Seleksi penerimaan murid baru (SPMB) Sekolah Maung SMAN 1 Tasikmalaya, telah selesai dilaksanakan.
Namun ada yang menarik, yakni tidak adanya mantan Ketua OSIS yang berhasil lolos. Padahal mantan Ketua OSIS di SMP, menjadi salah satu jalur prestasi non akademik untuk masuk Sekolah Maung.
Sebanyak 13 siswa dengan rekam jejak sebagai Ketua OSIS dipastikan gagal masuk Sekolah Maung SMAN 1 Tasikmalaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Humas sekaligus PPID SMAN 1 Tasikmalaya, Wanti Yulianti membenarkan tidak ada satu pun Ketua OSIS yang berhasil lolos seleksi.
"Untuk Ketua OSIS ada 13 siswa, tapi tidak ada sama sekali yang masuk," kata Wanti, Selasa (9/6/2026).
Dia menyayangkan SMAN 1 Tasikmalaya belum mampu menjaring para siswa yang selama ini telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan melalui perannya sebagai Ketua OSIS.
"Kami melihat talenta anak begitu hebat, kami tentunya ingin punya anak-anak berkarakter yang sangat baik khususnya dalam kepemimpinan. Tentu sangat kehilangan," kata Wanti.
Dia mengatakan keluhan dari orang tua dan calon peserta didik jalur prestasi nonakademik mulai berdatangan ke sekolah beberapa hari sebelum pengumuman hasil akhir seleksi diterbitkan.
Keluhan tersebut umumnya berkaitan dengan penurunan skor yang dialami sejumlah peserta, termasuk mereka yang memiliki rekam jejak kepemimpinan sebagai Ketua OSIS.
Menurut Wanti, pada awalnya para siswa dan orang tua sangat antusias mengikuti seleksi Sekolah Maung. Namun, pada saat terjadi perubahan skor dari sistem, sejumlah orang tua datang langsung ke sekolah untuk meminta penjelasan terkait perubahan nilai yang terjadi.
"Orangtua mempertanyakan mengapa skor anak mereka bisa turun hingga 50 poin. Kami tidak tinggal diam. Melalui kepala sekolah, kami sudah berupaya mengklarifikasi dan berkomunikasi dengan panitia di tingkat provinsi," ujar Wanti.
Dari hasil koordinasi dengan panitia provinsi, kata Wanti, diperoleh penjelasan bahwa penilaian untuk Ketua OSIS termasuk kategori prestasi yang verifikasinya dilakukan di luar kewenangan sekolah dan berada pada tingkat kementerian atau lembaga terkait.
Karena itu, nilai yang semula muncul dalam sistem kemudian mengalami penyesuaian setelah proses verifikasi selesai dilakukan.
"Nilai yang tampil pada pengumuman awal merupakan nilai sebelum penyesuaian sistem. Setelah proses verifikasi dan sinkronisasi data selesai, nilainya berubah sesuai hasil yang ditetapkan," kata Wanti.
Pihaknya tetap memberikan dukungan dan motivasi kepada para siswa yang belum berhasil lolos.
"Di manapun mereka nanti bersekolah, kami tetap mendukung dan mendoakan agar bisa berkembang sesuai potensinya masing-masing," ucapnya.
Namun demikian, Wanti menilai ada pelajaran penting yang perlu menjadi perhatian sekolah asal. Menurutnya, pemetaan potensi siswa sejak tingkat SMP perlu dilakukan lebih matang agar peserta didik dapat memilih jalur seleksi yang paling kompetitif dan sesuai dengan kekuatan yang dimiliki.
Berdasarkan data hasil seleksi yang tercantum pada sistem informasi SPMB SMAN 1 Tasikmalaya, jumlah pendaftar keseluruhan mencapai 901 calon peserta didik.
Dari jumlah tersebut, jalur akademik berbasis nilai rapor menjadi jalur dengan peminat terbanyak, yakni 667 pendaftar yang memperebutkan 257 kursi. Nilai tertinggi pada jalur ini tercatat 306,28, sedangkan nilai terendah yang masih diterima berada pada angka 270,24.
Sementara itu, pada jalur potensi akademik, kuota yang semula dialokasikan sebanyak 38 kursi berkurang menjadi 31 kursi karena hanya 31 peserta yang memenuhi persyaratan. Nilai tertinggi pada jalur ini mencapai 306,36, sedangkan nilai terendah tercatat 239,84.
Untuk jalur kompetensi akademik berbasis kejuaraan, sebanyak 77 peserta mendaftar dan memperebutkan 19 kursi. Nilai tertinggi yang tercatat mencapai 275,00, sementara nilai terendah berada di angka 168,66.
Adapun pada jalur prestasi nonakademik, kuota yang tersedia sebanyak 184 kursi. Namun, berdasarkan hasil akhir seleksi, hanya 77 peserta yang dinyatakan lolos. Nilai tertinggi pada jalur ini mencapai 658,24, sedangkan nilai terendah yang masih diterima tercatat 355,60.
Sedangkan, pada kategori Pramuka Garuda terdapat 16 pendaftar, namun hanya 6 orang yang dinyatakan lolos.
Bunga Aprilia Dwiputri, mantan Ketua OSIS di SMPN 2 Kota Tasikmalaya, sempat optimistis diterima di SMAN 1 Tasikmalaya. Kini ia harus menerima kenyataan pahit setelah nilainya mengalami penurunan dan posisinya terlempar jauh dari zona kelulusan.
Bunga mengaku semula tidak memiliki kekhawatiran terhadap peluangnya. Saat memantau hasil seleksi pada 3 Juni 2026, namanya tercatat berada di peringkat ke-33 dengan skor 377,24. Posisi tersebut masih tergolong aman karena berada dalam kuota penerimaan yang tersedia.
Namun situasinya berubah hanya dalam waktu sehari. Ketika kembali membuka sistem pada 4 Juni, ia mendapati skornya turun menjadi 326,24. Penurunan itu berdampak langsung pada peringkatnya yang merosot hingga akhirnya tak lolos seleksi.
"Waktu tanggal 3 Juni saya masih peringkat 33 dengan skor 377,24. Besoknya saya cek lagi, ternyata nilainya turun menjadi 326,24 dan peringkat saya langsung turun sampai 130," ujarnya.*
(yum/yum)