Aktivitas angkutan umum di Terminal Cicaheum resmi dihentikan. Seluruh layanan perjalanan untuk armada Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) kini secara resmi dialihkan ke Terminal Leuwipanjang.
Kebijakan ini diambil oleh pemerintah sebagai bagian dari proyek strategis pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya. Lahan Terminal Cicaheum nantinya akan dialihfungsikan menjadi depo bus modern.
Pakar Transportasi ITB, Ir Sony Sulaksono, menilai pemindahan terminal tersebut sudah tepat secara lokasi. Namun, ia memberikan sejumlah catatan krusial yang harus diperhatikan oleh pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau menurut saya, memang namanya bus antarkota, karena studinya tidak boleh di pusat kota, ya. Jadi, pemindahan ini sudah benar ya, karena jadinya si bus-bus antarkota itu lebih mendekati jalur tol, memang seharusnya seperti itu," kata Sony via sambungan telepon, Sabtu (30/5/2026).
Meski dinilai sudah tepat secara zonasi, Sony menganggap kebijakan pemindahan ini terkesan terburu-buru. Hal itu dikarenakan infrastruktur di Terminal Leuwipanjang dianggapnya banyak yang belum siap menampung beban tambahan.
"Terus yang kedua, masalah pemindahan itu, kalau menurut saya buru-buru karena kenapa disebut buru-buru? Pertama, apakah di Leuwipanjang sudah disiapkan, tambahan-tambahan area buat jalur yang biasa ke selatan, yang biasa dari Cicaheum, gitu. Karena waktu hari Senin (berkunjung), saya lihat belum," tuturnya.
"Terus yang kedua juga masalahnya, orang yang biasa menggunakan bus ke Cicaheum, ya itu kan harus jadi ada tambahan perjalanan, harus bergeser ke Leuwipanjang. Nah, itu tidak diinformasikan dengan baik. kalau yang biasa naik angkutan umum mungkin enggak masalah, tapi kalau yang enggak biasa mungkin agak kebingungan. Karena angkot yang bisa menghubungkan ke Leuwipanjang itu kan agak sulit ya, kalau dari Bandung Timur," tambahnya.
Berbeda dengan kawasan Jalan Soekarno-Hatta yang memiliki banyak trayek angkot, Sony menyebut seharusnya dalam sepekan hingga dua pekan masa transisi, pemerintah menyediakan layanan shuttle gratis untuk penumpang dari Cicaheum menuju Leuwipanjang.
"Bahwa busnya pindah ke Leuwipanjang, harusnya ada kemudahan ya, misalnya gini semua bus pindah ke Leuwipanjang, kemudian selama satu Minggu Pemkot misalnya menyediakan shuttle, ya di Cicaheum yang mengantarkan penumpang ke Leuwipanjang, kan itu cocok, itu kan jadi bagus gitu. Jadi masyarakat tinggal terinformasikan dengan baik, pindahnya juga mudah, si operator bisnya juga happy gitu, ya," jelasnya.
Menurut Sony, bus dan penumpang bukan sekadar dipindahkan atau "dibuang" ke Leuwipanjang tanpa adanya informasi yang masif serta kemudahan akses yang diberikan oleh pemerintah.
Pejabat Harus Coba Naik Angkutan Umum
Sony menerangkan, salah satu alasan mengapa tata kelola angkutan umum menjadi sulit adalah karena para pengambil kebijakan jarang merasakan langsung pengalaman sebagai pengguna angkutan umum. Hal itu ditegaskan Sony saat disinggung mengenai penertiban bus yang masih marak ngetem di luar kawasan Terminal Leuwipanjang.
"Iya, alasannya susah ditertibkan atau apa, enggak! Asal kita serius menertibkannya gitu. Saya sering mengatakan ya, Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dinas Perhubungan Kota, Dinas Perhubungan Pusat, kalau ngatur terminal, ngatur angkutan umum, itu enggak pernah benar karena apa? Karena mereka enggak pernah naik angkutan umum. Mereka enggak pernah ngerasain ya, ke terminal naik angkot. Mereka enggak pernah ngerasain naik bis ke luar kota, enggak pernah. Jadi mereka hanya bisa secara teori, 'Oh harus gini, harus gini, harus gini,' tapi tidak pernah benar-benar ngatur," terang Sony.
Jika pemerintah serius, Sony menyebut tidak akan ada lagi bus yang ngetem di luar terminal dan seluruh penumpang diwajibkan naik dari dalam terminal. Selain pemilik angkutan umum diuntungkan, perputaran ekonomi di dalam terminal juga dipastikan akan meningkat.
"Jadi nanti, semua bus antarkota sudah pindah ke Leuwipanjang, maka Leuwipanjang harus ditata, terus kemudian diwajibkan membeli tiket di terminal. Mereka yang beli tiket di tengah jalan katakan dalam radius sekian kilometer, harga tiketnya akan lebih mahal. Tapi mereka yang beli di Leuwipanjang, itu harga tiketnya lebih murah. Harusnya kan seperti itu gitu ya, kalau memang benar-benar kita ingin menata angkutan antarkota," pungkasnya.
(wip/tya)
