Hari kedua pasca-tumpahnya ribuan ton batubara di perairan Pantai Sukaresik, Kabupaten Pangandaran, luasan pencemaran terus meluas. Air laut yang semula berwarna biru kini berubah menghitam di sejumlah titik pesisir, memunculkan kekhawatiran cemaran akan mencapai kawasan wisata utama Pangandaran.
Berdasarkan pantauan di lapangan, partikel batubara yang tersebar di laut telah bergerak mengikuti arus hingga mendekati Pantai Batuhiu dan wilayah pesisir Cikembulan Pass. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena sebaran pencemaran berpotensi menjangkau kawasan wisata yang menjadi andalan Pangandaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi yang beredar di lapangan juga menyebutkan cemaran mulai terdeteksi di wilayah Pantai Batukaras. Meski demikian, kondisinya disebut tidak separah yang terjadi di Pantai Sukaresik yang menjadi titik utama terdampak.
Diketahui, batubara yang tumpah ke laut berasal dari kapal tongkang yang mengalami insiden di perairan tersebut. Total muatan yang jatuh ke laut diperkirakan mencapai 8.000 ton.
Pantauan detikJabar di Pantai Sukaresik menunjukkan kondisi kapal tongkang kini telah terbalik dan sebagian besar badan kapal hampir tertutup gelombang laut. Di sekitar lokasi, warna air tampak hitam pekat menyerupai air comberan. Padahal sebelumnya kawasan perairan tersebut dikenal memiliki air laut yang jernih dan berwarna biru.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah warga terlihat mendatangi lokasi untuk mengambil batubara yang terdampar di pesisir menggunakan kantong plastik maupun karung. Namun, setelah petugas datang ke lokasi, batubara yang sempat diambil warga diminta dikembalikan untuk diamankan.
Kasat Polairud Polres Pangandaran AKP Anang Tri mengatakan sebaran pencemaran terus bergerak mengikuti arus dan gelombang laut yang mengarah ke kawasan wisata Pangandaran.
"Khawatirnya memang meluas ke daerah wisata," ucap Anang kepada detikJabar, Jumat (9/5/2026).
Menurut Anang, luas wilayah yang terdampak diperkirakan masih akan bertambah seiring pergerakan arus laut. Selain itu, kondisi kapal tongkang yang kini terbalik akibat diterjang ombak juga menjadi perhatian petugas di lapangan.
"Dari pihak kepolisian telah mengamankan TKP agar tidak bergeser lebih jauh, terutama dari destinasi wisata utama," katanya.
Hingga kini, tim gabungan masih melakukan pemantauan untuk memastikan sejauh mana penyebaran pencemaran akibat tumpahan batubara tersebut.
"Persisnya untuk luasan akan kami cek bersama tim Gabungan," ucap dia.
Anang juga mengimbau masyarakat agar tidak mendekati lokasi kejadian maupun mengambil batubara yang terdampar di pesisir. Selain berpotensi mengganggu proses penanganan, debu yang dihasilkan dari material batubara juga dinilai dapat membahayakan kesehatan.
Ia mengingatkan warga untuk tetap menjaga jarak dari area terdampak sampai proses penanganan dan pembersihan dilakukan oleh pihak terkait.
(dir/dir)
