Tasikmalaya Dalam Bayang-bayang Fenomena yang Mengkhawatirkan

Round-Up

Tasikmalaya Dalam Bayang-bayang Fenomena yang Mengkhawatirkan

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 12 Jun 2026 09:00 WIB
RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya.
RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar).
Tasikmalaya -

Mereka datang dari beragam latar belakang. Ada pekerja, pencari nafkah keluarga, hingga warga yang terjebak persoalan rumah tangga. Namun, satu benang merah menghubungkan mereka, tekanan hidup yang berujung pada gangguan kesehatan mental.

Di balik wajah-wajah yang tampak biasa, tersimpan kecemasan, stres berkepanjangan, hingga depresi yang perlahan menggerus keseharian mereka. Kondisi itu tercermin dari meningkatnya jumlah pasien yang mencari pertolongan ke layanan kesehatan jiwa di RSUD dr. Soekardjo, Tasikmalaya.

Ya, Kota Tasikmalaya kini sedang mengalami fenomena yang mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, tingkat kunjungan pasien yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan jiwa di rumah sakit tersebut sedang mengalami kenaikan signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data ini bukan sekadar angka. Dalam kurun dua tahun terakhir, kedatangan warga yang membutuhkan penanganan medis terkait kesehatan mental terus merangkak naik, hingga menyebabkan waktu pelayanan di rumah sakit harus diperpanjang.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, Titie Purwaningsari, mengatakan akibat tingginya lonjakan pasien, jam operasional penanganan kini terpaksa ditambah. Jika sebelumnya pelayanan bisa diselesaikan sampai siang, kini dokter spesialis harus bersiaga hingga sore hari.

ADVERTISEMENT

"Dulu praktik dokter jiwa hanya berlangsung setengah hari. Sekarang layanan berlangsung hingga sore hari. Bahkan, sehari kami bisa melayani sekitar 60 pasien dan sebagian besar berasal dari kelompok usia produktif," kata Titie, Kamis (11/6/2026).

Alhasil, fenomena ini dinilai seperti gunung es, lantaran banyak penderita yang baru datang ke rumah sakit setelah kondisi psikologisnya memburuk.

Pemicunya pun menjadi catatan yang mengkhawatirkan. Mereka datang dengan keluhan beban ekonomi, masalah keluarga, hingga tekanan kerja.

"Stres sering berkembang tanpa disadari. Ketika keluarga mengetahui kondisinya, masalah yang dialami pasien sudah cukup serius," kata Titie.

Untuk menekan laju pertambahan pasien dengan kondisi yang sudah parah, Titie berharap keterlibatan aktif masyarakat dalam melakukan deteksi dini. Kepedulian orang-orang dan lingkungan terdekat menjadi salah satu cara efektif agar ruang perawatan tidak semakin penuh oleh pasien dengan kondisi psikologis tingkat berat.

Masyarakat diminta tanggap dan langsung membawa kerabat mereka ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat jika melihat gejala perubahan perilaku yang mencurigakan. "Penanganan sejak dini dapat mencegah kondisi menjadi lebih buruk dan mengurangi risiko terjadinya tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain," kata Titie.

Di sisi lain, lonjakan pasien yang meningkat ini mulai memberikan tekanan pada pelayanan RSUD dr. Soekardjo. Apalagi rumah sakit milik Pemkot Tasikmalaya ini hanya memiliki seorang dokter spesialis jiwa.

Selain itu, fasilitas poli rawat jalan di rumah sakit ini pun masih dalam kondisi darurat akibat proyek pembangunan gedung yang mangkrak. Pelayanan poliklinik dilakukan di ruang-ruang yang sebenarnya diperuntukkan bagi rawat inap.

"RSUD dr Soekardjo satu-satunya rumah sakit yang belum memiliki poli rawat jalan yang representatif," kata Titie.

Dia menambahkan, khusus untuk pelayanan pasien jiwa, pihak RSUD dr. Soekardjo sudah memproyeksikan layanan tersebut sebagai program unggulan, bahkan perencanaannya telah matang. "Kami sudah mengajukan pengembangan layanan unggulan kesehatan jiwa. Kami berharap program tersebut dapat terealisasi pada tahun 2027," kata Titie.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Apakah Video Game Punya Pengaruh Besar Terhadap Agresi?"
[Gambas:Video 20detik]
(ral/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads