Setiap tahun, masyarakat di Indonesia memperingati dua momen pergantian tahun yang berbeda, yakni Tahun Baru Masehi pada 1 Januari dan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram. Tak sedikit yang bertanya-tanya, mengapa Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi memiliki tanggal yang berbeda setiap tahunnya?
Perbedaan tersebut bukan hanya terletak pada waktu perayaannya, tetapi juga pada sistem kalender, sejarah penetapan, hingga makna yang melatarbelakanginya. Untuk memahaminya, penting mengetahui bagaimana kedua sistem penanggalan ini terbentuk dan digunakan hingga saat ini.
Mengapa Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi Berbeda?
Perbedaan utama antara Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi terletak pada sistem kalender yang digunakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun Baru Islam mengacu pada kalender Hijriah, yaitu sistem penanggalan yang berdasarkan peredaran bulan atau kalender lunar. Sementara itu, Tahun Baru Masehi menggunakan kalender Masehi (Gregorian) yang didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari atau kalender solar.
Karena dasar perhitungannya berbeda, jumlah hari dalam satu tahun pada kedua kalender pun tidak sama.
Kalender Hijriah
Kalender Hijriah terdiri dari 12 bulan dengan jumlah hari sekitar 354 atau 355 hari dalam satu tahun.
Bulan-bulan dalam kalender Hijriah adalah:
Muharram
Safar
Rabiul Awal
Rabiul Akhir
Jumadil Awal
Jumadil Akhir
Rajab
Syaban
Ramadan
Syawal
Dzulkaidah
Dzulhijjah
Karena lebih pendek sekitar 10-11 hari dibanding kalender Masehi, tanggal-tanggal penting Islam akan terus bergeser setiap tahunnya jika dilihat dari kalender Masehi.
Kalender Masehi
Kalender Masehi yang digunakan hampir di seluruh dunia terdiri dari 365 hari dalam satu tahun dan 366 hari pada tahun kabisat.
Kalender ini memiliki 12 bulan, mulai dari Januari hingga Desember, dan menjadi sistem penanggalan internasional yang digunakan dalam berbagai aktivitas pemerintahan, pendidikan, ekonomi, hingga kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Tahun Baru Islam?
Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriah merupakan pergantian tahun dalam kalender Islam yang diperingati setiap tanggal 1 Muharram.
Bagi umat Muslim, momen ini bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan waktu untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta menumbuhkan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
Di Indonesia, peringatan Tahun Baru Islam juga ditetapkan sebagai hari libur nasional setiap tahunnya.
Sejarah Tahun Baru Islam
Sejarah kalender Hijriah bermula pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.
Saat itu, Gubernur Basrah, Abu Musa Al-Asy'ari, mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khattab mengenai kesulitan mengarsipkan dokumen karena belum adanya sistem penanggalan yang mencantumkan tahun.
Menanggapi hal tersebut, Khalifah Umar kemudian mengumpulkan sejumlah sahabat, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan beberapa tokoh lainnya untuk menyusun sistem kalender Islam.
Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa usulan mengenai titik awal penanggalan Islam, seperti:
Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW
Tahun diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul
Tahun wafat Nabi Muhammad SAW
Tahun hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah
Akhirnya diputuskan bahwa peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW menjadi titik awal kalender Islam karena dianggap sebagai tonggak penting perkembangan dakwah Islam.
Dari sinilah lahir istilah kalender Hijriah, yang berasal dari kata "Hijrah".
Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama Kalender Hijriah?
Meski peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat sepakat menjadikan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.
Keputusan tersebut diambil karena Muharram dianggap sebagai awal dimulainya tekad dan persiapan hijrah setelah peristiwa Baiat Aqabah yang berlangsung menjelang akhir Dzulhijjah.
Selain itu, Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam.
Apa Itu Tahun Baru Masehi?
Tahun Baru Masehi adalah pergantian tahun berdasarkan kalender Gregorian atau kalender Masehi yang diperingati setiap tanggal 1 Januari.
Perayaan Tahun Baru Masehi menjadi tradisi global yang dilakukan hampir di seluruh negara dunia, termasuk Indonesia.
Masyarakat biasanya menyambut pergantian tahun dengan berbagai kegiatan seperti doa bersama, pesta kembang api, konser musik, hingga acara keluarga.
Sejarah Tahun Baru Masehi
Sejarah Tahun Baru Masehi berakar dari peradaban Romawi kuno.
Awalnya, bangsa Romawi menggunakan kalender yang hanya terdiri dari 10 bulan dengan total 304 hari dalam setahun. Sistem ini kemudian disempurnakan oleh Raja Romawi, Numa Pompilius, dengan menambahkan bulan Januari dan Februari.
Perubahan besar terjadi ketika Julius Caesar memperkenalkan Kalender Julian pada tahun 46 SM.
Januari dipilih sebagai bulan pertama karena diambil dari nama dewa Romawi, Janus, yang melambangkan awal dan akhir.
Kemudian pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII menyempurnakan sistem tersebut menjadi Kalender Gregorian yang digunakan hingga saat ini.
Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam di Indonesia
Di berbagai daerah, masyarakat memiliki tradisi khas dalam menyambut 1 Muharram.
Beberapa tradisi yang masih dilestarikan antara lain:
Ngadulag di Jawa Barat
Bubur Suro di masyarakat Sunda
Tapa Bisu di Yogyakarta
Kirab Kebo Bule di Surakarta
Ziarah makam ulama dan tokoh penyebar Islam
Pengajian dan doa bersama
Tradisi tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat.
Perbedaan Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi berasal dari sistem kalender yang digunakan. Tahun Baru Islam berpedoman pada kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan, sedangkan Tahun Baru Masehi menggunakan kalender Gregorian yang berbasis peredaran matahari.
Selain berbeda dari sisi perhitungan waktu, keduanya juga memiliki sejarah dan latar belakang yang berbeda. Tahun Baru Islam berakar pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sementara Tahun Baru Masehi berasal dari perkembangan sistem penanggalan Romawi kuno yang kemudian disempurnakan menjadi kalender Gregorian.
Memahami perbedaan ini dapat membantu masyarakat mengenal sejarah, budaya, dan makna yang terkandung dalam masing-masing peringatan pergantian tahun.
(tya/tya)