Banjir yang terus berulang di wilayah Bandung Raya disebabkan karena selama ini penanganan yang dilakukan belum menyentuh akar persoalan. Setiap musim hujan, banjir selalu terjadi hingga memicu kerugian dan keresahan masyarakat.
Melihat masalah itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir di Bandung Raya membutuhkan langkah besar baik dari sisi insfratruktur berupa danau retensi maupun anggaran.
Menurut Dedi, dibutuhkan sekitar 1.000 hektare lahan untuk merealisasikan rencana tersebut. Tak hanya itu, anggaran yang diperlukan untuk pembebasan lahan saja diperkirakan mencapai Rp7 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hitungan untuk penanganan banjir itu, diperlukan 1.000 hektare itu ya. Bandung Raya itu, untuk membuat danau-danau. Nilainya dulu, Rp7 triliun. Jadi kalau ingin bebas banjir, ya pakai alokasi itu," ungkap Dedi, Kamis (23/4/2026).
Ia menegaskan, angka Rp7 triliun tersebut baru mencakup biaya pembebasan lahan berdasarkan harga lama. Artinya, total kebutuhan anggaran bisa jauh lebih besar karena belum memasukkan biaya konstruksi dan pembangunan infrastruktur lain.
Situasi ini, kata Dedi, menuntut keseriusan semua pihak. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama pemerintah daerah di Bandung Raya harus segera duduk bersama untuk membahas skema pendanaan.
Wilayah yang terlibat dalam penanganan ini mencakup Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, hingga Kabupaten Bandung Barat yang semuanya merupakan kawasan yang kerap terdampak banjir.
"Dari sekarang harus dibicarakan, Rp7 triliun nanti kita dapat dari mana, kalau ingin bebas banjir," pungkas Dedi.
(bba/dir)