Nama Institut Teknologi Bandung (ITB) tengah menjadi sorotan publik setelah viralnya sebuah video penampilan mahasiswa yang membawakan lagu berjudul "Erika". Konten tersebut ramai diperbincangkan di media sosial karena dinilai mengandung lirik bernuansa tidak pantas dan menyinggung isu sensitif.
Peristiwa ini memicu berbagai reaksi dari masyarakat hingga mendorong pihak kampus dan organisasi mahasiswa terkait untuk memberikan klarifikasi serta permintaan maaf. Berikut sejumlah fakta yang perlu diketahui terkait viralnya lagu "Erika" tersebut.
1. Berasal dari Penampilan Mahasiswa ITB
Viralnya lagu "Erika" bermula dari beredarnya potongan video penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) yang merupakan bagian dari Himpunan Mahasiswa Tambang ITB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam video tersebut, sejumlah mahasiswa membawakan lagu "Erika" di sebuah acara. Namun, penampilan itu kemudian menuai kontroversi setelah liriknya dianggap mengandung unsur yang tidak sesuai dengan norma kesusilaan.
2. Lagu Dinilai Mengandung Unsur Pelecehan
Lagu "Erika" menjadi sorotan karena liriknya dinilai bernuansa asusila dan mengarah pada pelecehan terhadap perempuan. Hal inilah yang kemudian memicu kritik luas dari masyarakat, terutama di media sosial.
Konten tersebut dianggap tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung di lingkungan akademik.
3. Lagu Lama yang Kembali Viral
Meski baru ramai dibahas, lagu "Erika" sebenarnya bukan karya baru. Lagu ini diketahui sudah ada sejak era 1980-an.
Sementara itu, Orkes Semi Dangdut (OSD) sendiri telah berdiri sejak 1970-an sebagai bagian dari kegiatan mahasiswa di lingkungan ITB. Namun, kemunculan kembali lagu tersebut di era sekarang dinilai tidak lagi relevan dengan perkembangan norma sosial.
4. HMT-ITB Sampaikan Permintaan Maaf
Menanggapi polemik yang terjadi, pihak HMT-ITB segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.
"Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas beredarnya lagu yang menimbulkan keresahan publik. Kami sangat memahami dan menyadari sensitivitas isu ini dan menyampaikan keprihatinan serta empati kepada masyarakat, khususnya perempuan," tulis pernyataan resmi.
Mereka juga mengakui adanya kelalaian dalam menampilkan lagu tersebut di tengah perubahan norma sosial yang berkembang saat ini.
5. Diakui Tidak Mencerminkan Nilai Akademik
Dalam pernyataan resminya, HMT-ITB juga menegaskan bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak sejalan dengan nilai yang dijunjung tinggi di lingkungan kampus.
"Kami menyadari bahwa ini merupakan suatu kelalaian untuk tetap menampilkan lagu tersebut dengan perkembangan norma sosial dan kesusilaan di masyarakat dewasa ini."
"Kami dengan tegas mengakui bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung oleh lingkungan akademik dan organisasi kemahasiswaan. HMT-ITB dengan tegas menyatakan bahwa kami tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu atau kelompok manapun," sambung pernyataan tersebut.
6. Konten Lagu Erika Langsung Diturunkan
Sebagai langkah lanjutan, pihak kampus dan organisasi mahasiswa bergerak cepat untuk menindaklanjuti polemik tersebut dengan menurunkan konten terkait.
"Kami melakukan evaluasi internal secara komprehensif terhadap konten, pelaksanaan, serta pengawasan kegiatan atas lagu terkait dan lagu yang mengandung unsur serupa, serta meninjau kembali standar dan pedoman kegiatan organisasi agar selaras dengan nilai-nilai etika yang berkembang di lingkungan Kampus ITB dan dalam masyarakat," demikian pernyataan resmi HMT-ITB.
Langkah ini juga mencakup penghapusan video dan audio dari berbagai kanal resmi maupun akun yang terafiliasi.
7. ITB Perkuat Pembinaan dan Etika Mahasiswa
Secara terpisah, pihak kampus melalui Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Nurlaela Arief, menegaskan komitmen ITB dalam menjaga lingkungan akademik yang aman dan bermartabat.
"Menyikapi beredarnya konten yang menimbulkan keresahan publik, ITB memandang peristiwa ini sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya kampus yang menjunjung etika, penghormatan terhadap martabat manusia, serta pencegahan segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual verbal," ujarnya.
ITB juga akan meningkatkan pembinaan mahasiswa melalui kampanye etika, termasuk etika berpenampilan dan komunikasi, serta literasi media sosial agar mahasiswa lebih bijak dalam berperilaku di ruang publik.
Selain itu, kampus juga memperkuat peran Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan kasus serupa.
(tya/tya)