Jagat dunia maya dihebohkan viralnya video Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein dengan lagu sunda ciptaannya berjudul "Lalaki langit" (Lelaki langit), bukan karena enak didengar melainkan karena lirik lagunya yang dianggap menyinggung perasaan perempuan.
Berikut lirik lengkapnya :
Nuhun Gusti
(Terimakasih Tuhan)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakaaku jadi laki-laki)
Cacak mun jadi awewe
(Andai saja Jadi perempuan)
Es-Em-Pe kelas tilu
(SMP kelas 3)
Tos Karuron tujuh kali
(Sudah Keguguran Tujuh kali)
Nuhun Gusti
(Terimakasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
(Tidak usah keluyuran mencari apotek)
Alatan telat bulan
(Karena telat datang bulan)
Nuhun gusti
(Terimakasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Teú kudu ngalukis halis jeung bulu mata
(Tidak usah melukis alis dan bulu mata)
sakalina ngiceup hese beunta
(Sekali berkedip susah melek)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudan menciptakan aku jadi.laki-laki)
Teu kudu meuli kutang
(Tidak usah membeli bra)
Nu busana leuwih gede batan susu
(Yang busanya lebih gede daripada payudara)
Judul :
Lalaki langit
(Lelaki langit)
Lalanang bejad
(Lelaki bejat)
Viralnya video tersebut membuat Bupati Purwakarta angkat bicara, ia menjelaskan jika video dan lirik lagu itu, ia ciptakan pada tahun 2020 sebelum ia menjabat jadi Bupati.
Ia menjelaskan jika maksud lirik itu hanya untuk mensyukuri menjadi seorang laki-laki namun dalam kondisi yang dianggap kurang baik alias nakal.
"Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu, saya nakal dan bersyukur tuhan menciptakan saya jadi lelaki, mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa jaga diri," ujar Bupati Purwakarta saat dikonfirmasi detikJabar melalui pesan elektronik, Rabu (01/07/2026).
Om Zein sapaan akrabnya meminta maaf jika lirik lagu itu menyinggung perasaan perempuan, ia tidak bermaksud seperti itu dan tidak berpikir jika itu akan berdampak negatif.
"Maaf jika ada pihak merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu, namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu itu murni cerita tentang diri saya sendiri," katanya.
Dikritik Atalia
Salah satu kritik datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia mengaku tidak menemukan nilai penghormatan terhadap perempuan dalam lagu tersebut.
"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia.
Menurut Atalia, persoalan ini bukan semata mengenai selera seni atau kebebasan berekspresi.
Ia menilai pilihan diksi dalam lagu tersebut bertentangan dengan nilai budaya Sunda yang selama ini menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama.
"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," jelas Atalia Praratya.
Ia juga menyoroti bahwa perjuangan melawan budaya patriarki masih menjadi tantangan hingga saat ini.
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" pungkasnya.
(yum/yum)
