Heboh pemasangan spanduk imbauan untuk tuyul di Kampung Kebon Kembang RT 05 RW 05, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, mulai reda.
Pada Senin (20/4/2026) pagi, spanduk yang bertuliskan "Kepada pemilik tuyul untuk tidak beraksi di daerah kami. Perbuatan anda dosa besar, ingat juga sama istrimu tercinta," tersebut, sudah tak terlihat lagi.
Warga memutuskan melepas spanduk yang memancing kehebohan warga itu. "Sudah dicopot tadi pagi sekitar jam 08.00 WIB," kata Bu RT Teni, alias istri dari Ketua RT 05, Ade Dedi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teni menjelaskan tadi malam pihaknya dihubungi oleh Lurah, yang pada intinya meminta agar spanduk kontroversial itu dilepas.
"Semalam ada rapat pembagian beras, kebetulan Pak Lurah menelepon meminta agar spanduk segera dibuka. Alasannya kurang jelas saya juga," kata Teni.
Hanya saja menurut Teni pencopotan spanduk itu untuk menghindari sorotan publik serta agar tak merepotkan banyak pihak. "Ya supaya nggak jadi ramai dan ngariweuhkeun sarerea (merepotkan banyak pihak)," kata Teni.
Atas imbauan pencopotan spanduk itu sempat terjadi pro kontra. Sebagian menganggap imbauan itu serupa dengan imbauan "awas ada copet".
"Katanya kan spanduk tidak mengganggu. Padahal sama seperti ke pasar terus ada tulisan awas ada copet," kata Teni.
Kemudian sebagian warga menganggap spanduk itu sesuatu yang dianggap membuat malu. Mengingat fenomena tuyul sendiri kerap menimbulkan pro kontra di masyarakat. Ada yang meyakini keberadaannya ada yang menganggap sebatas tahayul.
Namun demikian pada akhirnya pengurus RT dan RW sepakat untuk menuruti imbauan Kelurahan dan Kecamatan untuk mencopot spanduk itu.
"Kita sebagai pengurus RT hanya mengakomodasi aspirasi warga. Memasang spanduk atas dorongan warga, kalau pun sekarang dicopot lagi karena ada kesepakatan warga. Yang jelas saat ini kampung kami kondusif," kata Teni.
Dia juga menambahkan selama spanduk terpasang dalam waktu 3 hari, tidak ada lagi keluhan warga yang kehilangan uang. "Alhamdulillah sudah nggak ada lagi yang hilang uang, mudah-mudahan selamanya aman dan tenteram," kata Teni.
Dihubungi terpisah, Camat Cipedes Cecep Ridwan membenarkan jika pihaknya yang membujuk warga untuk melepas spanduk tersebut.
"Kemarin, kami dari pihak kecamatan membujuk warga dan pengurus setempat untuk menurunkan spanduk yang terpasang disana. Alhamdulillah, mereka bersedia menurunkan," kata Cecep.
Dia mengaku khawatir jika terus terpasang dan dibiarkan, bisa memantik konflik sosial yang kian melebar. Karena spanduk itu bisa menimbulkan pro kontra hingga kesalahpahaman.
"Yang jadi pertimbangan kami, semata-mata supaya tidak terjadi konflik sosial yang semakin melebar. Artinya, memang kami berupaya menjaga kondusifitas di lingkungan. Kami tidak ingin ada benturan sesama warga. Takutnya dengan spanduk itu ada warga yang merasa terganggu, yang akhirnya menimbulkan konflik antar tetangga, kan tidak semuanya sama," papar Cecep.
Hasil penelusuran yang dilakukan pihak kecamatan, memang ditemukan adanya warga yang sering kehilangan uang.
"Memang ada sekitar 6 warga di sana yang pernah kehilangan uang hingga barang berharga. Tapi yang paling sering itu kan disana ada semacam tukang foto copy, nah si ibu itu sering kehilangan uang, bahkan sampai di brankas yang kuncinya hanya dipegang oleh dia, tapi tetap kehilangan," kata Cecep.
Asumsi atau rumor adanya tuyul pun merebak. Akhirnya muncul usulan agar memasang spanduk dengan tujuan pemilik tuyul bisa tersindir.
"Beberapa tahun ke belakang pernah terjadi hal serupa di wilayah Nagarasari, Kecamatan Cipedes. Akhirnya warga meminta masukan untuk rumor tersebut, lalu warga dan pengurus setempat memasang spanduk dengan harapan yang menjadi target istilahnya bisa ke sentil," kata Cecep.
Cecep juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan mulai membiasakan menyimpan uang atau bertransaksi non tunai.
"Mudah-mudahan setelah ini, kami berharap masyarakat kami bisa lebih tenang, tidak ada lagi yang kehilangan. Kami juga usulkan supaya setiap transaksi cashless, untuk sementara transaksi secara tunai dikurangi dulu. Kan kalau tuyul nggak bisa ngambil uang digital," kata Cecep, disusul tawa kecil
(dir/dir)
