Cara Santri Perantauan di Sukabumi Obati Rindu Keluarga Saat Idul Adha

Cara Santri Perantauan di Sukabumi Obati Rindu Keluarga Saat Idul Adha

Siti Fatimah - detikJabar
Kamis, 28 Mei 2026 16:00 WIB
Sate terpanjang di Sukabumi
Sate terpanjang di Sukabumi (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Hari Raya Idul Adha biasanya menjadi momen hangat untuk berkumpul bersama keluarga tercinta di kampung halaman. Namun, cerita berbeda datang dari ratusan santri di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Jauh dari orang tua dan kampung halaman, mereka punya cara sendiri untuk mengusir rasa sepi dan rindu rumah lewat tradisi nyate bareng dan terpanjang di Sukabumi.

Pantauan di lokasi, kepulan asap putih beraroma khas daging bakar membubung tinggi di area pondok. Ratusan santri dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, hingga SLTA tampak berjejer rapi. Alih-alih bersedih karena tidak bisa mudik, tawa renyah justru pecah di antara mereka saat mengipasi barisan sate di atas tungku bata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah seorang santriwati asal Bogor, Silva Elisa (16), menuturkan kisahnya yang harus merayakan Idul Adha di perantauan untuk kedua kalinya. Remaja berhijab ini tak menampik ada rasa rindu yang kuat pada rumah. Namun, kebersamaan di pondok berhasil mengalihkan rasa sepi itu.

ADVERTISEMENT

"Banget (mengobati rindu). Di sini kayak... kalau misalkan kita enggak nyate, kita bakal merenung di kamar. Untung ada sate, jadi kayak kita, ya sudahlah enggak apa-apa," tutur Silva ceria saat ditemui di lokasi, Kamis (28/5/2026).

Bagi Silva, momen tahun ini terasa jauh lebih seru dan rapi dibandingkan tahun sebelumnya.

"Alhamdulillah karena ini setahun sekali, jadi kita sangat menunggu momen ini ya. Ditambah lagi sekarang (bakar satenya) pakai bata, biasanya pakai asbes. Karena kayak gini jadi lebih rapi dan lebih cepat matang. Arangnya juga sekarang banyak," tambahnya sembari membalikkan tusukan daging.

Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, Fajar Laksana mengungkapkan bahwa mayoritas santri yang menetap di pondok saat lebaran kurban ini memang berasal dari luar kota, bahkan luar pulau. Banyak di antaranya merupakan anak-anak yatim, piatu, dhuafa, serta santri mualaf asal Maluku (Pulau Buru).

Jarak yang sangat jauh membuat mereka tidak memungkinkan untuk pulang dan berkumpul dengan orang tua. Oleh karena itu, pihak pesantren sengaja menggelar makan bersama ini agar para santri perantauan tidak merasa sendirian dan bisa merasakan gizi terbaik dari daging kurban.

"Makna kegiatan hari ini adalah supaya rasa syukurnya bertambah, maka para santri sebagai penerima berkurban ini kita acarakan bukan hanya dibagikan tapi makan pun bareng," kata Fajar.

"Mereka yang kurang banyak menikmati makanan-makanan yang bergizi tinggi, hari ini bisa menikmati di Hari Raya Iduladha. Sehingga anak yatim, piatu, dhuafa, khususnya di pondok pesantren yang ditampung ini lebih dari 500 orang, hampir 700-an, bisa menikmati mereka makan sepuas-puasnya," sambungnya.

Tidak main-main, tradisi nyate bareng ini membentang sepanjang kurang lebih 200 meter. Ada sekitar 1.200 tusuk sate yang dibakar massal oleh para santri.

Kemeriahan Idul Adha para santri perantauan ini kian terasa spesial dengan kehadiran Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo. Melalui program jajarannya yang bertajuk Berkurma (Berkurban Prima), pihak kepolisian menyalurkan 32 sapi dan 48 kambing ke masyarakat, termasuk ke Ponpes Dzikir Al-Fath.

Sentot bahkan ikut turun langsung membaur, memegang kipas, dan ikut menyantap sate bersama anak-anak pondok. Ia mengaku terharu sekaligus bangga melihat kebahagiaan para santri di tanah rantau.

"Luar biasa ini. Kebetulan ini juga cukup meriah, para santri juga terlihat bahagia. Kami pun cukup senang terlibat di dalamnya. Saya rasa ini perlu diteruskan karena kegiatannya sangat positif dan memang akan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya santri-santri yang ada di sini," pungkas Sentot.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads