Konferensi Asia-Afrika (KAA), atau yang dikenal secara internasional sebagai Konferensi Bandung merupakan peristiwa bersejarah yang berlangsung pada 18 hingga 24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung.
Pada perayaan ke-71 KAA, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan kebudayaan memiliki peran krusial sebagai binding power atau energi yang mampu menyatukan bangsa-bangsa di tengah ketegangan politik dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Budaya ini adalah soft power. Kalau militer itu adalah hard power, ya, kekuatan keras. Nah, budaya ini adalah kekuatan lunak. Jadi sebagai soft power bisa menjadi jembatan. Seringkali politik itu begitu menimbulkan konflik dan peperangan, tapi budaya itu bisa menjadi jembatan atau yang menyatukan," kata Fadli Zon di Bandung, Minggu (19/4/2026).
"Jadi budaya ini sebenarnya adalah binding power, kekuatan yang bisa menyatukan, ya, energi yang menyatukan. Apalagi budaya di Asia dan Afrika itu banyak kesamaannya. Meskipun berbeda-beda, tapi kesamaannya cukup banyak dan saya kira itu yang juga menjembatani kita dengan mereka, dengan Asia dan Afrika," tambahnya.
Dalam acara yang digelar di Hotel Savoy Homann, Fadli menyebutkan hotel tersebut merupakan tempat bersejarah yang menjadi salah satu lokasi menginap bagi para delegasi dan pemimpin dunia yang hadir kala itu. Menurutnya, Konferensi Asia Afrika dilaksanakan pada tanggal 18 hingga 24 April tahun 1955 dan dihadiri oleh 29 negara. Negara-negara yang hadir merupakan negara yang baru merdeka maupun yang masih berjuang meraih kemerdekaannya.
"Dalam enam hari mereka melaksanakan konferensi, juga melakukan diskusi-diskusi yang tajam, terutama bagaimana melahirkan satu prinsip-prinsip yang kemudian dikenal sebagai Dasasila Bandung atau Bandung Spirit. Tentang Hak Asasi Manusia, perdamaian, non-intervensi, dan lain-lain. Dengan dibagi ke dalam tiga komisi: politik, ekonomi, dan kebudayaan," ungkapnya.
"Jadi, Konferensi Asia Afrika ini adalah satu tonggak sejarah yang sangat besar dalam diplomasi kita, dan ini merupakan satu tonggak yang membuat nama Indonesia dan Bandung menjadi semacam ibu kota dari Asia dan Afrika, karena semangatnya menyebar ke seluruh dunia, dan kemudian menjadi bagian dari cikal bakal juga Gerakan Non-Blok pada tahun 1961. Jadi dari awalnya inisiator lima negara, kemudian menjadi banyak negara," sambungnya.
Dalam kegiatan tersebut, Fadli Zon juga meluncurkan buku yang berisi dokumentasi sejarah berupa koleksi foto langka miliknya yang kini telah dibukukan.
"Kita bisa melihat di foto-foto yang bisa berbicara dengan sendirinya, bagaimana keakraban para tokoh-tokoh, para pemimpin di dalam melawan kolonialisme, imperialisme, dan residu sisa-sisa imperialisme dan kolonialisme yang cukup panjang. Dan terutama yang diperjuangkan bukan hanya merdeka dari politik dan ekonomi, tapi juga dari sisi kebudayaan. Untuk mengembalikan kemerdekaan kedaulatan kebudayaan juga," tuturnya.
Menurut Fadli, buku itu merupakan bagian dari laporan komite atau panitia ketika itu yang bersumber dari berbagai fotografer mancanegara yang hadir.
"Tentu album ini bercerita tentang bagaimana mulai dari kedatangan para peserta, suasana sidang, bahkan suasana diskusi, sampai dengan acara-acara kebudayaan dan acara-acara lainnya. Yang setidaknya menggambarkan secara kronologis bagaimana peristiwa Konferensi Asia Afrika itu terjadi di Bandung ini. Nah, ini kita bukukan dan nanti juga akan bagaimana caranya kita nanti akan jadikan ini juga semacam public domain," pungkasnya.
(wip/sud)
