Udara sejuk langsung menyergap pori-pori kulit saat kendaraan mulai merayapi kontur jalanan curam di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Perjalanan menuju Desa Ridogalih ini memaksa siapa pun untuk awas, jalannya meliuk tajam, berkelok-kelok membelah bentang vegetasi hutan yang masih sangat rapat.
Aura magis dan asri di kawasan ini begitu kental terasa. Wajar saja, wilayah perbukitan ini berdekatan dengan lanskap kampung adat Kasepuhan yang masyarakatnya masih memegang teguh tradisi karuhun dan hidup selaras dengan alam.
Di tengah kepungan sabuk hijau itulah, tersembunyi sebuah perkampungan yang menyimpan sejarah panjang tentang kejayaan alamnya, Kampung Kadubengkung. Sebuah nama yang hari ini menjadi ironi, karena 'tuan rumah' yang menjadi asal-usul penamaannya justru telah lama tiada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam bahasa Sunda, Kadu berarti durian, sementara Bengkung bermakna melengkung atau doyong. Puluhan tahun silam, kampung ini adalah 'kiblat' bagi para pemburu buah berduri dengan kualitas nomor wahid.
Hendi Adom (57), pria paruh baya yang lahir dan besar di tanah ini, menerawang jauh. Ia memutar cerita ayahnya ke waktu 70 tahun silam, era di mana wangi semerbak durian menjadi napas kehidupan warga setempat.
Nama Kadubengkung tuturnya, diambil dari sebuah pohon durian yang wujudnya sangat tidak biasa.
"Dulu itu memang ada kadu bengkung, pohon durian yang batangnya tumbuh miring atau doyong ke bawah. Besarnya bukan main. Untuk memeluk batangnya saja, butuh rentangan tangan empat orang dewasa. Posisinya dulu ada di area bawah, di belakang permukiman warga," tutur Hendi mengisahkan sang legenda, saat ditemui detikJabar, Minggu (21/7/2026).
Masa Keemasan Tiga Durian Raksasa
Di masa kecil Hendi, Kadubengkung bukan sekadar permukiman biasa, melainkan tegalan subur yang dipayungi rimbunnya pohon-pohon durian raksasa. Kualitas rasanya pun melegenda.
"Durian dulu itu rasanya super. Dagingnya tebal, manis, dan legit. Berbeda dengan durian sekarang yang kadang ada hambar-hambarnya. Zaman dulu itu rasanya manis semua, wangi sekali," kenang Hendi dengan mata berbinar.
Saking melimpah dan berkualitasnya, warga sampai memberikan 'gelar' untuk tiga pohon durian lokal penguasa tegalan tersebut. Tiga raksasa itu adalah Kadubengkung, Si Gosali, dan Si Kuda.
Hendi menyebut, jika Kadubengkung butuh pelukan empat pria dewasa, ukuran pohon Si Kuda jauh lebih tidak masuk akal. "Si Kuda itu empat pelukan orang dewasa saja tidak cukup untuk merengkuh batangnya. Sangat raksasa," imbuhnya.
Namun, sang raksasa manis tidak mati karena usia. Mereka tumbang oleh roda zaman dan pergeseran ambisi ekonomi warga. Cerita kepunahan ini disambung oleh Diwan, warga setempat yang melewati masa transisi pergantian lanskap alam Kadubengkung.
Ingatan masa kecil Diwan masih merekam dahan-dahan sisa pohon durian raksasa itu.
"Hiburan kami waktu kecil itu ya memanjat sisa-sisa pohon durian kejayaan itu. Kalau sedang musim, wanginya semerbak ke seluruh penjuru kampung," cerita Diwan.
Sayangnya, pohon-pohon legendaris itu, termasuk sang ikon Kadubengkung, perlahan ditebangi satu per satu secara sengaja. Warga saat itu tergiur oleh komoditas baru yakni Cengkih.
"Pohon durian tak lagi menjanjikan, berganti jadi cengkih semua. Waktu saya mulai dewasa, itu adalah masa keemasan cengkih. Semua warga sibuk memanen berkarung-karung. Dulu wangi durian, lalu berubah jadi wangi cengkih yang dijemur di setiap halaman rumah. Ekonomi warga sangat terbantu saat itu," papar Diwan.
Perbukitan yang tadinya dipenuhi tajuk durian, bersalin rupa menjadi hamparan cengkih yang menjanjikan kekayaan.
Ironi Hama dan Ranting yang Meranggas
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, alam seolah menagih kembali keseimbangannya. Cengkih yang dulu dielu-elukan sebagai tanaman penyelamat dan pengganti sang durian legendaris, kini menghadapi nasib yang tak kalah tragis.
Diwan menatap nanar ke arah perbukitan yang perlahan kehilangan tajuk hijaunya. Dalam beberapa waktu terakhir, hama penyakit menyerang perkebunan cengkih warga tanpa ampun.
"Sekarang cengkih pun habis. Diserang hama, daunnya satu per satu meranggas, rantingnya mengering cokelat, lalu perlahan pohonnya mati," keluh Diwan.
Hari ini, suara kapak dan gergaji kembali terdengar di Kadubengkung. Namun bukan untuk membuka lahan baru, melainkan menebangi sisa-sisa pohon cengkih yang telah mati agar penyakitnya tidak menular.
Lanskap agraris Kadubengkung terus berubah, menyisakan ironi yang berlapis. Durian raksasa berbatang doyong telah ditebang, wangi cengkih pun kini perlahan sirna dilahap hama.
Di tengah sunyinya angin perbukitan Cikakak, hanya nama Kadubengkung yang tersisa, berdiri tegak sebagai monumen ingatan yang tak akan pernah meranggas dimakan zaman.
(sya/sud)
