Keberanian Agus Satpam yang Berakhir Duka di Sungai Cibanjaran

Round-up

Keberanian Agus Satpam yang Berakhir Duka di Sungai Cibanjaran

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 17 Apr 2026 10:30 WIB
Kondisi TKP jatuhnya GL di sungai Cibanjaran, Kampung Girang Deket, Desa Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Kamis (16/4/2026).
Kondisi TKP jatuhnya GL di sungai Cibanjaran, Kampung Girang Deket, Desa Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Kamis (16/4/2026). (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Bandung -

Aksi keberanian seorang petugas keamanan di SMAN 1 Banjaran, Kabupaten Bandung, berakhir tragis. Agus Sutisna (52) ditemukan meninggal dunia setelah berusaha menyelamatkan seorang remaja yang hanyut di Sungai Cibanjaran.

Peristiwa bermula saat debit air sungai meningkat tajam akibat hujan deras pada Rabu (16/4/2026). Agus, yang saat itu tengah bertugas, sempat melaporkan kondisi sungai kepada pihak sekolah melalui pesan WhatsApp. Video yang ia kirim memperlihatkan air sungai yang mulai meluap dan mengancam permukiman sekitar.

Kepala SMAN 1 Banjaran, Iwan Kurniawan, mengatakan dirinya langsung menuju lokasi setelah menerima laporan tersebut karena jarak antara sekolah dan sungai cukup berdekatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah saya ada kegiatan di luar sekolah, saya langsung datang ke sekolah untuk mengecek kondisi aliran sungai itu. Nah, ketika saya keluar kelihatan memang air sudah mulai naik," ujar Iwan, Kamis (16/4/2026).

Tak lama berselang, teriakan warga meminta tolong terdengar dari arah sungai. Seorang siswi perempuan berinisial GL (18) diketahui hanyut terbawa arus deras. Situasi panik pun tak terhindarkan.

ADVERTISEMENT

"Yang saya lihat itu tiga lah, empat begitu, yang kelihatan, tapi ternyata kenyataannya itu ada lima. Kejadiannya karena yang pertama itu anak yang namanya Gina, yang tinggal di seberang itu. Kena banjir," katanya.

Melihat kondisi tersebut, Agus tidak tinggal diam. Ia menunjukkan kegelisahan dan niat kuat untuk menolong korban. Meski sempat diperingatkan, Agus tetap nekat melompat ke sungai.

"Pas beliau mau nolong, lompat nolong, kata saya, 'Jangan dulu.' Kita cari dulu alat pelampung atau ban lah atau ikat tali agar apa, agar kalau pakai pelampung kan kita bisa aman. Nah, sementara teman-temannya yang lagi cari ke belakang, tahu-tahu beliau sudah ada di bawah, dan beliau meloncat," jelas Iwan.

"Malah saya sempat ngelarang, 'Gus, jangan,' padahal suara saya keras, karena suara gemuruh itu, air masih tinggi. Ngerinya Pak Agus ini loncat, ya, dan saya lihat beliau begitu berusaha mengejar (korban) GL," tambahnya.

Agus sempat mendekati korban dan mencoba meraih tubuhnya. Namun, derasnya arus sungai membuat keduanya terseret hingga ke hilir.

Upaya pencarian langsung dilakukan oleh warga dan tim gabungan. Proses pencarian berlangsung hingga malam hari dan dilanjutkan keesokan paginya.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Diki Sudrajat, menjelaskan Agus ditemukan setelah pencarian panjang menyusuri aliran sungai sejauh tiga kilometer.

"Di depan SMAN, Pak Agus meloncat sekitar pukul 5 sore (kemarin) dan baru ditemukan tadi siang jam 10.26 WIB di Kampung Badra, Desa Tarajusari, Kecamatan Banjaran, dalam kondisi telungkup," ujar Diki.

"Jadi pencarian Pak Agus itu dari kemarin malam kita sisir sampai jam 10.00 malam dan dilanjutkan tadi jam 07.30 pagi. Alhamdulillah ditemukan di Kampung Badra, RW 9, Desa Tarajusari, sekitar pukul 10-an," katanya.

Jenazah Agus ditemukan tersangkut di area tanggul dengan kondisi telungkup.

"Tersangkut di tanggul tersebut ikat pinggangnya, ikat pinggang belakang, nyangkut sehingga tertahan di sana," kata Diki.

Proses pencarian sempat terkendala derasnya arus sungai serta banyaknya bambu dan akar yang menghalangi.

"Kendala untuk yang malam hari proses pencarian korban Pak Agus ini, pertama arus masih deras, tinggi, serta banyaknya bambu, pohon bambu, atau akar bambu yang menghalangi proses pencarian," jelasnya.

Setelah ditemukan, jenazah Agus langsung dibawa ke Rumah Sakit Bedas Arjasari sebelum dipulangkan ke rumah duka. Karena kondisi rumah yang sempit, jenazah kemudian dibawa ke rumah keluarga di Desa Banjaran.

Almarhum Agus kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Baros, Kecamatan Arjasari, setelah terlebih dahulu disalatkan di SMAN 1 Banjaran.

"Untuk almarhum Pak Agus ini direncanakan akan dimakamkan di Pemakaman Desa Baros, Kecamatan Arjasari," pungkas Diki.

(bba/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads