Warga Kampung Cikurutug, Desa Cirendang, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi geger. Seekor macan kumbang dilaporkan tersangkut jerat babi hutan di luar kawasan Taman Nasional pada Kamis (2/7/2026).
Dalam rekaman video berdurasi singkat yang diabadikan warga di lokasi, terlihat bayangan hitam pekat dari macan kumbang tersebut. Tubuhnya tertahan di antara rimbunnya semak-semak tepat di dekat pagar pembatas rumput.
Baca juga: Rekap Bursa Transfer Persib Bandung Terbaru |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suara riuh kambing dan domba yang mengembik kencang karena ketakutan juga terdengar jelas, menandakan posisi sang predator sangat dekat dengan kandang ternak warga.
Meski sempat terjebak di area perbatasan perkebunan Sanghyang PT Yanita, macan tersebut secara dramatis berhasil meloloskan diri sesaat sebelum dievakuasi petugas. Hewan buas dilindungi itu kini telah kembali masuk ke habitatnya di area Gunung Koneng.
Berdasarkan keterangan warga setempat, Andri Firmansyah, peristiwa itu bermula saat warga memasang jerat untuk menghalau hama babi hutan yang kerap merusak pertanian. Nahas, jerat yang dipasang di jalur babi tersebut malah mengikat sang macan kumbang yang diduga sedang mengincar ternak warga.
"Jadi ceritanya itu teh, itu bukan di dalam kawasan ya, di luar kawasan Taman Nasional di daerah perkampungan warga. Tepatnya di Kampung Cirendang Atas, kalau orang sini bilang itu daerah Puncak Angin, tempat main kolecer (baling-baling bambu). Tapi masuk ke kawasan perkebunan Sanghyang PT Yanita," kata Andri saat memberikan keterangannya, Jumat (3/7/2026).
"Jadi ada warga masang jerat babi di jalur yang biasa dilintasi, cuman kebetulan di situ tuh ada kandang domba. Mungkin si hitam itu lewat, kena jerat," tambah Andri.
Mendapat informasi adanya satwa langka yang terjebak, tim dari Taman Nasional langsung diterjunkan ke lokasi siang tadi. Petugas rencananya akan melumpuhkan macan kumbang tersebut menggunakan senapan bius demi keamanan proses evakuasi.
Namun sayang, sebelum jarum bius bersarang di tubuhnya, sang macan mendadak berontak hingga jeratnya terlepas.
"Kemarin sudah ada petugas dari Taman Nasional, katanya mau dilumpuhkan menggunakan tembakan bius. Cuma enggak tahu terkesima atau gimana, macannya keburu jatuh terpeleset. Dan setengah satu (12.30 WIB) tadi, si kumbang itu berhasil melarikan diri kembali ke arah gunung, ke arah gunung melarikan dirinya," beber Andri.
Andri mengungkapkan, fenomena turunnya macan tutul maupun macan kumbang ke permukiman di perbatasan Desa Cirendang dan Desa Gandasoli ini sebenarnya merupakan siklus tahunan. Biasanya hewan-hewan ini turun gunung saat musim kemarau atau bertepatan pada bulan Safar akibat menipisnya ketersediaan makanan di atas gunung.
"Sebenarnya dia tuh 'anak soleh', cuman karena mungkin ketersediaan makanannya atau apalah, enggak tahu di gunungnya itu. Emang sering pribadi saya sendiri yang emang suka survival ke hutan, sering ketemu. Biasa gitu, jarak 100 meter lah ketemu. Biasa emang sering menampakkan," ungkap pria yang gemar menjelajah hutan ini.
Meski disebut 'anak soleh', dalam dua minggu terakhir macan ini ternyata sempat menebar ancaman dan memangsa hewan peliharaan warga di beberapa lokasi perbatasan.
Di daerah Cirendang, macan pernah turun ke sumber air permukiman untuk menggondol anjing warga. Macan ini juga sempat mengincar kandang ternak di daerah Cisagu, Desa Margalaksana, sebelum akhirnya kembali ke hutan.
Tak hanya itu, dua ekor anjing penjaga sawah milik warga di daerah Cijemlong juga dilaporkan raib digondol macan menjelang musim panen.
"Ketika ditelusuri oleh warga, termasuk sayalah ada di dalamnya itu, ternyata anjingnya itu sudah habis dimakan. Ada satu kilo ke atas dagingnya dibawa ke arah daerah Leuwi Awi, di situ ditemukan bekas-bekas si anjing yang dimakan itu," pungkasnya.
