Inovasi Gen Z Bandung Ajarkan Industri Kreatif ke Anak Jalanan

detikZ

Inovasi Gen Z Bandung Ajarkan Industri Kreatif ke Anak Jalanan

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Rabu, 13 Mei 2026 10:31 WIB
Volunteer Beda Mata dan siswa anak jalanan di Yayasan Bagea
Volunteer Beda Mata dan siswa anak jalanan di Yayasan Bagea (Foto: dok Beda Mata by Inovanika).
Bandung -

Ketika sebagian anak muda sibuk membangun personal branding di media sosial, sekelompok Gen Z di Bandung memilih turun ke jalan untuk mengajar. Melalui program bernama Beda Mata, Komunitas Inovanika menghadirkan pendidikan alternatif berbasis industri kreatif guna membantu anak-anak marginal mengenali potensi diri dan berani berkarya.

Moch Mardiana Putra (24), akrab disapa Mardi, merupakan penggagas program Beda Mata. Sebelum fokus mengajar anak jalanan, Mardi dan timnya aktif di daerah terpencil sekitar Bandung, seperti Rancabali dan Cikalongwetan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah lulus kuliah dan membangun komunitas sendiri, Mardi menyadari adanya kelompok lain yang juga membutuhkan perhatian, yakni anak-anak jalanan di pusat kota. Ia melihat kelompok ini menghadapi tantangan dalam akses terhadap perhatian dan kesempatan yang setara.

"Anak-anak jalanan itu masih di kita banget kan ya di kota, banyak di Kota Bandung. Menurutku anak-anak jalanan itu terabaikan lah, mereka dianggap kayak enggak ada gitu. Kebanyakan dari mereka tuh enggak sekolah. Nah, makanya aku pilih anak-anak jalanan sebagai benefisiaris dari program beda mata ini dan nemu juga Yayasan Bagea yang memang menaungi anak-anak jalanan," ucapnya.

ADVERTISEMENT

Keinginan untuk mengajar secara rutin membawanya pada kenyataan bahwa anak jalanan membutuhkan akses pendidikan. Dari titik itulah, Beda Mata mulai berkolaborasi dengan Yayasan Bagea di Bandung.

Semangat ini disambut baik oleh para relawan muda. Meski awalnya terdapat 50 pendaftar, melalui serangkaian proses seleksi, kini tersisa 10 hingga 15 relawan yang terjun langsung mengajar.

Berbeda dengan metode formal, Beda Mata menggunakan pendekatan industri kreatif. Anak-anak tidak diajarkan mata pelajaran sekolah pada umumnya, melainkan dikenalkan pada dunia kreatif secara menyenangkan. Program ini memiliki tiga tahapan pembelajaran, yaitu recognition, immersion, dan creation.

Volunteer Beda Mata dan siswa anak jalanan di Yayasan BageaAnak jalanan sedang menggambar di Yayasan Bagea (Foto: dok Beda Mata by Inovanika).

Pada tahap recognition, anak-anak diajak mengenali potensi diri. Setelah itu, mereka diperkenalkan dengan berbagai profesi industri kreatif seperti ilustrator, pengisi suara (dubber), hingga penulis cerita.

"Kayak misalkan kenapa bisa ada tiba-tiba ada kartun tuh. Kita ngejelasin kalau kartun tuh ada dubber. Nah, itu kita kasih insight kalau ada profesi dubber," kata Mardi. Para relawan bahkan mengajak anak-anak mempraktikkan langsung alih suara video pendek dan membuat karya tulis sederhana.

Mayoritas relawan Beda Mata berasal dari kalangan Gen Z. Karena usia yang tidak terpaut jauh, pendekatan belajar terasa lebih cair. Mardi mengarahkan para relawan untuk memosisikan diri sebagai teman belajar, bukan guru formal, agar anak-anak merasa nyaman dan tidak takut bereksplorasi.

Meski demikian, mengajar anak jalanan memiliki tantangan tersendiri. Mardi mengakui atmosfer belajarnya berbeda dibandingkan sekolah formal karena karakter anak jalanan yang sangat aktif. Selain itu, kemampuan dasar mereka beragam, ada yang belum lancar membaca sehingga membutuhkan pendampingan intensif.

"Anak-anak di sini sebenarnya antusias. Tantangannya adalah bagaimana menyesuaikan metode belajar dengan kemampuan mereka," jelasnya. Konsistensi jadwal juga menjadi kendala karena sebagian besar relawan sudah bekerja.

Salah satu target besar Beda Mata adalah membantu anak-anak menghasilkan karya nyata. Saat ini, mereka tengah menyiapkan antologi cerpen karya anak binaan Yayasan Bagea yang direncanakan terbit pada pertengahan 2026. Bagi Mardi, karya tersebut adalah bentuk apresiasi agar bakat anak jalanan mulai diakui.

Mardi berharap gerakan ini terus berkembang. "Kita pengen si anak-anak jalanan ini menghasilkan karya dan karya mereka itu eh diakui lah oleh publik, oleh ya kita semua gitu ya, oleh GenZ, oleh semua kalangan umur gitu," tutupnya.

Bagi detikers yang ingin berkontribusi, komunitas Inovanika yang menaungi program ini membuka kolaborasi luas. Kesempatan menjadi relawan terbuka bagi siapa saja yang ingin berkontribusi langsung dalam program edukasi ini. Informasi lebih lanjut dapat dipantau melalui akun Instagram resmi @inovanika.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Sepasang Anak Jalanan di Jambi Kubur Mayat Bayi di Kebun Warga"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads