Beban penderitaan menahun warga yang bermukim di belakang UPTD Puskesmas Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, akhirnya pecah menjadi sorak-sorai kelegaan.
Warga tak terbendung meluapkan kegembiraan saat menyaksikan langsung Bupati Sukabumi, Asep Japar, 'ngamuk' dan turun tangan mengayunkan palu godam menghancurkan jembatan tua yang selama ini dianggap sebagai biang kerok banjir bandang luapan Sungai Ciranca.
Pantauan detikJabar di lokasi, Senin (25/5/2026) pagi, pemandangan dramatis tersaji di tengah kepungan sisa lumpur banjir. Orang nomor satu di Kabupaten Sukabumi itu, yang mengenakan kemeja biru, rompi dongker, topi hitam, dan sepatu bot karet kuning, tampak bersiap dengan posisi kuda-kuda kokoh di tepi jembatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan tenaga penuh, palu godam berganggang kayu berukuran besar itu diayunkan Bupati Sukabumi, melesat kuat dari balik pundaknya dan menghantam pagar pembatas jembatan beton yang dianggap menghalang laju air sungai tersebut.
Suara dentuman keras beton yang retak beradu dengan tepuk tangan riuh dan sorakan penuh kemenangan dari kerumunan warga yang memadati area tersebut. Setiap kali hantaman palu sang Bupati meruntuhkan bagian jembatan, suara teriakan 'Hore!' menggema kencang dari warga yang menonton dari jarak aman di area genangan lumpur basah.
Serpihan material beton dan besi-besi rebar terlihat berhamburan dari pagar jembatan ke arah dasar aliran sungai, menandai dimulainya babak baru perjuangan warga lepas dari jerat banjir musiman.
Kekesalan mendalam warga terhadap jembatan tersebut bukanlah tanpa alasan. Hendra, seorang pemilik warung di sekitar lokasi yang merekam langsung BeritaKlik-BeritaKlik mengerikan air bah menjebol permukiman pada Minggu (24/5) sore.
Menurut Hendra, konstruksi jembatan yang terlalu rendah menjadi penyebab utama air tidak bisa mengalir lancar menuju laut, terutama saat volume sungai meningkat drastis.
"Saya rekam sendiri pakai HP, air itu tertahan di bawah jembatan karena posisinya memang terlalu pendek dan sempit. Material dari hulu, ranting, sampah-sampah besar tersangkut semua di situ. Akibatnya, jalur air terkunci rapat, jadi bendungan dadakan," ungkap Hendra kepada detikJabar di lokasi kejadian.
"Akhirnya air sungai yang nggak bisa lewat itu langsung meluap, balik arah lari ke jalanan, menghantam keras bangunan puskesmas dan merangsek masuk ke rumah-rumah warga. Pokoknya jembatan itu murni biang kerok penyumbat dan penyebab banjir separah ini di sini," sambungnya menegaskan.
Kondisi banjir di Puskesmas Palabuhanratu Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar |
Kasur Hingga Barang Elektronik Hancur Tiap Tahun
Penderitaan hidup berdampingan dengan ancaman banjir diungkapkan secara getir oleh Ketua RT 04 Kelurahan Palabuhanratu, Iis. Baginya dan puluhan Kepala Keluarga (KK) yang bermukim tepat di area belakang puskesmas, setiap hujan deras adalah mimpi buruk yang menyiksa mental.
"Setiap hujan deras turun lumayan lama, kami warga di sini sudah pasti jantungan, waswas A. Ini mah sudah jadi 'langganan' banjir terus hampir tiap tahun. Kalau hujannya lama, mau lari menyelamatkan diri juga susah karena airnya cepat banget naiknya," keluh Iis menceritakan trauma warganya.
Ia menuturkan, luapan air lumpur setinggi pinggang orang dewasa yang menerjang wilayahnya tak hanya meninggalkan jejak kotor pekat, tetapi juga kerugian materiel yang tidak sedikit. Warga nyaris tak punya waktu untuk menyelamatkan harta benda mereka saat air bah tiba-tiba datang menerjang masuk ke dalam rumah.
"Kalau sudah kerendam begitu, habis semua barang-barang. Kasur membusuk kerendam lumpur, TV, kulkas, perangkat elektronik warga pada konslet dan hancur semua dihajar air. Kerugiannya nggak sedikit, A," tuturnya dengan nada sedih.
"Makanya begitu lihat Pak Bupati turun tangan langsung bawa martil ngancurin jembatan itu, warga pada sorak kegirangan, bertepuk tangan. Plong dan lega rasanya A. Harapan kami ya jembatannya dibangun lagi, tapi konstruksinya yang jauh lebih tinggi, biar air dari sungai bablas ke laut, nggak mampir-mampir lagi ke rumah warga," pungkas Iis penuh harap.
Bupati Sukabumi Asep Japar sendiri menegaskan pembongkaran ini mutlak dilakukan demi keselamatan warga dan fasilitas publik. Akibat banjir ini, pelayanan kesehatan di Puskesmas Palabuhanratu pun terpaksa dialihkan sementara ke Pustu Citepus karena bangunan tertutup endapan lumpur tebal.
(sya/yum)
