Jembatan Putus Akibat Banjir, Pelajar di Sukabumi Panjat Tangga Bambu

Jembatan Putus Akibat Banjir, Pelajar di Sukabumi Panjat Tangga Bambu

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Rabu, 22 Apr 2026 15:40 WIB
Pelajar di Sukabumi Panjat Tangga Bambu Akibat Jembatan Putus.
Pelajar di Sukabumi Panjat Tangga Bambu Akibat Jembatan Putus. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Potret memprihatinkan terlihat di Jembatan Linggamanik, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. Pasca putus diterjang banjir pada Minggu (19/4/2026) malam, warga dan anak sekolah kini terpaksa bertaruh nyawa menyeberangi jembatan yang terpenggal dengan menggunakan tangga bambu.

Diketahui, akses utama yang menghubungkan ruas jalan Bojongjengkol-Miramontana ini tampak lumpuh total usai jembatan putus total.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Badan jembatan amblas dan menyisakan lubang menganga yang cukup dalam. Untuk tetap bisa beraktivitas, warga memasang sebuah tangga bambu darurat agar pejalan kaki bisa memanjat ke sisi jalan yang masih utuh.

Sejumlah pelajar sekolah dasar (SD) yang mengenakan seragam tampak harus ekstra hati-hati. Mereka harus meniti tangga bambu satu per satu dengan ketinggian yang cukup ekstrem sambil menggendong tas sekolah.

ADVERTISEMENT

Beberapa di antaranya bahkan harus dibimbing oleh orang tua agar tidak tergelincir jatuh ke dasar sungai.

"Ya takut gitu, takut jatuh," ujar Eting (33), salah seorang warga kepada awak media saat mengantar anaknya, Rabu (22/4/2026).

Eting mengungkapkan rasa was-was yang luar biasa setiap kali harus melintasi jalur tersebut. Ia khawatir jika cuaca kembali memburuk, kondisi jembatan akan semakin parah.

"Was-was ya. Takut jatuh, takut gimana gitu, nanti nggak bisa sekolah. Kalau hujan lebat lagi kayaknya nggak berangkat sekolah, soalnya takut jembatan yang itu juga roboh," keluhnya.

Ketakutan serupa dirasakan Salwa, siswi kelas 2 SD Tipar. Raut wajahnya tampak tegang saat melihat ke arah patahan jembatan. Salwa mengaku, sejak jembatan itu ambruk, ia tidak berani lagi pergi ke sekolah sendirian.

"Takut, takut jatuh," tutur Salwa singkat.

Padahal, sebelum bencana melanda, Salwa terbiasa berjalan kaki menuju sekolah tanpa rasa khawatir. Namun kini, ia menggantungkan keselamatannya pada dampingan orang tua.

"Iya, diantar (sekarang). Waktu jembatan masih bagus mah berangkat sendiri, nggak diantar," kenang Salwa dengan nada lirih.

Sementara itu, petugas P2BK Jampangtengah, Dadi Supardi, membenarkan bahwa jembatan tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat di Desa Nangerang dan sekitarnya. Menurutnya, banjir bandang akibat curah hujan tinggi menjadi penyebab utama putusnya infrastruktur tersebut.

"Jembatan Linggamanik terputus akibat dampak dari banjir bandang. Jembatan ini tidak bisa digunakan oleh kendaraan roda empat, roda dua, ataupun pejalan kaki," terang Dadi.

Saat ini, arus lalu lintas kendaraan roda empat telah dialihkan ke arah Bojonglopang menuju Purabaya. Sementara untuk roda dua dialihkan melalui Kampung Cisurat dengan jarak tempuh yang lebih jauh.

"Untuk pejalan kaki, ada jembatan bambu di sebelah hilir sekitar 100 meter dari lokasi yang lebih aman untuk dilalui. Namun, warga sangat berharap adanya pembangunan kembali jembatan secara permanen karena ini kebutuhan mendesak," pungkasnya.

Hingga saat ini, belum ada penanganan darurat dari pihak terkait untuk memperbaiki konstruksi jembatan yang amblas tersebut. Warga berharap pemerintah segera turun tangan sebelum ada korban jatuh dari tangga darurat yang kini jadi tumpuan utama mereka.

(sya/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads