Saat Basement DPRD Kab Tasikmalaya Jadi Arena Asah Mental Baja

Saat Basement DPRD Kab Tasikmalaya Jadi Arena Asah Mental Baja

Deden Rahadian - detikJabar
Minggu, 03 Mei 2026 16:00 WIB
Ring muaythai di Basement Parkir Gedung DPRD Kab Tasikmalaya, Singaparna, Minggu (3/5/2026)
Ring muaythai di Basement Parkir Gedung DPRD Kab Tasikmalaya, Singaparna, Minggu (3/5/2026) (Foto: Deden Rahadian)
Tasikmalaya -

Aroma karet matras, suara plester yang dililitkan di pergelangan tangan, serta hentakan kaki ke samsak menjadi pembuka pagi yang cerah. Di basement parkir Gedung DPRD Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (3/5/2026), atmosfer persaingan terasa begitu kuat.

Di sudut ring, seorang bocah kelas 2 SD menarik napas panjang. Helm pelindung, pelindung gigi, dan sarung tinju merah membungkus tubuh mungilnya. Namanya Sauki. Lawannya telah bersiap. Wasit memberi aba-aba. Tiga menit berikutnya bukan sekadar adu pukul, melainkan pelajaran tentang keberanian dan ketangguhan mental di atas ring.

Sauki, atlet dari KCC Singaparna, menjadi salah satu yang mencuri perhatian. Tubuhnya paling kecil di kelompoknya. Namun saat bel berbunyi, pukulan jab-straight-nya meluncur lurus, sementara low kick-nya tampak bersih. Tiga ronde dilaluinya tanpa menangis dan tanpa mundur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya ikut olahraga bela diri ini supaya mental saya kuat dan senang. Tidak sakit karena sudah terbiasa latihan. Alhamdulillah bisa juara dan dapat medali," ujar Sauki sambil menunjukkan medalinya kepada detikJabar.

Di tribun, sang ayah, Dadan Hermawan, merekam setiap momen dengan ponsel. Ia yang mendaftarkan Sauki ke sasana enam bulan lalu dengan alasan sederhana.

ADVERTISEMENT

"Sengaja kami ikutkan agar anak belajar sportivitas sejak kecil. Fisiknya juga semakin kuat. Bahkan saat sedang sakit, dia tetap ingin bertanding. Dia sudah senang dengan muaythai, dan kami sebagai orang tua tentu mendukung," kata Dadan.

Bagi Dadan, muaythai bukan soal kekerasan. Justru sebaliknya, olahraga ini mengajarkan rasa hormat dan sportivitas.

"Pukul dan tendang itu hanya sebagian kecil. Yang utama adalah mental, keberanian, dan rasa hormat," ujarnya.

Itulah wajah Pasundan Muaythai Championship 2026. Untuk pertama kalinya, Kabupaten Tasikmalaya menggelar kejuaraan muaythai berskala besar. Sebanyak sekitar 140 petarung dari berbagai camp di Priangan Timur turun ke gelanggang, mulai dari anak-anak hingga atlet elite.

Salah satu pelatih, Danil, mengaku antusias dengan penyelenggaraan ajang ini. Menurutnya, kejuaraan menjadi sarana penting untuk menguji kemampuan atlet.

"Kami sangat senang dengan kegiatan ini. Antusiasme orang tua juga besar. Banyak yang mempercayakan anaknya berlatih di camp kami untuk membentuk fisik dan mental," ujarnya.

Ketua Pengcab Muaythai Kabupaten Tasikmalaya, Adi Septian Nugraha, mengatakan pihaknya membuka 67 partai pertandingan, mulai dari kelas pemula anak-anak, beginner, amatir, hingga elite.

"Ajang ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga sarana silaturahmi antar-klub dan pembinaan atlet masa depan. Anak-anak sejak dini dikenalkan agar mental dan kepribadiannya teruji," kata Adi.

Ia menegaskan, dalam muaythai kemenangan bukanlah segalanya. Nilai utama justru terletak pada sikap saling menghormati.

"Sebelum bertanding ada penghormatan, setelahnya saling berpelukan. Tidak ada dendam," ujarnya.

Adi juga menyebut adanya berbagai trofi yang diperebutkan, termasuk trofi bupati dan trofi pengurus cabang. Ia berharap olahraga ini dapat membentuk karakter anak agar tidak terjerumus pada perilaku negatif.

"Ini olahraga prestasi. Anak-anak belajar disiplin, sportif, dan profesional sejak dini," katanya.

Menurut Adi, keberadaan kompetisi sangat penting untuk melahirkan atlet berjenjang. Dari yang awalnya takut bertanding, kini mulai berani menunjukkan teknik dan kepercayaan diri di atas ring.

"Kami ingin memiliki regenerasi atlet yang jelas, dari usia dini hingga elite. Pembinaan harus terus berjalan," tegasnya.

Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dan DPRD yang menyediakan lokasi pertandingan.

"Kolaborasi dengan pemerintah dan sponsor menjadi kunci agar ekosistem muaythai terus berkembang. Dari sini, kami berharap bisa mencetak atlet untuk Porprov, PON, bahkan SEA Games," ujarnya.

Sepanjang hari, basement itu berubah fungsi. Bukan lagi sekadar tempat parkir, melainkan ruang belajar. Anak-anak belajar menerima kekalahan tanpa rasa malu, menang tanpa kesombongan, serta menghadapi rasa takut dengan keberanian.

Saat malam tiba dan lampu ring dipadamkan, yang tersisa bukan hanya nama-nama juara. Ada ratusan cerita: tentang anak yang tetap bertanding meski demam, pelatih yang kehilangan suara karena terus memberi arahan, hingga orang tua yang baru menyadari keberanian anaknya.

Dari basement DPRD Singaparna, sebuah cerita baru sedang ditulis. Bahwa masa depan olahraga bela diri bisa tumbuh dari tempat sederhana, dengan keberanian yang luar biasa.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads