Kritik Pedas Atalia Praratya Soroti Lagu Kontroversial Bupati Purwakarta

Kritik Pedas Atalia Praratya Soroti Lagu Kontroversial Bupati Purwakarta

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Rabu, 01 Jul 2026 16:01 WIB
Atalia
Foto: Atalia (Adrial Akbar/BeritaKlik)
Bandung -

Atalia Praratya melontarkan kritik pedas terhadap lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" yang diciptakan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. Lagu tersebut menjadi viral di media sosial karena liriknya dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan.

Kontroversi bermula setelah potongan lirik lagu beredar luas di berbagai platform media sosial. Sejumlah warganet menilai isi lagu tidak sekadar humor, tetapi juga menyinggung persoalan biologis perempuan sehingga dianggap bias gender dan merendahkan perempuan.

Kritik dari Atalia Praratya pun menjadi sorotan publik karena menilai lirik lagu tersebut bertentangan dengan nilai-nilai budaya Sunda yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap perempuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atalia Praratya: Tidak Ada Penghormatan kepada Perempuan

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Anggota Komisi VIII DPR RI itu mengaku telah berusaha memaknai lagu tersebut dari berbagai sudut pandang. Namun, ia tidak menemukan nilai yang dapat dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan.

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia Praratya.

ADVERTISEMENT

Menurut Atalia, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut kebebasan berekspresi atau selera seni.

Ia menilai pemilihan diksi dalam lagu justru bertolak belakang dengan filosofi budaya Sunda yang selama ini mengedepankan nilai saling menyayangi, saling mendidik, saling membimbing, dan saling menghormati.

"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah.... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan.... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Sebodoh apa pun saya memahami budaya Sunda, saya tahu bahwa budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.... Dan saya percaya, budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," jelas Atalia Praratya.

Soroti Narasi Patriarki

Atalia juga menyoroti bahwa perjuangan melawan budaya patriarki masih menjadi pekerjaan besar di Indonesia.

Karena itu, ia mempertanyakan mengapa narasi yang dianggap bernuansa patriarkal justru muncul dari karya seorang kepala daerah yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat.

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" pungkasnya.

Lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" Jadi Perbincangan

Lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" menjadi viral karena beberapa bagian lirik membandingkan pengalaman menjadi laki-laki dan perempuan.

Beberapa lirik menyinggung persoalan kehamilan, keguguran, menstruasi, hingga penggunaan atribut perempuan. Hal inilah yang kemudian memicu kritik dari berbagai kalangan karena dinilai menjadikan pengalaman biologis perempuan sebagai bahan candaan.

Kontroversi tersebut memunculkan diskusi publik mengenai batas antara kebebasan berekspresi dalam seni dan penghormatan terhadap kelompok tertentu.

Penjelasan Om Zein

Menanggapi polemik yang berkembang, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein menjelaskan bahwa lagu tersebut merupakan refleksi atas perjalanan hidupnya sendiri.

Ia mengatakan lirik lagu itu berangkat dari rasa syukur karena diciptakan sebagai laki-laki, mengingat dirinya mengaku memiliki perilaku yang nakal pada masa lalu.

"Berawal dari renungan atas prilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal dan bersyukur tuhan menciptakan saya jadi lelaki, mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa jaga diri," ujar Om Zein.

Menurutnya, lagu tersebut tidak dibuat untuk merendahkan ataupun menyindir perempuan.

Om Zein Minta Maaf

Di tengah ramainya kritik, Om Zein juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat, khususnya kepada pihak yang merasa tersinggung oleh lirik lagu tersebut.

Ia menegaskan bahwa lagu itu murni menceritakan pengalaman pribadinya dan tidak ditujukan untuk menyinggung kelompok tertentu.

"Maaf jika ada pihak merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu, namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu itu murni cerita tentang diri saya sendiri," katanya.




(tya/tey)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads