Konferensi Asia Afrika pada 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung tidak hanya menjadi peristiwa diplomatik penting bagi negara-negara di kawasan Asia dan Afrika yang baru merdeka. Tetapi juga menghadirkan berbagai cerita menarik di baliknya.
Di balik pertemuan yang menghasilkan Dasasila Bandung tersebut, terdapat banyak sisi lain yang jarang disorot. Mulai dari aktivitas santai para delegasi hingga teknis yang menunjukkan kerja keras Indonesia sebagai tuan rumah dalam menyukseskan acara.
Simak berbagai fakta menarik di balik kesuksesan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 1955 yang jarang diketahui publik berikut ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fakta-fakta Menarik Konferensi Asia Afrika 1955 yang Jarang Diketahui
1. Satu Negara Menolak Undangan
Gagasan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika muncul dari kesadaran negara-negara Asia dan Afrika untuk membahas persoalan bersama, mulai dari kolonialisme hingga ketegangan global. Setelah melalui rangkaian pertemuan seperti Konferensi Kolombo dan Konferensi Bogor, Indonesia bersama negara penggagas lainnya akhirnya mengundang 25 negara untuk hadir dalam forum tersebut di Bandung.
Dari seluruh undangan yang dikirim, hampir semua negara menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi. Namun, terdapat satu wilayah yang menolak undangan, yaitu Federasi Afrika Tengah. Pasalnya, negara tersebut masih berada di bawah penjajahan Prancis. Statusnya yang belum merdeka membuat wilayah Federasi Afrika Tengah tidak memiliki kedaulatan penuh untuk hadir dalam forum internasional seperti Konferensi Asia Afrika.
2. Gedung YPK jadi Pusat Hortikultura
Gedung YPK (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar). |
Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) yang terletak di Jalan Naripan 7-9 digunakan sebagai tempat pameran hortikultura atau taman-taman khas Indonesia seperti anggrek, teratai, dan berbagai tanaman hias lainnya. Selain itu, di gedung tersebut juga digelar pameran kerajinan khas Jawa Barat serta berbagai suvenir yang dapat dibeli oleh para tamu delegasi.
"Pada saat KAA banyak event-event sampingan, pameran holtikultura itu salah satu yang diselenggarakan. Waktu KAA nama (gedung) nya sudah berubah jadi Yayasan Pusat Kebudayaan," ungkap Edukator Konperensi Asia Afrika, Nadya Ingrida saat ditemui di sela Walking Tour KAA di Bandung belum lama ini.
3. Delegasi Nongkrong di Braga
Pelaksanaan konferensi yang berlangsung selama beberapa hari menjadi kesempatan bagi para tamu dari berbagai delegasi negara untuk menjelajahi kawasan sekitar. Salah satu tempat favorit bagi para delegasi untuk bersantai dan beristirahat adalah kawasan Jalan Braga.
Tak berbeda dengan saat ini, kawasan Jalan Braga, khususnya Braga Pendek, sudah sejak dulu menjadi spot favorit warga dan wisatawan untuk menikmati suasana kota. Para delegasi KAA pun memanfaatkan waktu luang mereka untuk berjalan-jalan, menikmati seni, hingga berinteraksi dengan warga lokal.
"Saat KAA berlangsung, Jalan Braga itu dihias untuk menyambut acara. Setiap toko-tokonya memamerkan bendera-bendera negara delegasi yang hadir. Begitu selesai berkegiatan dari gedung, mereka nongkrong di Braga, melihat lukisan dan karya-karya seniman," papar Nadya.
4. Sudan Bikin Screening Film
Selain Hotel Savoy Homann, Hotel Grand Preanger juga menjadi salah satu tempat penting dalam pelaksanaan KAA 1955. Setidaknya terdapat delapan negara delegasi yang menginap di hotel yang dirancang oleh arsitek Wolff Schoemaker tersebut.
Salah satunya adalah Sudan. Delegasi Sudan tidak hanya datang untuk mengikuti konferensi, tetapi juga memanfaatkan momen tersebut untuk memperkenalkan budaya mereka melalui pemutaran film-film lokal di hotel tersebut.
"Negara Sudan melakukan pemutaran film. Ingin menunjukan pada rakyat Bandung seperti apa film-film Sudan. Jadi KAA itu juga menjadi ajang diplomasi oleh negara-negara peserta lainnya," jelas Nadya.
5. Disediakan Dokter Gigi
Berbeda dengan kebanyakan acara pada umumnya yang hanya menyediakan layanan medis dasar, dalam KAA pemerintah Indonesia bahkan menyiapkan dokter spesialis gigi untuk para delegasi. Hal ini dilakukan guna memastikan kondisi kesehatan para tamu tetap terjaga selama mengikuti rangkaian kegiatan.
"Hotel Preanger ini jadi salah satu health center saat KAA berlangsung. Selain dokter umum, disediakan dokter gigi bagi para delegasi secara cuma-cuma," papar Nadya.
6. Asal Mula Museum Konperensi Asia Afrika
Area di Museum Konferensi Asia Afrika yang kini digunakan sebagai ruang pamer dulunya berfungsi sebagai press room. Pada masa konferensi berlangsung, ruangan tersebut menjadi tempat para jurnalis dari berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mengetik laporan serta beristirahat di sela peliputan.
7. Nama Jalan yang Dirubah
Sejumlah bangunan dan jalan di Bandung mengalami perubahan nama menjelang pelaksanaan konferensi. Gedung Societeit Concordia, yang sebelumnya menjadi tempat berkumpul kaum elite Eropa, diubah menjadi Gedung Merdeka sebagai lokasi utama konferensi.
Selain itu, Gedung Indische Pension Fondsen di Jalan Diponegoro diubah menjadi Gedung Dwi Warna yang berfungsi sebagai sekretariat KAA. Jalan Raya Timur yang melintasi lokasi utama konferensi juga berganti nama menjadi Jalan Asia Afrika, yang hingga kini menjadi salah satu ikon Kota Bandung.
8. Pinjam Mobil Warga
Dalam mendukung kelancaran acara, panitia membutuhkan 143 kendaraan yang terdiri dari mobil taksi, bus, dan sedan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, panitia bahkan melibatkan masyarakat dengan meminjam kendaraan milik warga.
Mereka kemudian menghubungi berbagai pihak, salah satunya adalah Abah Landoeng. Ia merupakan seorang guru yang pernah mengajar di SD Banjarasi, SD Gang Tilil, SD Tikukur, SMP 2, dan SMP 5 Bandung di era penyelenggaraan KAA.
"Saya waktu itu dengan sukarela membantu panitia untuk mengumpulkan kendaraan bagi delegasi, dengan cara meminjam mobil dari orang tua wali murid saya," ujar Abah Landoeng sebagaimana dilansir dari laman web Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Selama dua minggu, Abah Landoeng berhasil mengumpulkan 14 mobil dari berbagai penjuru Kota Bandung. Mobil-mobil tersebut tergolong mewah pada masanya, seperti Mercy, Dodge, dan Impala, dan seluruhnya dipinjamkan secara sukarela demi mensukseskan konferensi.
Simak Video "Bogor Jadi Tuan Rumah, Napak Tilas Konferensi Asia-Afrika di Balai Kota Hingga Istana"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
