kali datang ke acara resepsi dan meminta uang sebesar Rp100 ribu, yang kemudian diberikan oleh pihak keluarga.

"Saya itu dimintai uang, istilahnya dipalak. Pertama dikasih Rp100 ribu," ujar Wahyudin saat ditemui di Mapolres Purwakarta, Sabtu (4/4/2026) malam.

ADVERTISEMENT

Namun, sekitar satu jam kemudian, kelompok yang sama kembali datang dan meminta uang dengan nominal lebih besar, yakni Rp500 ribu. Permintaan kedua ini ditolak oleh korban.

"Yang kedua minta Rp500 ribu, kakak saya menolak," katanya.

Penolakan tersebut memicu keributan. Korban sempat keluar dari tenda resepsi, dan di luar lokasi acara terjadi aksi pengeroyokan.

"Setelah tidak dikasih, terjadi keributan. Kakak saya dikeroyok tiga orang, saya juga sempat dikeroyok sekitar delapan orang," ungkap Wahyudin.

Momen saat warga mengevakuasi korban yang tak sadarkan diri usai dikeroyok preman kampung di PurwakartaMomen saat warga mengevakuasi korban yang tak sadarkan diri usai dikeroyok preman kampung di Purwakarta Foto: Istimewa

Akibat pengeroyokan tersebut, korban terjatuh dan tidak sadarkan diri. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.

Peristiwa tragis itu juga terekam dalam video amatir yang beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, korban terlihat ambruk, sementara suasana pesta berubah menjadi kepanikan. Istri dan anak korban dilaporkan pingsan di lokasi kejadian.

Pantauan di Mapolres Purwakarta, anak korban yang masih mengenakan kebaya resepsi tampak menunggu proses pemeriksaan sambil menahan kesedihan.

Sementara itu, pihak kepolisian membenarkan adanya peristiwa penganiayaan yang berujung kematian tersebut.

Kasi Humas Polres Purwakarta, AKP Enjang Sukandi, mengatakan kejadian bermula dari keributan di lokasi hajatan.

"Diduga ada sekelompok orang yang membuat keributan di acara hajatan, kemudian berujung pada pemukulan hingga korban tidak sadarkan diri," ujar Enjang.

Ia menyebutkan, Satreskrim Polres Purwakarta masih melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

"Diduga pelaku lebih dari dua orang. Saat ini masih dalam pengembangan. Kami berharap dalam waktu dekat para pelaku bisa diamankan," katanya.

Dari hasil olah TKP awal, polisi menemukan barang bukti berupa belahan bambu yang diduga digunakan untuk menganiaya korban, terutama pada bagian kepala.

"Korban dipukul menggunakan belahan bambu di bagian kepala hingga tidak sadarkan diri. Untuk penyebab pasti kematian, masih menunggu hasil autopsi," tambahnya.

Hingga Sabtu malam sekitar pukul 22.30 WIB, jenazah korban masih berada di kamar jenazah RSUD Bayu Asih Purwakarta untuk proses visum dan rencana autopsi.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads