Minggu lalu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB merilis prediksi yang cukup meyakinkan, El Nino bakal terbentuk di akhir tahun 2026 ini. Peluang terjadinya pun nggak main-main, yakni mencapai 80 persen.
Kini, kabar tersebut bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas. Salah satu otoritas cuaca terkemuka dunia telah mengetok palu. Melansir detikINET dari Futurism, Minggu (14/6/2026), Badan Meteorologi Jepang (JMA) resmi mendeklarasikan bahwa El Nino tengah aktif melanda kita.
Hanya berselang sehari setelah pernyataan JMA, US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyusul dengan merilis peringatan serupa. Mereka menyatakan bahwa El Nino telah resmi terbentuk di wilayah Pasifik tropis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena iklim alami yang ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih hangat dari biasanya ini memang sudah lama diprediksi bakal tiba. Kini, seiring munculnya konsensus dari berbagai lembaga cuaca dunia, peringatan akan potensi kekuatannya pun semakin nyata.
Sebagai gambaran, NOAA memprediksi El Nino kali ini bakal menguat ke level sedang hingga kuat pada periode September sampai November mendatang. Ada peluang sebesar 63 persen kenaikan suhu permukaan laut akan menembus angka dua derajat Celcius di titik tertentu Samudra Pasifik. Jika skenario ini terjadi, rekor El Nino terburuk yang pernah tercatat pada tahun 1877 dipastikan bakal pecah!
Secara teknis, El Nino diperkirakan bakal memperkuat aliran jet Pasifik. Dampaknya bisa sangat kontras: wilayah Barat Tengah Amerika Serikat bakal mengalami kondisi yang jauh lebih kering, sementara wilayah Selatan AS justru terancam diguyur curah hujan lebat. Kanada dan negara-negara bagian utara AS juga kemungkinan besar akan terpapar suhu yang jauh lebih panas, yang berpotensi memicu kebakaran hutan musim panas yang lebih hebat.
Meski begitu, dampak pastinya baru akan benar-benar terlihat saat siklus ini mencapai puncaknya. "Tidak semua El Nino itu sama; masing-masing unik dengan dampaknya tersendiri terhadap cuaca kita," ungkap Ken Graham, direktur Layanan Cuaca Nasional NOAA.
Graham menekankan bahwa teknologi saat ini jauh lebih siap dalam memitigasi dampak tersebut. "Pemantauan tingkat lanjut dan pemahaman yang lebih baik tentang pola-pola El Nino memungkinkan Layanan Cuaca Nasional memprediksi dengan lebih baik, serta mempersiapkan masyarakat dan mitra inti kami dengan lebih matang dalam menghadapi apa yang akan datang," imbuhnya.
Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Video: Antisipasi El Nino, Pramono Prioritaskan Ketahanan Pangan-Pencegahan ISPA"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
