Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi memberikan klarifikasi terkait video viral yang memperlihatkan warga menandu jenazah di tengah kegelapan akibat akses jalan yang rusak parah. Peristiwa memilukan ini terjadi di Kampung Cilampahan, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud.
Kepala Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Uus Pirdaus, menjelaskan bahwa secara administratif, ruas jalan yang dikeluhkan warga tersebut berada di luar wewenang pemerintah kabupaten.
"Kewenangan dan status jalan di Kampung Cilampahan, Desa Sumberjaya merupakan jalan dalam kawasan desa yang merupakan jalan yang menjadi kewenangan desa," ujar Uus saat dimintai konfirmasi, Selasa (7/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjelasan ini sekaligus menanggapi kritik warga mengenai perbaikan jalan sepanjang 6 kilometer yang dianggap tidak tuntas. Sebelumnya, warga menyebut pengaspalan baru menyentuh 500 meter, yang diklaim sebagai program Bupati Sukabumi Asep Japar. Uus menegaskan pihaknya tidak dapat mengintervensi pembangunan pada jalur yang bukan merupakan aset kabupaten.
"Terkait penanganan jalan yang belum tuntas, Dinas PU tidak memiliki wewenang untuk penanganan jalan yang bukan statusnya," tegas Uus.
Meski demikian, Uus mengakui bahwa ketimpangan infrastruktur di wilayah pelosok Sukabumi masih menjadi tantangan besar. Ia menyebut kendala utama terletak pada keterbatasan anggaran daerah yang tidak sebanding dengan luasnya wilayah yang harus ditangani.
"Kemampuan APBD dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur jalan masih sangat kurang dari kebutuhan. Luas wilayah dan kemampuan APBD tidak sebanding," bebernya.
Selain persoalan APBD, Uus mengungkapkan bahwa kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat turut memperlambat pemerataan pembangunan infrastruktur hingga ke tingkat desa.
"Kemudian adanya efisiensi dana transfer daerah dari pemerintah pusat, sehingga penanganan jalan belum dapat merata sampai ke pelosok-pelosok," pungkas Uus.
Tragedi ini bermula saat seorang pemuda, Dede Trisno (27), meninggal dunia di atas sepeda motor pada Senin (6/7) malam. Dede menghembuskan napas terakhir saat warga berupaya membawanya ke puskesmas untuk mengobati penyakit paru-paru yang dideritanya.
Kondisi jalan yang hancur membuat ambulans tidak dapat menjangkau kampung tersebut. Alhasil, warga terpaksa menandu jenazah Dede menggunakan kain sarung dan bambu dengan penerangan senter seadanya untuk dibawa kembali ke rumah duka.
Dalam rekaman video yang beredar, Tumang Wijaya Kusuma, warga yang merekam kejadian tersebut, meluapkan kekecewaannya. Ia secara terbuka menyentil slogan 'Jabar Istimewa' yang diusung Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
"Pak Dedi, ieu anu disebut Jabar Istimewa teh? Masyarakat arek ka rumah sakit nepi ka teu nepi, balik deui kusabab jalan goreng patut, nepikeun ka pupus di tengah jalan, (Pak Dedi, inikah yang disebut Jabar Istimewa? Masyarakat mau ke rumah sakit sampai tidak sampai, terpaksa balik lagi karena jalan rusak parah, sampai meninggal di tengah jalan)," keluh Tumang.
Menurut Tumang, kerusakan jalan eks-perkebunan tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun tanpa perbaikan berarti. Selama ini, ambulans hanya bisa menunggu di titik jalan yang layak, sementara warga harus bertaruh nyawa melintasi jalur berlumpur untuk mengakses layanan kesehatan.
(sya/dir)
