Kasus bocah 12 tahun asal Tasikmalaya yang digigit ular weling hingga membutuhkan puluhan vial antivenom mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat bergerak cepat.
Fokus kini tak hanya pada penanganan pasien, tetapi juga pada rencana belanja antivenom di tengah stok yang mulai menipis.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Vini Adiani Dewi menyebut pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran khusus untuk pengadaan antibisa ular. Sebab kata dia, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi memberi perhatian pada kasus tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena memang pak gubernur konsen terhadap masalah ini dan memang anggaran sudah disiapkan untuk membeli antivenom ini," ujar Vini, Kamis (9/4/2026).
Meski dana sudah tersedia, tantangan utama saat ini justru terletak pada ketersediaan produksi. Pemprov Jabar telah berkoordinasi dengan Bio Farma untuk memastikan pasokan antivenom.
"Hanya Bio Farma belum memproduksi dan ini kemarin sudah audiensi dengan Pak Gubernur dan mereka berjanji untuk meningkatkan pembuatan antibisa ular ini," kata Vini.
"Pak Gubernur sudah menyiapkan anggarannya dan kita akan kordinasi lagi dengan biofarma soal kesiapan dari pengadaan antibisa ini," lanjutnya.
Harga antivenom yang tinggi juga menjadi pertimbangan dalam proses pengadaan. Dalam hal ini, Pemprov Jabar berencana membeli antivenom polineuropati yang diperuntukkan bagi bisa ular yang menyerang sistem saraf manusia
"Harganya lumayan mahal ya satu vial itu sekitar Rp2,8 juta," ungkapnya.
Jumlah antivenom yang akan dibeli belum ditentukan secara pasti. Vini menyebut pemerintah akan menyesuaikan dengan kemampuan produksi dan kebutuhan di lapangan.
"Tergantung kesiapan biofarma, kalau kami memang ada anggaran untuk obat-obatan dan semaksimal mungkin kita siapkan," ujarnya.
Sejak tahun lalu, Pemprov Jabar sebenarnya sudah mulai mengantisipasi kebutuhan antibisa ular dengan menyediakan berbagai jenis antivenom.
"Bahkan sejak tahun kemarin selain membeli yang bioSAVE untuk semua jenis ular, kalau pertama kali disuntikkan itu bioSAVE, nanti misal dia menyerang saraf disuntik yang (jenis) lain, jadi banyak macamnya," jelas Vini.
Di luar pengadaan, pemerintah juga menyiapkan langkah preventif melalui edukasi kepada masyarakat terkait penanganan awal gigitan ular, salah satunya dengan menggelar webinar yang menghadirkan ahli soal bisa ular dan cara penanganannya.
"Makanya kita akan menggelar webinar supaya masyarakat paham penanganan awalnya seperti apa ini yang akan disosialisasikan," kata Vini.
(bba/dir)
