Istilah "Godzilla El Nino" belakangan ramai dibicarakan setelah disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait potensi kemarau panjang di Indonesia. Di balik nama yang terdengar 'seram' tersebut, tersimpan potensi dampak besar terhadap kondisi cuaca di berbagai wilayah.
Apa itu Godzilla El Nino, dan apa saja dampaknya terhadap cuaca dan kondisi lingkungan berbagai daerah di Indonesia? Simak ulasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana dilansir dari akun Instagram resmi BRIN, Senin (30/3/2026).
Apa Itu Godzilla El Nino?
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian ekuator. Dalam kondisi tertentu, kekuatannya bisa meningkat jauh di atas normal. Godzilla El Nino adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena El Nino yang terjadi dengan intensitas sangat kuat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini berdampak langsung pada pola cuaca global, termasuk di Indonesia. Ketika El Nino terjadi, pembentukan awan hujan lebih banyak terkonsentrasi di wilayah Samudra Pasifik. Akibatnya, wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan secara signifikan.
Kondisi ini kemudian diperparah dengan munculnya fenomena Indian Ocean Dipole atau IOD positif di Samudra Hindia. IOD positif ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatera dan Jawa, yang menyebabkan pembentukan awan hujan semakin berkurang di Indonesia.
Beberapa model iklim global bahkan memprediksi bahwa El Nino mulai terjadi sejak April 2026 dan akan diperkuat oleh IOD positif, sehingga dampaknya bisa terasa lebih besar dibandingkan kondisi normal.
Dampak Godzilla El Nino di Indonesia
Dampak utama dari fenomena Godzilla El Nino adalah perubahan musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering. Curah hujan yang berkurang membuat banyak wilayah di Indonesia mengalami kekeringan.
Selain itu, distribusi awan yang lebih banyak berada di Samudra Pasifik menyebabkan wilayah Indonesia kehilangan potensi hujan yang biasanya terjadi pada periode tertentu. Hal ini berdampak pada berbagai sektor, terutama pertanian dan ketersediaan air bersih.
Fenomena IOD positif juga memperparah kondisi tersebut. Pendinginan suhu laut di sekitar wilayah barat Indonesia membuat pembentukan awan semakin sulit terjadi. Akibatnya, intensitas hujan menurun lebih drastis.
Kapan Godzilla El Nino Terjadi?
Berdasarkan prediksi dari BRIN, fenomena El Nino dan IOD positif diperkirakan terjadi secara bersamaan selama musim kemarau di Indonesia. Periode ini berlangsung mulai April hingga Oktober 2026.
Dalam rentang waktu tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Kondisi ini perlu diantisipasi karena dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Data dari model prediksi musim yang dikembangkan BRIN menunjukkan bahwa dampak awal akan mulai terasa pada periode April hingga Juli 2026.
Wilayah yang lebih dulu mengalami kemarau kering adalah sebagian Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Daerah-daerah ini memang cenderung lebih rentan terhadap penurunan curah hujan, sehingga efek El Nino dan IOD positif bisa terasa lebih cepat.
Dampak Godzilla El Nino pada Lingkungan
Godzilla El Nino menyebabkan dampak yang berbeda di beberapa wilayah di Indonesia. Kondisi ini juga pernah terjadi pada peristiwa El Nino dan IOD positif pada tahun 2023. Beberapa perkiraan kondisi yang akan terjadi di antaranya :
1. Kekeringan
Beberapa dampak yang perlu diwaspadai antara lain kekeringan di wilayah selatan Indonesia yang dapat mengancam lumbung padi nasional. Dampak ini khususnya berpotensi mengancam wilayah Pantura Jawa.
2. Banjir dan Longsor
Wilayah timur laut Indonesia seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru berpotensi mengalami curah hujan tinggi meskipun sedang dalam musim kemarau. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir dan longsor.
3. Kebakaran Hutan
Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Meskipun beberapa daerah masih menerima hujan, suhu yang lebih panas dan kondisi lahan yang kering tetap memicu risiko karhutla.
"Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa. Selain itu, dampak karhutla di Kalimantan dan Sumatera juga harus dimitigasi," ungkap Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin dalam keterangannya di akun Instagram BRIN.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah segera menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan yang bisa berpotensi banjir dan longsor. Terutama di wilayah Sulawesi, Halmahera dan Maluku.
Demikian ulasan mengenai pengertian istilah Godzilla El Nino, potensi kemunculannya di Indonesia pada pertengahan tahun 2026, hingga dampak-dampak lingkungan yang dapat terjadi.
(tya/tey)