Rahasia Bawah Tanah: Jaringan Jamur Bumi Capai 110 Kuadriliun Km

Kabar Internasional

Rahasia Bawah Tanah: Jaringan Jamur Bumi Capai 110 Kuadriliun Km

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Minggu, 21 Jun 2026 11:30 WIB
IN SPACE - In this handout provided by the National Aeronautics and Space Administration, Earth as seen from a distance of one million miles by a NASA scientific camera aboard the Deep Space Climate Observatory spacecraft on July 6, 2015. (Photo by NASA via Getty Images)
Planet Bumi (Foto: NASA via Getty Images).
Bandung -

Pernahkah Anda membayangkan ada "internet alami" yang membentang di bawah kaki kita? Para ilmuwan baru saja memetakan seluruh jaringan jamur bawah tanah di Bumi dan hasilnya benar-benar di luar nalar. Jaringan ini begitu masif, hingga jika ditarik garis lurus, panjangnya mampu menjangkau sistem bintang lain, bahkan membelah sebagian besar galaksi Bima Sakti.

Studi terobosan yang dirilis dalam jurnal Science ini menyoroti mikroorganisme bernama jamur mikoriza arbuskular. Bukan sekadar jamur biasa, mereka adalah tulang punggung tersembunyi bagi tanah planet kita. Tugasnya vital, mengedarkan air, menyalurkan nutrisi, hingga menjadi pahlawan iklim dengan mengunci cadangan karbon dalam jumlah raksasa.

Data mengejutkan lainnya mengungkap bahwa total berat jaringan jamur global ini mencapai sekitar 300 megaton. Angka ini setara dengan empat hingga enam kali lipat berat seluruh umat manusia di Bumi. Sekitar 40% dari massa tersebut terkonsentrasi di padang rumput dataran tinggi serta lahan basah, seperti kawasan ikonik Taman Nasional Everglades di Florida.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para peneliti berharap temuan ini membuka mata dunia akan peran krusial jaringan jamur yang selama ini terabaikan. Padahal, sekitar 70% kehidupan tanaman darat sangat bergantung pada keberadaan mereka untuk bertahan hidup.

"Orang-orang sama sekali tidak memperhatikan ekosistem ini," ungkap penulis studi, Toby Kiers, ahli biologi evolusioner di Vrije University Amsterdam sekaligus direktur Society for the Protection of Underground Networks (SPUN), dikutip detikINET dari Futurism.

"Saya berharap temuan ini dapat memicu diskusi untuk perlindungan mereka, karena padang rumput liar menghilang sangat cepat. Area-area ini adalah kawasan yang benar-benar sedang dirusak manusia, karena jauh lebih mudah membabat rumput daripada menebang pohon," tambah penulis lain Justin Stewart, yang juga ahli biologi di SPUN.

Demi menyingkap rahasia bawah tanah ini, tim peneliti membedah lebih dari 16.000 sampel tanah dari 300 makalah ilmiah terdahulu. Data mengenai kepadatan filamen jamur atau hifa dari berbagai belahan dunia tersebut kemudian diolah menggunakan teknologi machine learning untuk memprediksi kepadatan jaringan pada lapisan tanah atas.

Hasilnya sungguh mencengangkan. Model tersebut menemukan bahwa Bumi "diselimuti" oleh lebih dari 110 kuadriliun kilometer hifa. Jarak fantastis ini hampir semiliar kali lipat jarak antara Bumi dan Matahari. Jika dibawa ke skala kosmik, ukurannya setara dengan 12.000 tahun cahaya, atau sekitar sepersepuluh dari diameter galaksi kita.

Ini adalah potret paling benderang yang pernah ada mengenai bagaimana jaringan jamur menopang kehidupan di daratan. Namun, tantangan besar masih menanti: para ilmuwan masih harus memetakan lebih detail mengenai tingkat kesehatan jamur-jamur ini serta seberapa besar ancaman kerusakan yang sedang mengintai mereka.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads