Menjaga Asa di Taman Kertawangunan Kuningan yang Terbengkalai

Menjaga Asa di Taman Kertawangunan Kuningan yang Terbengkalai

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Minggu, 19 Apr 2026 09:30 WIB
Kondisi Open Space Kertawangunan Kuningan
Kondisi Open Space Kertawangunan Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Di salah satu sudut Open Space Taman Kertawangunan yang sepi, seorang penjual minuman memilih bertahan. Namanya Rita (31). Sambil duduk di lapaknya, Rita bercerita bahwa ia sudah berjualan di Taman Kertawangunan sejak 4 tahun yang lalu.

Kala itu, Taman Kertawangunan masih menjadi salah satu taman yang ramai di Kuningan. Lokasinya strategis, dekat dengan terminal, fasilitas kesehatan, serta pusat pemerintahan, membuat taman ini jadi favorit warga untuk menghabiskan waktu luang.

Rita memaparkan, saat masih ramai, ada sekitar 50 pedagang di Taman Kertawangunan yang menjajakan berbagai macam makanan dan minuman. Tak hanya itu, di tengah taman juga terdapat persewaan mainan listrik yang menambah meriah suasana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah COVID juga awal-awalnya masih ramai. Pas saya awal-awal buka itu lumayan. Sampai mengajak teman-teman dagang di sini. Apalagi tempatnya strategis, dekat kantor-kantor dinas dan terminal. Sehari saya bisa dapat Rp300 ribu hingga Rp500 ribu," tutur Rita.

Namun itu dulu. Kini pesona Taman Kertawangunan sudah pudar. Area lapangan yang dulu dipenuhi lalu-lalang orang bermain kini berubah menjadi tempat tumbuhnya rumput liar. Menurut Rita, kondisi taman yang terbengkalai membuat banyak pedagang berhenti berjualan.

ADVERTISEMENT

"Ada 50 pedagang, termasuk mainan juga ada dulu mah. Ada sepeda listrik, kalau malam ada mainan lukisan. Tapi sekarang semenjak sepi, paling sisa 6 pedagang. Cuman yang di depan taman saja. Pendapatannya juga turun drastis, paling banyak sehari hanya dapat Rp150 ribu," tutur Rita.

Rita memperkirakan sepinya Taman Kertawangunan disebabkan karena banyaknya alun atau taman yang lebih bagus di Kuningan. Selain itu juga, taman Kertawangunan yang tidak terawat membuat orang enggan untuk singgah di taman Kertawangunan.

"Mungkin karena di sini dekat ke Taman Kota yang lebih bagus, jadi larinya ke Taman Kota. Terus sekarang kan di tiap alun-alun di desa ada taman juga. Orang pada larinya ke situ. Di tambah di sini, nggak orang yang bersihin rumputnya, gelap juga kalau malam. Jadi sepi," tutur Rita.

Sebagai pedagang yang tersisa, Rita melakukan berbagai upaya bersama suaminya agar bisa bertahan di Taman Kertawangunan. Mulai dari membersihkan taman secara mandiri, memasang lampu, hingga berjualan nasi kuning. Namun, berbagai cara tersebut belum mampu menarik banyak pembeli.

"Lampu tiang itu juga kami yang perbaiki. Kita kan kalau menyuruh orang harus pakai biaya. Jadi mandiri lagi, apa-apa sendiri. Bayangkan saja token listrik kita yang bayar tiap bulan. Ini juga kita bersihkan sebisanya. Kalau untuk rumput liar susah, kita tidak punya alatnya. Dulu juga sempat jualan nasi kuning sampai malam, cuma ya sepi banget. Jadi sudahlah, warkop saja," tutur Rita.

Meski sepi, Rita memilih tetap bertahan karena merasa tidak punya pilihan lain. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, Rita terpaksa tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Karena mencari kerja susah, jadi ya begini sajalah. Apalagi sekarang serba naik, plastik saja naik dua kali lipat. Makanya mau menaikkan harga juga susah karena kondisinya sepi. Apalagi sudah ada pelanggan, jadi ya ikuti saja, insyaallah nanti juga ada rezekinya," pungkas Rita.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads