Kisah mengiris hati datang dari Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang pelajar SMKN 4 Samarinda, Mandala Rizky Saputra meninggal karena terpaksa memakai sepatu sekolah yang terlalu sempit.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur menjelaskan pihaknya telah melakukan koordinasi dan pendalaman informasi dari berbagai pihak atas kejadian ini. Hasilnya, Mandala memang mengalami penurunan kesehatan dan temuan kaki yang membengkak.
"Kondisi kesehatan siswa diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, pusing, dan pembengkakan pada kaki. Setelah dilakukan kunjungan ke rumah siswa, menurut informasi sepatu kekecilan," bunyi keterangan Disdikbud Kaltim yang diteruskan oleh humas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dikutip Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kronologi Meninggalnya Mandala Menurut Disdik Kaltim
Pada keterangan itu, Disdikbud Kaltim merunutkan kronologi kenapa kejadian nahas ini bisa terjadi. Dijelaskan, Mandala tengah mengikuti kegiatan praktek kerja pada 9 Februari-20 Maret 2026 di Ramayana Robinson Jalan M Yamin Samarinda.
Lokasi praktek kerja ini dinilai sesuai dengan jurusan yang diambil Mandala yakni pemasaran. Pada 30 Maret 2026, Mandala sudah kembali ke sekolah dan mengikuti kegiatan belajar-mengajar.
Namun, keesokan harinya sekolah menyarankan Mandala beristirahat di rumah dan diantar pulang karena kondisi fisik yang menurun. Semenjak saat itu, Mandala tidak masuk sekolah karena sakit dan orang tua sudah mengirimkan izin.
Berlanjut ke 8 April 2026, melalui pesan singkat WhatsApp pihak keluarga (ibu) meminta bantuan untuk meminjam uang ke sekolah melalui wali kelas. Wali kelas kemudian meminta ibu Mandala untuk datang ke sekolah untuk berkoordinasi.
Undangan itu dipenuhi ibu Mandala pada 10 April 2026. Ketika bertemu, ia menyampaikan kondisi Mandala dan menyebut penurunan kondisi ini lantaran gangguan nonmedis.
"Sekolah membantu fasilitas permohonan biaya untuk pengobatan di Tenggarong sebesar Rp 1,1 juta," ungkap keterangan Disdikbud Kaltim yang ditandatangani oleh Plt Kepala, Armin.
Sepuluh hari kemudian, tepatnya pada 21 April 2026 sekolah akhirnya melakukan kunjungan ke rumah Mandala. Pada kunjungan itu, ditemukan kondisi kaki Mandala lemas dan bengkak, tetapi tidak ada luka atau lecet.
Melihat hal itu, guru SMKN 4 Samarinda menyarankan agar melakukan pengobatan ke fasilitas kesehatan. Namun, lantaran benturan ekonomi dan adanya tunggakan sebesar Rp 2,4 juta yang belum terbayarkan keluarga Mandala enggan melakukannya.
Kondisi tersebut, membuat sekolah ikut turun tangan untuk mengurus BPJS Mandala. Dua hari berselang, kunjungan kembali dilakukan sekolah guna memantau kondisi Mandala dan menanyakan perkembangan pengurusan BPJS.
"Pada saat itu orang tua dan siswa melaporkan bahwa kondisi sempat membaik dan kondisi kaki (sebelumnya bengkak) kempes. Sekolah memutuskan besuk untuk membelikan sepatu sesuai ukuran," urai Disdikbud Kaltim lebih lanjut.
Namun, kabar duka datang dari keluarga Mandala pada keesokan harinya. Tepat pada 24 April 2026 Mandala dikabarkan meninggal dunia dan pihak sekolah mendampingi proses pemulasaraan dan pemakaman jenazah.
Melihat kronologi yang ada, Disdikbud menilai pihak sekolah sudah melakukan pendampingan secara maksimal.
"Namun karena tidak ada diagnosa medis dari layanan kesehatan maka kita tidak dapat menyimpulkan bahwa penyebab meninggalnya murid bukan karena sepatu," jelas Disdikbud Kaltim.
Terpaksa Pakai Ukuran Sepatu Lebih Kecil
Keterbatasan ekonomi memaksa Mandala tetap mengenakan sepatu ukuran 40. Padahal, dalam keterangan Disdikbud Kaltim, ukuran sepatu murid tersebut menurut orang tua adalah 43. Sementara, berdasarkan laporan Antara, ukuran sepatu Mandala 44.
Praktik kerja yang ia jalani juga menuntut stamina fisik yang tinggi. Lantaran bekerja sebagai pramuniaga, Mandala diwajibkan berdiri sepanjang hari.
Selain itu, keluarga Mandala dikabarkan tidak pernah terdaftar sebagai penerima bantuan sosial pemerintah.
Artikel ini telah tayang di detikEdu. Baca selengkapnya di sini.
(det/yum)