Hamparan hijau di kawasan Gunung Hejo dan Gunung Anaga, Kabupaten Purwakarta, menjadi saksi bagaimana 280 Perwira Siswa (Pasis) TNI Angkatan Darat ditempa, Kamis (16/4/2026). Di tengah udara pegunungan yang sejuk, latihan tak hanya berisi ketangkasan militer, tetapi juga menyatu dengan upaya membangun ketahanan pangan dan kemampuan komunikasi publik.
Para Pasis tampak bersiap di area terbuka yang dulunya merupakan lahan tidur. Kini, lahan itu telah berubah menjadi kawasan hijau produktif. Dengan seragam lapangan lengkap, mereka menjalani simulasi konferensi pers, sebuah skenario yang menempatkan mereka dalam berbagai peran, mulai dari Danramil, kepala daerah, hingga tokoh masyarakat.
Suasana latihan terasa berbeda. Bukan dentuman senjata atau teriakan komando yang mendominasi, melainkan ketegangan saat menjawab pertanyaan layaknya di hadapan awak media. Setiap kata ditimbang, setiap gestur diperhatikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Agustinus Purboyo, menegaskan bahwa pembentukan prajurit tidak bisa hanya bertumpu pada kekuatan fisik semata.
"Itu menjadi bukti bahwa kemampuan prajurit terus diasah dan ditingkatkan," ujarnya.
Menurutnya, latihan ini dirancang untuk membentuk prajurit yang utuh, memiliki integritas, kecerdasan, serta ketangguhan fisik. Lebih dari itu, mereka juga dituntut mampu memahami kebutuhan masyarakat, termasuk soal ketahanan pangan.
"Kalau kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, gizi baik, kesehatan terjaga, maka akan terbentuk ketahanan nasional yang kuat. Ini sejalan dengan konsep kebutuhan dasar manusia," katanya.
Di sela latihan, terlihat deretan tanaman buah yang tumbuh subur. Program agroforestri yang dikembangkan di kawasan ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara TNI dan masyarakat. Dari lahan yang sebelumnya tak terurus, kini berdiri kebun produktif dengan ribuan pohon.
Komisaris PT Buntara Kreasindo, Zakiyah Nahdi, menyebut keberhasilan ini tak lepas dari pendekatan yang melibatkan warga sekitar.
"Alhamdulillah masyarakat menyambut baik. Tidak ada resistensi karena semua dilakukan dengan pendekatan yang baik, didampingi Babinsa dan unsur TNI lainnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, lebih dari 13.000 pohon buah telah ditanam di lahan tersebut. Setiap klaster dikelola tenaga kerja lokal, menghadirkan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Di sisi lain, latihan komunikasi menjadi pengalaman baru bagi para Pasis. Salah satunya Denny Sopyan, yang merasakan pentingnya kemampuan berbicara di hadapan publik.
"Kami dilatih bagaimana menyampaikan informasi dengan baik kepada media, menghadapi pertanyaan positif maupun negatif, serta menjaga etika dan bahasa agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat," ujarnya.
Di era keterbukaan informasi, kemampuan tersebut menjadi krusial. Seorang prajurit tak hanya dituntut sigap di medan operasi, tetapi juga cermat dalam menyampaikan pesan kepada publik.
(dir/dir)