Lima Kebiasaan Sepele yang Bisa Memicu Gagal Ginjal di Usia Muda

Kabar Nasional

Lima Kebiasaan Sepele yang Bisa Memicu Gagal Ginjal di Usia Muda

Elmy Tasya Khairally - detikJabar
Rabu, 17 Jun 2026 07:00 WIB
Chronic kidney disease, Asian woman with model for treatment urinary system, urology, Estimated glomerular filtration rate eGFR.
Ilustrasi ginjal (Foto: Getty Images/sasirin pamai)
Jakarta -

Penyakit gagal ginjal kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus gangguan ginjal juga semakin banyak ditemukan pada usia muda dan produktif.

Sebagaimana dilansir dari detikHealth, para ahli menilai kondisi tersebut tidak lepas dari pola hidup yang kurang sehat. Sejumlah kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele ternyata dapat mempercepat kerusakan ginjal dan meningkatkan risiko gagal ginjal kronis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, mengatakan gagal ginjal pada usia muda umumnya berkaitan dengan berbagai faktor yang saling memengaruhi, terutama gaya hidup.

"Umumnya tidak ada penyebab tunggal. Penyakit ini proses berjalannya lama tapi progresif," kata dr. Tunggul.

ADVERTISEMENT

Berikut lima kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal sejak dini.

1. Terlalu Banyak Mengonsumsi Garam

Asupan garam yang berlebihan dapat memicu tekanan darah tinggi, salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronis.

Mengutip National Kidney Foundation, kandungan natrium yang tinggi dapat membuat ginjal bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan cairan dan tekanan darah dalam tubuh.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), dr. Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH, mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan tinggi garam, termasuk camilan asin yang kerap dikonsumsi setiap hari.

Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko hipertensi yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan ginjal.

"Ngemil makanan asin jelas mengandung garam yang tinggi. Garam itu meningkatkan hipertensi, kalau tidak terkendali itu risikonya (gagal ginjal, red) meningkat jadi harus dikurangi ya," kata dr. Pringgo.

2. Kurang Bergerak atau Malas Beraktivitas

Gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik juga menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Kurangnya aktivitas dapat memicu berbagai penyakit metabolik seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes yang berhubungan erat dengan gangguan ginjal.

Menurut dr. Pringgo, kebiasaan menggunakan kendaraan untuk aktivitas jarak dekat sekalipun dapat mengurangi aktivitas fisik harian yang dibutuhkan tubuh.

"Misal ke toko dekat rumah saja pakai kendaraan ya, jadi kurangnya aktivitas fisik itu bisa mengganggu fungsi ginjal," ujarnya.

Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan orang dewasa usia 18 hingga 64 tahun melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit per minggu, seperti berjalan cepat. Alternatif lainnya adalah aktivitas berat selama 75 hingga 150 menit per minggu, seperti berlari.

Selain itu, latihan penguatan otot dan tulang, seperti push-up, sit-up, atau plank, disarankan dilakukan setidaknya dua kali dalam seminggu.

3. Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Olahan

Makanan olahan atau ultra processed food juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit ginjal.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2022 menemukan bahwa individu yang sering mengonsumsi makanan olahan memiliki risiko penyakit ginjal sekitar 24 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.

Jenis makanan ini umumnya mengandung kadar gula tambahan, natrium, lemak tidak sehat, serta berbagai zat aditif dalam jumlah tinggi. Sebaliknya, kandungan serat dan nutrisi penting lainnya relatif rendah.

Konsumsi gula berlebihan juga dapat memicu obesitas dan tekanan darah tinggi yang menjadi faktor utama terjadinya gangguan ginjal.

4. Kurang Minum Air Putih

Mencukupi kebutuhan cairan merupakan salah satu cara paling sederhana untuk menjaga kesehatan ginjal.

Kurangnya asupan air dapat mengganggu kemampuan ginjal dalam menyaring limbah dan racun dari dalam tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, peradangan, hingga pembentukan batu ginjal.

"Biasanya bertahap gejalanya dan melalui penyakit yang lain misalnya jadi risiko infeksi berulang karena kekurangan cairan, salurannya berisiko infeksi. Kemudian ada batu ginjal karena kekurangan cairan jadi zat-zat pembentuk batu tinggi sehingga terjadi batu ginjal itu melalui hal tersebut," ujar dr. Pringgo.

Secara umum, orang dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar dua liter atau delapan gelas air putih per hari. Namun, kebutuhan cairan dapat berbeda pada setiap individu tergantung aktivitas dan kondisi kesehatannya.

5. Kurang Tidur

Tidur yang cukup dan berkualitas juga berperan penting dalam menjaga fungsi ginjal.

Selama tidur, tubuh menjalankan berbagai proses pemulihan, termasuk mengatur fungsi organ dan sistem metabolisme. Ginjal sendiri bekerja mengikuti ritme sirkadian atau siklus tidur dan bangun yang berlangsung selama 24 jam.

Karena itu, kebiasaan begadang atau kurang tidur dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan ginjal dan organ tubuh lainnya.

Mengutip Mayo Clinic, orang dewasa disarankan tidur setidaknya tujuh jam setiap malam untuk menjaga kesehatan secara optimal.

Menjaga kesehatan ginjal tidak harus dilakukan dengan langkah yang rumit. Membatasi konsumsi garam, rutin berolahraga, mengurangi makanan olahan, mencukupi kebutuhan cairan, dan tidur yang cukup merupakan kebiasaan sederhana yang dapat membantu menurunkan risiko gagal ginjal sejak usia muda.

Artikel ini sudah tayang di detikHealth




(elk/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads