Kontroversial Lagu Bupati Purwakarta, Ini Lirik 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat'

Kontroversial Lagu Bupati Purwakarta, Ini Lirik 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat'

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Rabu, 01 Jul 2026 14:13 WIB
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein
Foto: Istimewa
Bandung -

Lagu milik Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" tengah menjadi sorotan. Lagu berbahasa Sunda itu jadi viral karena liriknya dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan.

Lirik lagu tersebut tersebar luas di berbagai platform media sosial. Sejumlah pihak menilai isi lagunya tidak sekadar humor, tetapi menyentuh isu biologis perempuan sehingga dianggap merendahkan dan bias gender.

Seperti apa lirik lagu yang menjadi sorotan tersebut? Berikut ulasannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lirik Lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat"

Berikut lirik lagu dan artinya dalam bahasa Sunda.

Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan

ADVERTISEMENT

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki

Cacak mun jadi awewe
Andai saja jadi perempuan

ES-Em-Pe kelas tilu
SMP kelas tiga

Tos Karuron tujuh kali
Sudah keguguran tujuh kali

Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki

Teu kudu meuli kutang
Tidak usah membeli bra

Nu busana leuwih gede batan susu
yang busanya lebih besar dari payudara

Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki

Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
Alatan telat bulan

Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki

Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
Tidak usah melukis alis dan bulu mata

Sakalina ngiceup hese beunta
Sekali kedip susah melek

Lalaki langit
Lelaki langit

Lalanang bejad
Lelaki bejat

Lagu Bupati Purwakarta Tuai Kontroversi

Beberapa bagian lagu membandingkan pengalaman menjadi laki-laki dan perempuan. Lirik yang menyinggung persoalan kehamilan, keguguran, menstruasi, hingga penggunaan atribut perempuan dinilai sebagian kalangan sebagai candaan yang tidak sensitif.

Perdebatan pun berkembang mengenai batas antara kebebasan berekspresi dalam seni dan penghormatan terhadap perempuan.

"Lalaki Langit, Lalanang Bejat" pertama kali diperkenalkan dalam rangkaian acara Hajat Bumi di Lingga Mukti. Awalnya, lagu tersebut disebut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Kemudian Zein mengunggah video lagu tersebut di akun TikTok pribadinya @omzein_bupatiaing pada 18 Januari 2026 lalu.

Lagu tersebut telah dilihat lebih dari 27 ribu kali dan menuai komentar.

"Teu mantes lagu teh pa punten lirikna (enggak pantes lagunya pak, maaf liriknya," tulis akun Ji**n.

"Pengen tau dibalik maksud lagunya," tutur Pang*****ai.

"Saya sangat prihatin denger isi dari liriknya," kata tar****412.

"sebagai warga purwakarta saya malu:(," ujar ay**.

Atalia Praratya Kritik Keras Isi Lagu

Salah satu kritik datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia mengaku tidak menemukan nilai penghormatan terhadap perempuan dalam lagu tersebut.

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia.

Menurut Atalia, persoalan ini bukan semata mengenai selera seni atau kebebasan berekspresi.

Ia menilai pilihan diksi dalam lagu tersebut bertentangan dengan nilai budaya Sunda yang selama ini menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama.

"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," jelas Atalia Praratya.

Ia juga menyoroti bahwa perjuangan melawan budaya patriarki masih menjadi tantangan hingga saat ini.

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" pungkasnya.

Permintaan Maaf Bupati Purwakarta

Atas viralnya lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat ini Om Zein pun menyampaikan permintaan maafnya pada publik. Ia menyatakan jika lagu itu tak bermaksud membuat tersinggung pihak tertentu.

"Maaf jika ada pihak merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu itu murni cerita tentang diri saya sendiri," tutur Om Zein.




(tya/tey)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads