Dedi Mulyadi Jelaskan Alasan Penataan Plaza Gedung Sate-Gasibu

Dedi Mulyadi Jelaskan Alasan Penataan Plaza Gedung Sate-Gasibu

Bima Bagaskara - detikJabar
Rabu, 15 Apr 2026 14:31 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendatangi Gedung Merah Putih KPK di Jakarta, Kamis (11/12/2025). Ia melakukan koordinasi dan supervisi terkait penyelamatan aset negara, normalisasi sungai, dan pengawasan tata ruang.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (Foto: Ari Saputra/BeritaKlik).
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya angkat bicara soal rencana penataan kawasan Gedung Sate yang akan diintegrasikan dengan Lapangan Gasibu, termasuk perubahan fungsi Jalan Diponegoro.

Dedi menegaskan, konsep penataan tersebut bertujuan memperbaiki akses sekaligus mengatasi persoalan kemacetan yang kerap terjadi saat ada aktivitas besar di kawasan tersebut, termasuk aksi unjuk rasa.

"Pertanyaannya, kenapa harus dipisahkan?" Tujuannya agar akses halaman Gedung Sate-nya terbangun dengan baik. Saya begini deh, bayangin, bagaimanapun era demokratisasi melahirkan demonstrasi," ujar Dedi, Rabu (15/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Dedi, selama ini penutupan Jalan Diponegoro saat aksi demonstrasi menjadi salah satu penyebab kemacetan parah di Kota Bandung.

ADVERTISEMENT

"Nah, setiap terjadi unjuk rasa itu Jalan Diponegoro ditutup. Akhirnya terjadi kemacetan di Kota Bandung yang parah," katanya.

Ia memastikan, ke depan kondisi tersebut tidak akan terulang karena skema jalan akan diubah tanpa mengganggu aktivitas di halaman Gedung Sate.

"Sehingga nanti ke depan tidak akan pernah itu terjadi, karena Jalan Diponegoro-nya tetap terbuka, tidak akan terganggu oleh berbagai kegiatan di halaman Gedung Sate," tegasnya.

Jalan Dibuat Melingkar, Bukan Ditutup Total

Dedi menjelaskan, konsep yang diterapkan bukan menutup jalan sepenuhnya, melainkan mengubah pola lalu lintas menjadi melingkar di sekitar kawasan.

"Bukan (ditutup), jalannya melingkar. Jadi kan itu Gedung Sate ini Jalan Diponegoro. Nanti muter ke depan Pullman, belok kanan. Nanti sebagian Gasibu digunakan untuk jembatan di ujungnya, jadi lebih baik," ungkapnya.

Dengan konsep ini, aktivitas masyarakat tidak terganggu meski terjadi aksi unjuk rasa. "Ya boleh, unjuk rasa kan boleh, tapi tidak mengganggu lalu lintas," ujarnya.

Terkait kekhawatiran perubahan elemen bersejarah di kawasan tersebut seperti batu prasasti yang kini terpajang di tengah halaman Gedung Sate, Dedi memastikan tidak ada pemindahan.

"Prasasti tidak berubah, tidak ada masalah. Prasasti tidak akan digeserkan, tetap di situ. Pokoknya batu prasasti tetap di situ," katanya.

Dedi menekankan, inti dari penataan ini adalah memperluas ruang terbuka dan menyatukan kawasan Gedung Sate dengan Gasibu agar lebih representatif.

"Yang ada adalah penataan, halamannya jauh lebih bagus, sehingga nanti tinggi halaman Gasibu itu sama dengan tinggi halaman Gedung Sate," ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak salah memahami istilah yang digunakan dalam proyek ini. Sebab menurutnya, banyak yang menganggap Plaza Gedung Sate adalah mendirikan bangunan baru.

"Jangan nyebut plaza, masyarakat enggak ngerti. Karena selama ini ketika ngomong plaza dianggapnya bangunan. Halamannya nanti terbuka lebih luas, lebih lebar, dan Gasibu tidak menjadi halaman Pullman. Hari ini kan Gasibu kesannya menjadi halaman Pullman, bukan halaman Gedung Sate," pungkas Dedi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video " Video: Bus-bus Pendemo Sekat Akses ke Flyover Pasupati"
[Gambas:Video 20detik]
(bba/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads