Pemkot Bandung mendiskualifikasi 80-90 siswa dalam SPMB 2026. Puluhan peserta itu kedapatan melakukan dugaan kecurangan dengan mayoritas pembuatan kartu keluarga (KK) hingga sertifikat atau piagam prestasi akademik yang palsu.
Setelah didiskualifikasi, Wali Kota Bandung memastikan puluhan siswa yang mayoritas masuk SMP itu tetap disalurkan ke sekolah lain. Mereka diakomodasi dengan dialokasikan ke sekolah swasta.
"Gini, kalau yang didiskualifikasi, saya sangat prihatin ya. Karena bagaimanapun juga itu anak-anak kita. Tapi Insyaallah ruang kelas dan kursi untuk sekolah swasta bagi mereka yang didiskualifikasi dari SPMB akan selalu tersedia," kata Farhan, Rabu (8/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Farhan menyatakan, saat ini jumlah kursi SMP sudah terpenuhi seluruhnya. Targetnya, akhirnya Juli nanti semua proses untuk SPMB telah selesai.
"Itu sudah diisi langsung oleh antrean, antreannya seueur pisan (banyak banget) itu mah. Langsung semua SMP negeri, Alhamdulillah, terisi dengan baik," tuturnya.
Farhan pun memberikan imbauan kepada seluruh orang tua siswa di Kota Bandung. Ia berharap, tindakan kecurangan itu tidak boleh lagi dilakukan karena berdampak fatal bagi anak-anak.
"Ya ginilah, saya mah hanya mengimbau kepada para orang tua untuk menghindari lagi yang namanya diskualifikasi. Saya menghimbau para orang tua jangan sampai mencari peluang-peluang yang justru nanti berdampak, yang kena dampaknya anak-anak, karunya," ucapnya.
Saat ini kata Farhan, Pemkot Bandung sedang memperhatikan kondisi sekolah yang blank spot di beberapa kecamatan. Rencananya, Pemkot akan menambah kembali sekolah untuk upaya pemerataan di wilayah.
"Yang paling mesti diperhatikan sekarang adalah tetap blank spot sekolah. Di beberapa kecamatan kadang cuma ada satu SMP, kadang tidak ada SMP. Kalau itu sudah terisi semuanya, baru kita akan berjuang untuk menambah SMP negeri di Kota Bandung secara masif. Kalau sekarang ada satu dua, tapi belum masif," pungkasnya.
(ral/yum)
