Kilau emas tampaknya belum kehilangan pesonanya di tengah tekanan ekonomi yang membuat daya beli masyarakat kian teruji. Di saat sebagian warga mulai lebih selektif mengatur pengeluaran, logam mulia itu masih menjadi pilihan untuk menyimpan nilai, bahkan dalam bentuk perhiasan yang bisa dikenakan sekaligus dijadikan tabungan.
Pemandangan itu tergambar dalam acara Bandung Jewellery Fair 2026 atau pameran perhiasan yang digagas Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) di Sudirman Ballroom, Kota Bandung. Pameran itu diikuti 80 tenant yang berasal dari pabrik perhiasan, distributor, desainer dan pengrajin, hingga toko perhiasan yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
Pameran ini bahkan memikat Arina, seorang ibu muda asal Cimahi, Jawa Barat. Ia sengaja datang di hari pertama karena ingin berburu emas yang ia idam-idamkan, plus mendapatkan promo yang begitu menggiurkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebetulan aku tahu event ini dari Instagram, nah aku putusin datang di hari pertama karena banyak banget promonya. Jadi kita bisa dapetin barang dengan harga yang lebih worth it banget lah," kata dia, Kamis (11/6/2026).
Setelah puas berkeliling, Arina pun sudah mendapatkan perhiasan yang ia idamkan. Sebagai ibu muda, Arina menyadari emas bukan sekadar barang yang bisa dipamerkan, namun jadi tabungan menjanjikan untuk masa depan.
"Udah dapet tadi, puas banget karena pilihannya banyak. Pokoknya mah aku mah pengennya, event-nya tuh enggak cuma sebentar gini. Mudah-mudahan misalnya event berikutnya bisa 5 hari atau seminggu gitu," ungkapnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian RI Reni Yanita mengatakan, pameran ini digelar untuk melihat animo masyarakat di saat harga emas sedang mengalami penurunan. Setelah berkeliling, Reni meyakini daya beli itu tetap tinggi karena anggapan bahwa emas merupakan tabungan di masa mendatang.
"Masyarakat Indonesia itu secara budaya melihat perhiasan kan, bukan sesuatu barang yang mereka tidak beli ya. Jadi di suasana ataupun di tengah himpitan ekonomi pun, leluhur kita aja dulu suka, termasuk nenek-nenek itu belanjanya emas. Nah, ini suatu anugerah buat masyarakat kita supaya memang terus menabung dalam bentuk perhiasan," katanya.
Reni kemudian menyarankan produsen untuk terus berinovasi di tengah situasi ekonomi sekarang. Misalnya dengan menurunkan kadar dari emas tersebut, namun bentuk perhiasan nyan tetap dipertahankan.
"Jadi secara nilai bisa dijangkau, ini juga satu inovasi menurut kami. Jadi berinovasi membuat perhiasan dengan bentuknya yang sama, tapi secara gram sebenarnya lebih rendah. Nah, otomatis kan harganya juga lebih rendah. Ini harapannya konsumen juga terus membeli emas, membeli perhiasan," ucapnya.
Ke depan, Reni berharap daya beli masyarakat tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang. Sehingga, industri emas di Indonesia terus stabil mengikuti perkembangan zaman.
"Kalau dari produsen pasti tertib. Nah, jadi kalau untuk semua sih, kita berilah izin usaha yang lebih kondusif lagi untuk produsen perhiasan, terutama untuk ekspor juga ada kemudahan-kemudahan lagi yang diberikan pemerintah," ungkapnya.
Dalam pameran, emas yang dipajang memiliki kisaran harga dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia Jeffrey Thumewa mengatakan, dalam situasi saat ini, ia berharap industri penjualan emas tetap menjadi daya tarik bagi masyarakat.
"Pameran ini juga jadi kesempatan bagi masyarakat untuk menambah koleksinya. Jadi yang paling penting, coba datang, lihat, mana tahu nanti ada yang cocok sesuai harga dan kemampuan masing-masing untuk berinvestasi," pungkasnya.
(ral/dir)