Kisah Abah Sarnuh, 19 Tahun Mandiri Listrik di 'Gudang Maung'

Kisah Abah Sarnuh, 19 Tahun Mandiri Listrik di 'Gudang Maung'

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Senin, 22 Jun 2026 21:30 WIB
Abah Sarnuh dan Kincir Air pembangkit listrik miliknya
Abah Sarnuh dan Kincir Air pembangkit listrik miliknya (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar).
Sukabumi -

Di saat masyarakat perkotaan kerap mengeluhkan kenaikan tarif listrik atau pemadaman bergilir, seorang lansia di pelosok Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, justru santai menikmati pasokan listrik gratis.

Ia adalah Abah Sarnuh, pria tangguh yang berhasil membebaskan diri dari ketergantungan setrum PLN selama hampir dua dekade.

Bukan menggunakan teknologi mahal seperti panel surya, Abah Sarnuh secara mandiri merakit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sederhana berbekal kincir kayu dan barang-barang bekas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

detikJabar mencoba menyambangi langsung kediamannya di Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi. Perjalanan menuju lokasinya terbilang ekstrem.

Dari area parkir lokasi wisata Villa Kaca Pasir Datar, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki menanjak membelah jalur berbatu selama hampir satu jam. Jalur ini hanya bisa dilalui oleh kendaraan yang sudah dimodifikasi khusus seperti motor trail.

ADVERTISEMENT

Namun, rasa lelah itu langsung terbayar saat melihat sebuah rumah panggung kayu berornamen ukiran merah-kuning yang asri. Di sinilah Abah Sarnuh tinggal, ditemani suara gemercik air sungai yang beradu nyaring dengan deru konstan katrol pembangkit listrik ciptaannya.

Tolak Bayar Kabel Belasan Juta

Kisah kemandirian energi ini dimulai pada tahun 2007 lalu. Saat itu, aliran listrik dari PLN sebenarnya sudah mulai masuk ke wilayah bawah permukiman. Adik-adik Abah Sarnuh sempat menawarkan agar rumahnya ikut menyambung listrik.

"Tahun 2007 itu ada tawaran pasang lampu (listrik PLN). Bayarnya Rp 600 ribu, itu dulu," kenang Abah Sarnuh saat berbincang hangat dengan detikJabar di teras rumahnya, Senin (22/6/2026).

Namun, masalah besar muncul karena lokasi rumah Abah Sarnuh yang terisolasi di atas bukit. Setelah dihitung-hitung, ia membutuhkan sedikitnya 32 rol kabel atau setara dengan 3.200 meter agar setrum PLN bisa sampai ke rumahnya.

Total biaya yang harus ia rogoh dari koceknya mencapai Rp 11,2 juta. Angka yang sangat fantastis bagi seorang petani.

"Memang diizinkan kalau sejauh ini dari PLN? Kan tidak diizinkan kalau jauh-jauh kayak gini. Harus beli 32 rol kabel, berarti 3.200 meter," keluhnya.

Khawatir biaya perawatan yang mahal dan risiko kabel dicuri di tengah hutan, Abah Sarnuh memutar otak. Ia teringat cerita masa lalu di Desa Cikahuripan tentang seseorang bernama Pak Guru Darmaji yang bisa membuat listrik dari dinamo. Dari sanalah idenya muncul.

Modal Rp 3,2 Juta, Kuat Terangi 10 Rumah

Abah Sarnuh akhirnya memutuskan mengalihkan modalnya. Alih-alih membeli kabel PLN, ia pergi ke Kota Sukabumi dengan mengantongi uang Rp 3,2 juta untuk membeli dinamo, kabel secukupnya, dan kayu untuk merakit kincir.

Modal nekat dan belajar secara autodidak, Abah Sarnuh berhasil menciptakan pembangkit listrik sendiri. Kehebatannya tak main-main, di masa-masa awal, PLTA mini tersebut sanggup menerangi hingga 10 rumah sekaligus dengan total sekitar 70 titik lampu tanpa redup.

"Dulu mah sama anak-anak di sini sampai 10 rumah juga kuat, kurang lebih 70 gantungan lampu dan itu konstan. Yang penting airnya gede," kata Abah dengan mata berbinar.

Bahkan, saat anak dan cucunya masih tinggal bersamanya, listrik hasil hantaman air sungai itu kuat menyalakan tiga unit televisi hingga kulkas.

Namun kini, karena anak-anaknya sudah pindah ke area kampung bawah demi akses sekolah, pasokan listrik difokuskan untuk dua rumah dan satu musala miliknya.

"Sekarang mah buat malam doang untuk penerangan. Kalau siang kan sudah terang," imbuhnya.

Pantauan langsung detikJabar, rahasia ketangguhan listrik Abah Sarnuh terletak pada kreativitas pemanfaatan barang bekas. Abah Sarnuh memanfaatkan pelek roda sepeda bekas yang dialihfungsikan sebagai katrol penggerak besar. Pelek tersebut dihubungkan menggunakan sabuk (belt) ke sebuah dinamo kecil yang disangga oleh balok-balok kayu tua berlumut di atas sungai.

Di bagian bawah, sebuah kincir kayu berputar sangat cepat karena dihantam arus air. Agar dorongan air maksimal, Abah Sarnuh membuat sistem sirkulasi rapi menggunakan pipa paralon besar berwarna hijau dan putih, serta belahan bambu sebagai corong pengarah air.

Meski demikian, alat yang sudah beroperasi sejak tahun 2007 ini mulai menunjukkan tanda-tanda "kelelahan". Abah mengakui, dalam beberapa tahun terakhir lampu di rumahnya kerap berkedip karena komponen dinamo yang sudah aus termakan usia.

"Ada kendala sekarang mah, kalau dinyalakan ada kedip-kedipan. Sudah sekitar 7 tahun begini karena dinamonya sudah usia, harusnya diganti baru yang lebih bagus," tutur Abah Sarnuh penuh harap.

'Nekat' Buka Lahan di Bekas Sarang Harimau

Kemandirian Abah Sarnuh tidak hanya soal listrik. Karakter tangguhnya sudah terlihat sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Desa Sukamulya pada tahun 1998 silam, tepat di era puncaknya krisis moneter.

Kala itu, wilayah yang kini digarapnya adalah lahan terlantar Hak Guna Usaha (HGU). Hebatnya, area tersebut dulunya dijauhi dan ditakuti oleh seluruh warga kampung karena dikenal sebagai habitat babi hutan hingga macan.

"Abah nanyain ke orang-orang, siapa yang mau menggarap lahan di situ? Enggak ada yang mau, dikarenakan itu mah gudang maung (sarang harimau/macan). Pada takut semua orangnya," kenang Abah sembari tertawa.

"Tapi Abah berani lah, daripada menganggur di kampung enggak punya lahan," tambahnya.

Kini, di atas lahan yang dulunya menyeramkan itu, Abah Sarnuh sukses hidup mandiri sebagai petani. Saban hari, ia berkebun menanam bibit wortel, daun bawang, hingga kucai untuk menyambung hidup. Di usia senjanya, ditemani sang istri dan aliran listrik gratis dari alam, Abah Sarnuh membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk berinovasi dan berdaulat di tanah sendiri.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menghangatkan Malam dengan Bakar-bakar dan Kembang Api di Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik]
(sya/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads