Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak pedagang di Kawasan Wisata Ciwidey dan Pangalengan, khususnya yang menjual kopi, agar menjual kopi lokal hasil petani daerah dibandingkan kopi saset. Hal itu dilakukan demi kesejahteraan petani dan agar kopi dari Jawa Barat terus diingat oleh wisatawan.
Sanjay Kuntara, petani kopi dari Buhun Sendari menyambut baik usul Dedi Mulyadi. Namun, menurutnya, harus ada solusi konkret terkait kebijakan tersebut.
"Kebijakan ini secara niat arahnya bagus, karena ingin ngangkat nilai ekonomi kopi lokal dan kasih ruang ke petani sendiri. Tapi kalau tanpa solusi, itu bisa jadi masalah," kata Sanjay kepada detikJabar, Selasa (28/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sanjay mengungkapkan, realitasnya kopi saset itu murah, praktis, dan sudah menjadi kebiasaan pasar. Warung kecil menjual produk tersebut karena perputaran modal yang cepat dan risiko yang kecil.
"Jadi alangkah baiknya, bukan dilarang, tapi dialihkan pelan-pelan. Edukasi dan supply harus siap dulu. Pedagang bisa kehilangan omzet dan konsumen bisa kabur karena nggak nemu opsi murah," ungkapnya.
Lebih ideal menurut Sanjay, kopi lokal hadir dalam bentuk yang praktis dan terjangkau seperti menggunakan drip bag, saset lokal, atau kopi tubruk siap seduh.
"Kalau dijalankan dengan benar, dampaknya bisa besar banget, permintaan naik langsung dari sektor wisata, harga jual biji kopi bisa lebih stabil dan nggak ditekan tengkulak terus. Petani nggak cuma jual cherry atau gabah, tapi bisa naik ke green bean, roasted bean dan bahkan brand sendiri," jelasnya.
Hal yang paling penting menurutnya adalah nilai tambah tetap berada di daerah, bukan lari ke merek besar luar negeri.
Saat disinggung mengenai kondisi kopi di Ciwidey, Sanjay menyebutkan bahwa untuk sektor wisata, kopi lokal belum mendominasi.
"Jujur aja, sekarang yang jual kopi lokal ada, tapi belum dominan. Banyak tempat wisata masih jual kopi saset atau kopi tapi bukan dari petani sekitar," ujarnya.
"Masalah utamanya, petani belum semua bisa supply kualitas konsisten, belum banyak yang punya branding dan kemasan menarik dan distribusi ke warung-warung belum rapi. Padahal daerah Pangalengan-Ciwidey salah satu sentra kopi terbaik di Kabupaten Bandung. Ironis kan, kebun kopi di depan mata, tapi yang diminum justru produk pabrik," terang Sanjay.
Sanjay berharap pemerintah dapat membantu menangani keluhan-keluhan tersebut secara serius.
"Kalau boleh jujur dan realistis, ini yang paling dibutuhkan, bukan sekadar regulasi, tapi ekosistem bantu petani dari budidaya, pasca panen, roasting dan branding. Lalu standarisasi dan quality control, supaya kopi lokal yang masuk ke wisata, rasanya konsisten dan nggak bikin kapok wisatawan," tuturnya.
Selain itu, akses pasar yang nyata seperti kerja sama dengan hotel, kafe, dan tempat wisata sangat diperlukan. Dia juga tidak ingin kegiatan yang dilakukan pemerintah hanya sebatas acara seremonial belaka. Pengadaan alat dan pelatihan pun dianggap krusial.
"Bantuan alat dan pelatihan. Mesin roasting, grinder dan packaging, karena naik kelas itu butuh alat, bukan cuma semangat. Branding besar seperti 'Kopi Bandung'. Harus ada identitas kuat kayak Kopi Gayo atau Kopi Toraja. Kabupaten Bandung juga bisa punya positioning sendiri," tuturnya.
"Kalau kebijakan ini cuma larangan, itu lemah. Tapi kalau dibarengin dengan sistem dari hulu ke hilir, ini bisa jadi titik balik kebangkitan kopi lokal di Bandung," pungkasnya.
Simak Video "Video: Dijanjikan Kompensasi oleh KDM, Puluhan Kios Liar Jalur Puncak Dirobohkan"
[Gambas:Video 20detik]
(wip/mso)