Dari Arjasari, Sukun Disiapkan Jadi Pangan Masa Depan

Dari Arjasari, Sukun Disiapkan Jadi Pangan Masa Depan

Yuga Hassani - detikJabar
Minggu, 03 Mei 2026 17:47 WIB
Bibit sukun saat ditanam di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Minggu (3/5/2026).
Bibit sukun saat ditanam di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Minggu (3/5/2026). (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Bandung -

Buah sukun di Kabupaten Bandung didorong menjadi bagian dari ketahanan pangan Indonesia pada masa mendatang. Selain sebagai sumber pangan alternatif, pohon sukun juga dinilai mampu membantu revitalisasi lahan kritis di kawasan pegunungan yang gundul.

Sejumlah mahasiswa pertanian Universitas Padjadjaran bersama pihak terkait menanam ribuan bibit pohon sukun di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Minggu (3/5/2026). Penanaman dilakukan secara serentak dengan melibatkan para petani setempat.

Penanaman bibit sukun ini bertujuan memperluas populasi di Jawa Barat sekaligus mendorongnya sebagai sumber pangan berkelanjutan. Keberadaan pohon sukun juga diharapkan memberi dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi yang sekitar bulan Agustus tahun lalu, dan ini sekarang mulai kita realisasikan bersama program Sukun ini," ujar Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Transformasi Digital, Keuangan, dan Pengelolaan Bisnis Unpad, Maman Setiawan, saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, sukun dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus menjadi tanaman energi. Program ini juga melibatkan berbagai elemen agar berjalan optimal.

ADVERTISEMENT

"Di dalam penanaman Sukun ini agar nanti bisa berkelanjutan. Kita berkolaborasi dengan berbagai fakultas untuk mengolah sukun ini nanti supaya bisa diolah menjadi tepung, makanan-makanan yang nanti dimanfaatkan oleh masyarakat," katanya.

Maman berharap sukun dapat menjadi pangan alternatif bagi masyarakat di masa depan. Ia juga menyebut sukun memiliki manfaat kesehatan.

"Jadi saya kira sangat baik sekali ya sebagai pengen alternatif. Mudah-mudahan kalau semakin banyak, nanti sukun ini dari segi ekonomi menjadi semakin memungkinkan untuk dijual di pasar," jelasnya.

Saat ini, pihaknya memiliki lahan sekitar 250 hektare di Arjasari. Dari luas tersebut, sebanyak 2.500 bibit pohon sukun ditanam dan akan dikelola bersama masyarakat.

"Iya sekarang kita tanam sekitar 2.500 bibit pohon sukun. Mudah-mudahan nanti jika sudah bisa kita apa dapatkan hasilnya kita akan olah sedemikian rupa," ucapnya.

Selama proses penanaman, mahasiswa dan masyarakat sekitar dilibatkan. Pertumbuhan tanaman juga akan terus dipantau.

"Kita akan melibatkan mahasiswa yang akan membantu di dalam proses apa penanaman kemudian nanti apa dalam proses pertumbuhannya gitu ya tanaman tersebut dosen juga kita akan libatkan di dalam prosesnya," bebernya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera, Riyan Sumindar, menyebut sukun sebagai pangan masa depan yang relatif tahan terhadap perubahan iklim.

"Kalau suatu saat bumi memanas sampai 2 derajat, maka tanaman-tanaman serealia seperti jagung, padi, dan lain-lain yang berbasis serealia, itu akan mati dan tidak bisa hidup. Oleh karena itu sukun menjadi pilihan ke depan," kata Riyan.

Menurutnya, saat ini sukun masih banyak ditanam di pekarangan rumah. Ke depan, pengembangannya diarahkan ke perkebunan.

"Jadi dalam satu hektar kita punya kira-kira 100 sampai 140 pohon. Nah, ketinggiannya nggak dibiarkan tinggi sampai 10 meter, 15 meter, tapi rata-rata sekitar 4 meter dipruning. Kenapa? Karena supaya gampang," kata Riyan.

Bibit sukun saat ditanam di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Minggu (3/5/2026).Bibit sukun saat ditanam di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Minggu (3/5/2026). Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Ia juga mencontohkan pengelolaan sukun di luar negeri, salah satunya di Hawaii, yang telah diolah menjadi tepung bernilai ekonomi tinggi.

"Sekarang itu sangat dibutuhkan sama terutama di daerah-daerah seperti Eropa, Jepang, Amerika, dan lain-lain. Nah, ke depan kita akan masuk ke pasar dunia. Saat ini tepung sukun masih agak mahal, sekitar Rp50.000 sampai Rp60.000 per kilo," beber Riyan.

Riyan menyebut basis pengembangan sukun saat ini berada di wilayah Yogyakarta, dengan ribuan pohon yang telah dikelola selama puluhan tahun.

"Nah sekarang eksistensinya ada 2.000 pohon. Nah itulah di sanalah pohon induk. Dari situlah seharusnya dibangun pusat perbenihan nasional, khususnya untuk sukun. Nanti perbanyakkan sukun melalui stek, melalui stek batang dan stek akar. Ada juga stek tunas, tapi itu masih sedikit ya," tuturnya.

Ia menilai wilayah Kabupaten Bandung cocok untuk pengembangan sukun, termasuk dengan sistem tumpang sari.

"Kabupaten Bandung termasuk yang direkomendasi. Ada juga Kabupaten Sumedang, Subang, Majalengka, dan Sukabumi yang ini, di wilayah Jawa Barat itu cukup untuk ini. Ketinggiannya itu rata-rata di bawah 700 meter yang optimal. Ada 1.000. kita punya lahan sukun 2 hektar di Majalaya itu ketinggiannya sekitar 1.000 meter, sudah dua tahun kita sudah punya lahan," ungkapnya.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi IV, Dadang Naser, mengatakan penanaman dilakukan setelah adanya seminar sukun di Unpad dan deklarasi Jawa Barat sebagai provinsi sukun.

"Sukun ini tanaman ajaib, endemik Indonesia yang karbonya sangat clear, sangat sehat. Itu untuk orang yang penyakit diabet, penyakit darah, jantung, ini sukun sangat cocok dan tidak membuat kegemukan, kalau makan sukun," kata Dadang.

Ia menambahkan, pengembangan sukun dapat dilakukan dengan sistem agroforestri untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

"Ada tegakan-tegakan yang harus kita kuatkan untuk menjaga ekosistem dan udara yang bersih atau karbon yang bagus. Jadi nanti kalau ini bagus masyarakat sini dapat karbon. Secara dunia kita punya hak nanti desa ini mendapatkan karbon," pungkasnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads