Bagi sebagian orang, merawat tanaman hanya sebatas hobi dan kecintaan terhadap tumbuhan saja. Namun bagi Yahya Saeful Uyun, pemuda asal Pangandaran, ia berhasil menjadikan tanaman hias sebagai cuan yang menjanjikan.
Melalui greenhouse tanaman hias yang dikelola di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Yahya merintis usaha tanaman hias lokal dengan memanfaatkan lingkungan rumahnya.
Yahya mengatakan awal mula merintis usaha tanaman hias jenis kadaka dan huperzia sejak tiga tahun lalu. Semula kegiatan ini hanya sebatas iseng dengan mengunggah foto-foto tanaman hias miliknya ke media sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, berkat media sosial, tanaman hias milik Yahya sampai ke Jepang. Salah satu perusahaan tanaman di sana menjalin kontrak kerja sama dalam mengelola tanaman hias.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) usai kunjungan resmi pihak Flore 21 ke Cimerak pada 16 hingga 18 Mei 2026 kemarin.
Perusahaan tanaman asal Jepang itu tertarik dengan cara Yahya mengelola tanaman dan hasil budi dayanya, sehingga beberapa waktu lalu, pihak pengelola tanaman dari Jepang telah mendatangi rumah Yahya secara langsung.
Perusahaan asal Negeri Sakura itu tertarik pada tanaman kadaka dan huperzia. Di samping itu, tanaman-tanaman lokal seperti lidah buaya, aglaonema, lidah mertua, hingga anggrek bulan turut menarik perhatian mereka.
Pemilik RI-YA Greenhouse, Yahya Saeful Uyun, mengaku kaget karena awalnya tidak berniat serius mengelola greenhouse tersebut secara bisnis. Namun, karena adanya kepercayaan dan nilai ekonomi, kini usaha tersebut dikelola secara profesional.
"Karena permintaan banyak kini Alhamdulillah saya kelola dengan serius dan green house ini sudah menelurkan banyak beragam tanaman hias," ucap Yahya, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, kunjungan pengusaha tanaman asal Jepang ke greenhouse-nya menjadi titik awal ekspor bunga hias asal daerah tersebut ke kancah internasional.
"Waktu mereka kunjungan ke sini penasaran dengan pengelolaan tanaman hias di sini. Jadi sebelumnya hanya menerima kiriman dari saya saja," katanya.
Ia mengatakan berbagai koleksi tanaman sudah dikirimkan sebelum adanya kesepakatan ekspor langsung. Namun, kata dia, pihak pembeli memiliki permintaan untuk melihat langsung proses budi daya tanaman hias tersebut.
Pihaknya berharap jalinan ekspor tanaman itu terus berlanjut dan menjadikan komoditas tanaman hias sebagai potensi yang bisa terus dikembangkan. Bahkan, perusahaan asal Jepang itu disebut sudah mengajukan permintaan khusus untuk pengiriman dua jenis tanaman, yakni kategori hoya dan rhipsalis, yang direncanakan akan diekspor dalam waktu dekat.
Kata dia, selain kiriman ekspor, permintaan pengiriman regional dan daerah saat ini mulai berdatangan, baik untuk keperluan perumahan hingga perhotelan.
Di balik keberhasilan menembus pasar ekspor, RI-YA Greenhouse juga berupaya memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Saat ini usaha florikultura itu menyerap sekitar lima hingga sepuluh tenaga kerja lokal. "Ini menjadi salah satu bentuk syukur kami karena usaha ini bisa ikut membantu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar," kata Yahya.
Yahya berharap, keberhasilan greenhouse miliknya dapat menjadi motivasi bagi para pembudidaya tanaman hias lainnya di Kabupaten Pangandaran agar terus konsisten dan berani mengembangkan usaha.
Selain memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan, budi daya tanaman hias juga memberikan dampak positif bagi lingkungan karena membantu menciptakan udara yang lebih sejuk dan asri.
Yahya mengajak generasi muda Pangandaran untuk lebih kreatif memanfaatkan potensi alam yang melimpah di daerahnya.
"Potensi alam di Pangandaran sangat besar. Kalau anak muda kreatif mengolahnya menjadi produk bernilai jual, tidak hanya bisa menghidupi keluarga sendiri tapi juga membuka peluang kerja bagi orang lain," tutupnya.
(sud/sud)