Di balik ramainya kampanye kesehatan anak yang digagas generasi muda, lahir sebuah gerakan yang berangkat dari cerita sederhana. Seorang teman yang hidup dengan kondisi buta warna, namun mampu tumbuh dan berkembang karena mengetahui kondisinya sejak dini.
Pengalaman itulah yang mendorong komunitas Anak Cerah Indonesia (ACI) meluncurkan Nayan Project, sebuah gerakan edukasi dan deteksi dini buta warna yang menyasar anak-anak sekolah. Program tersebut digelar di SDN 022 Cicadas, Kota Bandung dengan menggandeng RS Mata Pusat Cicendo dan Panon Mahia Nusa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi banyak orang, buta warna sering dianggap persoalan sepele. Padahal, kondisi tersebut dapat memengaruhi proses belajar, pilihan pendidikan, hingga karier seseorang di masa depan.
Direktur Utama RS Mata Pusat Cicendo Bandung, Antonia Kartika, menjelaskan bahwa buta warna atau color vision deficiency merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan membedakan warna tertentu, terutama merah dan hijau, akibat gangguan pada sel kerucut di retina mata.
"Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes menunjukkan prevalensi sekitar 0,7%. Namun, berbagai penelitian pada populasi sekolah dan masyarakat menemukan angka antara 2-5%, dengan dominasi kasus pada anak laki-laki. Meski berpengaruh pada masa depan dan karier, sejauh ini edukasi terkait buta warna masih minim. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu memahami tanda-tanda awal, seperti anak sering salah menyebut warna, kesulitan mengikuti pelajaran yang menggunakan kode warna, atau mengalami kebingungan saat membaca peta dan grafik berwarna," ujar dr. Antonia dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, deteksi dini bukan bertujuan membatasi masa depan anak. Sebaliknya, pemeriksaan sejak usia dini justru membantu anak memahami kondisinya dan beradaptasi dengan lebih baik.
"Kesadaran sejak usia dini akan membuat anak memahami bahwa buta warna bukanlah kekurangan yang menghalangi prestasi, melainkan kondisi yang dapat dikelola dengan pengetahuan dan strategi yang tepat," ucapnya.
RS Mata Cicendo menilai keterlibatan generasi muda dalam kampanye kesehatan mata menjadi langkah penting. Terlebih, sebagian besar proses tumbuh kembang anak sangat bergantung pada fungsi penglihatan.
"Fakta menunjukkan bahwa sekitar 75% dari perkembangan seorang anak, baik motorik, emosional, maupun kognitif, berawal dari penglihatan. Fungsi penglihatan tidak hanya mendeteksi objek, apakah ia melihat secara jelas atau buram, tetapi juga mengidentifikasi warna," ungkap penulis buku Nayan & Misteri Warna tersebut.
Ia menjelaskan, kemampuan mengenali warna memiliki peran besar dalam proses belajar. Hampir seluruh mata pelajaran menggunakan unsur warna, mulai dari grafik, peta, diagram, hingga media pembelajaran lainnya.
Karena itu, anak dengan gangguan penglihatan warna kerap dianggap salah memahami pelajaran, padahal sebenarnya mereka hanya melihat warna secara berbeda.
Di balik lahirnya Nayan Project, ada cerita pribadi yang menjadi pemantik gerakan tersebut. Founder Anak Cerah Indonesia, Celine Winarta, mengaku ide kampanye ini muncul setelah melihat langsung pengalaman temannya yang mengalami buta warna.
"Namun, karena terdeteksi sejak dini, kawanku itu dapat hidup normal dan berkembang dengan baik. Maka sejak itu aku tergerak untuk melakukan sesuatu," ujar Celine.
Keinginan itu semakin kuat setelah ia membaca buku Nayan & Misteri Warna karya dr. Antonia yang membahas pentingnya pemahaman tentang buta warna sejak usia dini.
"Ketiga, kami membaca buku Nayan & Misteri Warna, karya dr. Antonia, yang kebetulan juga menjadi Dirut RS Cicendo," katanya.
Bandung dipilih sebagai titik awal pelaksanaan program karena menjadi tempat tinggal Celine sekaligus lokasi RS Mata Cicendo sebagai rumah sakit mata nasional.
Melalui Nayan Project, ACI mengusung tiga misi utama, yakni meningkatkan kesadaran publik tentang kesehatan anak, menjadi wadah relawan muda untuk terlibat dalam kegiatan sosial, serta menghadirkan aksi nyata di bidang kesehatan.
Celine menegaskan gerakan ini tidak akan berhenti di Bandung. Setelah menjangkau sekolah-sekolah di Kota Kembang, program serupa akan diperluas ke berbagai daerah lain di Indonesia.
"Termasuk, kita mau memberikan edukasi ke publik bahwa BPJS seharusnya juga mencover pemeriksaan buta warna. Sejauh ini belum, mungkin karena kurangnya informasi tentang buta warna itu sendiri. Setelah itu, kita harapkan Nayan Project bisa berlanjut ke provinsi lain dan seterusnya. Selain itu, kita juga terus menguatkan campaign melalui social media, mengingat Gen-Z dan Gen-Alpha merupakan digital native," kata Celine.
(bba/dir)
