Jembatan Cirahong viral di media sosial dengan dugaan praktik pungutan liar (pungli) terhadap pengendara yang melintasi Jembatan Cirahong. Kondisi ini menjadi perdebatan di masyarakat. Ada yang setuju penjaga di Jembatan ditiadakan. Namun juga yang berharap masih ada yang menjaga di Jembatan.
Menurut mereka, keberadaan penjaga diperlukan, karena kondisi Jembatan Cirahong yang dinilai rawan. Sebagian pengendara yang biasa melintas pun tak keberatan memberikan uang receh kepada penjaga secara sukarela sebagai ucapan terima kasih.
Warga setempat Abdul Haris yang juga penjaga di Jembatan Cirahong membantah jika ada praktik dugaan pungutan liar di Jembatan Cirahong ini. Ia menyebut hanya menjaga keamanan dan keselamatan di jembatan Cirahong. Ada pun yang memberi uang receh, itu sifatnya sukarela tanpa adanya paksaan darinya serta rekan-rekan lainnya yang berjaga di Jembatan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya ini bukan pungli, ini hanya sekedar sukarela, tidak ada paksaan sama sekali. Kalau tidak ada yang memberi kami juga tidak memaksanya dan tetap masih bisa lewat," katanya, Senin (6/4/2026).
Pengendara sepeda motor melintas di jalur alternatif selatan terowongan jembatan Cirahong yang menghubungkan Ciamis dengan Kabupaten Tasikmalaya di Jawa Barat, Senin (16/3/2026). Jembatan bertingkat yang memiliki jalur kereta api di bagian atas dan jalur sepeda motor di bagian bawah tersebut menjadi salah satu jalur alternatif selatan Ciamis-Tasikmalaya yang dimanfaatkan pemudik pada arus mudik Lebaran 2026 karena memangkas waktu tempuh satu sampai dua jam perjalanan dibandingkan melalui jalur utama. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym. Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S |
Haris menambahkan, dirinya menjadi penjaga atau pengatur jalur di Jembatan Cirahong ini sudah sekitar 30 tahun yang lalu. Selama itu juga, tidak ada pengendara yang komplain karena memberi uang, pasalnya ia tidak memaksanya.
"Sudah 30 tahun saya jaga mengatur jalur di Jembatan ini, tapi baru kali ini ada kejadian viral. Padahal kita juga tidak memaksanya," pungkasnya.
Penjaga di Jembatan Cirahong ini tidak hanya menjaga lalu lintas, namun juga lebih dari itu.
Warga Pawindan, Ahmad Himawan, menilai keberadaan penjaga di Jembatan Cirahong tetap dibutuhkan. Pemasangan alat pengatur lalu lintas yang direncanakan, menurutnya tidak akan menyelesaikan masalah.
"Saya kira itu tidak menyelesaikan masalah dan bukan itu yang apa yang dibutuhkan karena penjaga pintu jembatan Cirahong itu menjaga keamanan secara umum, bukan hanya mengatur lalu lintas namun juga menjaga dari tindakan kejahatan yang sangat rawan terjadi karena sangat sepi," ujar pria yang biasa disapa Mas Ahim.
Kerap Jadi Lokasi Bunuh Diri
Menurut Ahim, Jembatan Cirahong kerap dijadikan lokasi untuk bunuh diri. Kejadian orang bunuh diri di Jembatan Cirahong bukan hanya sekali dua kali. Menurut catatan detikJabar, kejadian orang diduga bunuh diri terjadi dua kali dalam setahun yakni pada 29 Agustus 2021 dan 5 Oktober 2021.
"Yang tidak kalah penting dan sering viral adalah tempat ini sering digunakan menjadi lokasi favorit untuk bunuh diri. Penjaga-penjaga di pintu Cirahong ini biasanya cepat mengambil langkah untuk mencegah tindakan bunuh diri. Hampir setiap tahun ada saja yang melakukan bunuh diri yang tidak bisa dicegah, tapi banyak juga yang ketahuan seperti ketika jalan ke tengah jembatan akan melompat, ada yang diingatkan, ada yang diselamatkan, dan lain-lain sebagainya," jelasnya.
Menurutnya, yang lebih penting dari sekedar mengatur lalu lintas adalah menjaga keamanan pada umumnya. "Rawan sekali lokasi di sini semakin sepi tanpa penjaga berbahaya juga Jembatan Cirahong," pungkasnya.
(yum/yum)

