Munculnya 'Pulau Hijau' di Sungai Citarum Terungkap Kamera Satelit

Munculnya 'Pulau Hijau' di Sungai Citarum Terungkap Kamera Satelit

Yudha Maulana - detikJabar
Rabu, 10 Jun 2026 17:00 WIB
Timelapse kemunculan Pulau Hijau di Sungai Citarum
Timelapse kemunculan 'Pulau Hijau' di Sungai Citarum (Foto: Arcgis Living Atlas)
Bandung -

Wajah Sungai Citarum yang tertutup jutaan tanaman eceng gondok tengah menjadi sorotan di wilayah Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kemunculan 'Pulau Hijau' di Citarum itu terekam kamera satelit.

Berdasarkan perbandingan citra satelit tahun 2022, 2023, dan 2026 di kawasan Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, terlihat dinamika yang cukup mencolok pada tutupan permukaan Sungai Citarum oleh vegetasi air yang didominasi eceng gondok.

Timelapse eceng gondok di Sungai Citarum tepatnya di Rancapanggung, Cililin, Kabupaten Bandung BaratPenampakan Sungai Citarum tepatnya di Rancapanggung, Cililin, Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2022 (Foto: Arcgis Living Atlas)

Pada citra tahun 2022, badan sungai dan area genangan masih didominasi permukaan air terbuka. Eceng gondok sudah terlihat di beberapa titik, namun masih berupa hamparan yang tersebar dan belum membentuk penutupan masif. Alur sungai serta batas perairan masih dapat dikenali dengan jelas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Timelapse eceng gondok di Sungai Citarum tepatnya di Rancapanggung, Cililin, Kabupaten Bandung BaratPenampakan Sungai Citarum tepatnya di Rancapanggung, Cililin, Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2023 (Foto: Arcgis Living Atlas)

Memasuki tahun 2023, kondisi berubah drastis. Sebagian besar area genangan yang pada tahun sebelumnya berupa perairan terbuka tampak menyusut dan berubah menjadi hamparan daratan berlumpur. Pada periode ini, tutupan eceng gondok justru terlihat menurun karena volume air yang berkurang signifikan. Jejak sedimentasi dan pendangkalan tampak dominan di bagian tengah genangan.

Namun, perubahan paling mencolok terlihat pada citra tahun 2026. Saat volume air kembali meningkat, permukaan sungai justru didominasi warna hijau gelap yang mengindikasikan pertumbuhan eceng gondok dalam skala luas. Hamparan vegetasi air menutupi sebagian besar badan sungai, terutama pada area yang arusnya lambat dan membentuk genangan. Dibandingkan tahun 2022, luasan tutupan eceng gondok tampak berlipat ganda dan membentuk massa vegetasi yang jauh lebih rapat.

ADVERTISEMENT
Timelapse eceng gondok di Sungai Citarum tepatnya di Rancapanggung, Cililin, Kabupaten Bandung BaratPenampakan Sungai Citarum tepatnya di Rancapanggung, Cililin, Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2026 (Foto: Arcgis Living Atlas)

Secara visual, kondisi 2026 menunjukkan pergeseran dari perairan terbuka menjadi kawasan yang didominasi gulma air. Di beberapa bagian, batas antara sungai dan daratan bahkan menjadi sulit dibedakan akibat rapatnya tutupan vegetasi.

Dikutip dari biota.ac.id, fenomena ini lazim terjadi pada perairan yang mengalami eutrofikasi atau pengayaan unsur hara berlebih, terutama nitrogen dan fosfor, yang menjadi pemicu utama ledakan populasi eceng gondok. Berbagai penelitian menunjukkan eceng gondok mampu berkembang sangat cepat pada perairan yang kaya nutrien dan bahan organik.

Temuan citra satelit tersebut sejalan dengan kondisi lapangan yang belakangan memperlihatkan Sungai Citarum di kawasan Cililin berubah menjadi "hamparan hijau" akibat jutaan rumpun eceng gondok yang menutupi permukaan sungai. Pertumbuhan gulma air yang masif ini juga sering dikaitkan dengan menurunnya kualitas air serta tingginya kandungan nutrien yang terbawa aliran sungai.

Harapan Warga soal Pulau Eceng Gondok ke Hilir

Sejauh mata memandang, eceng gondok benar-benar melapisi permukaan Sungai Citarum. Tak ada celah perahu bisa menerjang rapatnya pertumbuhan gulma air yang menjadi indikasi buruknya kualitas air sungai. Restoran terapung di Sungai Citarum yang menjual pemandangan, tak punya sesuatu untuk ditawarkan pada konsumen.

Orang-orang yang mengandalkan Sungai Citarum untuk menyambung hidup kini menunggu keajaiban. Berharap arus bisa membawa pulau eceng gondok ke hilir, sehingga nelayan bisa melemparkan jala dan benar pancing berharap ada ikan yang tertangkap lalu dibawa pulang.

"Ya seperti ini kondisinya, permukaan sungainya ditutup eceng gondok. Semakin kesini semakin banyak eceng gondoknya," kata Awang Widiati, warga setempat saat dikonfirmasi, Jumat (5/6/2026).

Eceng gondok tutupi Sungai Citarum.Eceng gondok tutupi Sungai Citarum. Foto: Whisnu Pradana/detikJabar

Biasanya, Awang yang punya restoran di Jembatan Ciminyak, membeli ikan dari nelayan serta petambak Sungai Citarum. Namun sudah beberapa pekan, ia terpaksa membeli ikan dari daerah lain karena tak adanya pasokan ikan dari nelayan setempat.

"Ya kan biar sama-sama membantu, ikan yang dari tambak di sini kita beli. Ada juga yang dari nelayang, cuma kan sekarang buat ngejaring ikannya saja enggak bisa. Petambak juga kurang produksi ikannya, memang mengganggu (eceng gondok)," kata Awang.

Tak cuma itu saja, dampak pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali menyebabkan kemunculan nyamuk-nyamuk. Binatang kecil itu mulai menyerang warga, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai.

"Saya saja yang rumahnya agak jauh dari sungai masih terganggu sama nyamuk, apalagi yang di pinggir sungai. Sehari saya bisa habiskan 4 buah obat nyamuk bakar, kalau enggak gitu ya enggak bisa tidur karena terys digigit nyamuk," ucap Awang.

Diangkut Alat Berat

Permukaan Sungai Citarum, di Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), hilang ditelan jutaan batang tanaman eceng gondok. Cuma hijau yang terlihat sepanjang mata memandang.

Tak ada celah perahu bisa menerjang rapatnya pertumbuhan gulma air yang menjadi indikasi buruknya kualitas air sungai. Restoran terapung di Sungai Citarum yang menjual pemandangan, tak punya sesuatu untuk ditawarkan pada konsumen.

Dampak lain dari menjamurnya eceng gondok di musim kemarau, memicu kemunculan nyamuk-nyamuk menyerang warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai. Keluhan itu berulangkali dilontarkan, sampai akhirnya PT PLN Indonesia Power bergerak.

"Jadi memang eceng gondok ini banyak dikeluhkan, karena mengundang kemunculan nyamuk-nyamuk. Sehingga kita akhir pekan lalu melakukan pembersihan eceng gondok," kata Senior Manager PLN IP UBP Saguling, Doni Bakar saat dikonfirmasi, Selasa (9/6/2026).

Ia mengatakan pembersihan eceng gondok harus dilakukan secara rutin di sejumlah titik prioritas yang dinilai memerlukan perhatian lebih. Sebab pertumbuhan gulma air itu cukup cepat.

"Pembersihan eceng gondok harus dilakukan secara rutin. Sejauh ini memang masih dibersihkan menggunakan alat berat serta pengangkutan manual oleh personel lapangan," katanya.

Selain upaya pembersihan, pemanfaatan eceng gondok menjadi produk bernilai ekonomi juga terus didorong sebagai bagian dari pengelolaan berkelanjutan. Sehingga ketika pertumbuhan eceng gondok terjadi tanpa terkendali, bisa terselesaikan

"Di sisi lain, kami juga selalu berusaha menjaga kualitas air perairan Waduk Saguling, karena keberadaan eceng gondok menjadi indikator penurunan kualitas air," ujarnya.

Halaman 2 dari 2
(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads